Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
100. Apakah karma tidak itu nyata?


__ADS_3

Sorry for typo and Happy reading.


***


Erina nampak sangat cantik dengan gaun pengantin mewah berwarna broken white. Meski gaun itu bukanlah gaun yang sesuai dengan desain keinginannya tetapi Erina tetaplah menyungingkan sebuah senyuman. Sebentar lagi ia akan mengarungi rumah tangga yang bahagia bersama dengab Ditya. Seorang lelaki yang bersedia menerima segala kekurangannya.


"Mungkin sekarang kamu bisa tersenyum, tapi lihat saja nanti! Jangan harap hari kamu tanoa tangisan."


Kalimat sarkas itu mencubit hati Erina, ia memang sama sekali tidak menoleh untuk melihat siapa yang datang ke ruang make up ini, tetapi dari pantulan cermin di depannya terlihat sang calon mertua bersedekap tangan dengan wajah yang sangat tidak bersahabat.


Erina tahu jika mertuanya ini memang tidak setuju dari awal. Ia sudah mewanti pada Ditya untuk tidak membeberkan seluruh masalalu buruk milik Erina, tetapi nyatanya Ditya berkata sudah mengatakannya pada ibunya.


Lalu ibu mana yang menerima seorang menantu dengan masalalu seburuk itu, Erina juga tahu calon mertuanya ini tidak akan menerimanya begitu saja. Karena itulah Erina bertekad untuk berusaha meyakinkan mama mertuanya suatu saat nanti.


"Ma, Erina akan berbakti sama Mama, Erina akan menjadi istri yang baik buat Ditya. Erina bukanlah Erina yang dulu, sekarang Erina adalah orang baru yang jauh berbeda dengan dulu."


"Cih, siapa yang kau panggil Mama itu? Aku tidak sudi disebut seperti itu! Dan kamu bilang kamu sudah berubah kan? Tapi yang namanya wanita sudah rusak itu selamanya tetap akan rusak, berubah sedemikian rupa pun tidak akan bisa."


Kalimat itu begitu menyakiti Erina, bayangan mendapatkan keluarga hangat dan saling menyayangi setelah menikah rupanya harus kandas sekarang.


"Kamu seharusnya bisa sadar, perempuan rusak seperti kamu tidaklah pantas bersanding dengan anak saya. Ditya itu sempurna dan kamu jauh dari kata sempurna, kamu seharusnya bisa bercermin Erina."


"Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi istri yang baik."


Mama terkekeh, ia melangkahkan kakinya mendekati Erina. Mendekatkan bibirnya ke telinga calon menantunya itu.


"Rupanya kamu tidak akan pernah sadar, tapi tenang saja selama itu saya tidak akan berhenti untuk menyadarkan kamu jika kamu tidak pantas untuk Ditya!"


Setelah mengucapkan kalimat itu mama melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan Erina yang air matanya mulai menetes. Sadar air mata itu akan merusak riasannya Erina dengan segera mengusapnya dengan tissue.


Tidak lama setelah mama keluar, Sisca masuk ke dalam ruangan make up. Acara pesta ini baru akan dilangsungkan satu jam lagi, sedangkan akad nikah sudah dilakukan tadi pagi.

__ADS_1


"Aduh kamu cantik banget, Rin."


"Makasih Mbak atas pujiannya, makasih juga bersedia datang."


"Mbak rasa kamu udah benar-benar berubah Rin, Mbak ikut senang. Semoga ke depannya kamu bisa menjadi lebih baik lagi."


"Iya Mbak, makasih ya doa nya ... eh iya Mbak, nanti aku udah punya suami, mbak punya saran nggak gimana caranya jadi istri yang baik."


"Ya pokoknya jadi istri itu harus melayani suaminya dengan baik, melayani dari semuanya, dari masak, bikinin kopi, nyiapin baju hingga melayani di ranjang."


Erina mengangguk, dahulu saat menikah siri dengan Rean ia sama sekali tidak melakukan kewajibannya tentu saja karena Rean yang tidak pernah datang, jika datang pun yang ada justru pertengkaran mereka.


"Terus ya Rin, kamu harus mengerti dengan benar suami kondisi suami kamu, misalnya lagi banyak masalah kerjaan ya kamu harus bisa ikut andil. Dan yang paling penting dan menjadi kunci rumah tangga adalah keterbukaan. Setelah menikah suami istri itu sudah menjadi satu orang, harus saling jujur dan mengatakan semuanya agar tidak terjadi salah paham dan hal lainnya."


"Makasih ya Mbak masukannya, aku pasti akan ingat semuanya."


"Yaudah turun yuk, tamu undangannya udah dateng semua tuh."


"Iya Mbak."


"Eh bentar, mbak mau ngomong berdua bentar sama Ditya boleh nggak?"


"Yaudah, aku tunggu sini."


Sisca dan Ditya masuk ke dalam ruang make up.


"Mbak cuma mau berterima kasih sama Ditya yang udah membimbing Erina sampai seperti ini. Mungkin tanpa kamu entah sekarang Erina sedang jadi apa. Mbak tau terimaksih aja nggak cukup Dit."


"Mbak saya membantu Erina keluar dari masalahnya dengan tulus, saya ikut senang melihat Erina bisa berubah menjadi seseorang yang lebih baik seperti ini."


"Tapi satu pertanyaan Mbak, apa kamu benar-benar mencintai Erina. Secara masalalu Erina seperti itu, dia juga bukan wanita yang cantik atau cerdas."

__ADS_1


Ditya terkekeh, entah mengapa sekarang semua orang mempertanyakan perasaannya yang Ditya sendiri tidak akan pernah yakin memiliki perhatian lebih pada Erina.


Kita semua tau sejak awal Ditya menyelam ke kehidupan Erina juga karena Raina, jika tidak mengenal Raina terlebih dahulu tentu ia tidak akan juga tertarik untuk membuat Erina berubah.


"Saya adalah orang yang paling tidak bisa untuk berbohong dan sebenarnya untuk masalah hati saya tidak bisa memastikan ada cinta untuk Erina."


"Lalu kenapa kamu menikahi Erina."


"Pernikahan adalah sebuah komitmen antara dua orang yang tidak selalu harus berlandaskan cinta. Saya ingin membangun rumah tangga bersama Erina, membahagiakannya agar saya juga memiliki rumah untuk pulang."


"Tidak, tidak seperti itu Ditya. Pernikahan tidak mungkin selamanya tanpa cinta, jika di awal kamu tidak menaruh rasa sedikitpun sebaiknya jangan dilanjutkan. Hanya akan ada luka jika terus dilanjutkan."


"Saya sudah mengatakan untuk membangun komitmen dengan Erina, adapun nanti cinta akan datang atau tidak adalah urusan nanti yang terpenting saya bisa bertanggung jawab. Simpelnya daripada saya harus susah payah mencari perempuan untuk saya nikahi, karena sudah ada perempuan baik disamping saya yang bisa untuk dijadikan seorang istri."


"Nggak bisa seperti ini Ditya, menikah itu harus dari hati bukan hanya berlandas komitmen dan tanggung jawab. Kita sudah ada contoh nyatanya, Rean yang tadinya berkata ingin bertanggung jawab atas Erina dan Ethan saja nyatanya juga tidak pernah menganggap Erina ada."


"Itu adalah contoh yang sangat berbeda, di masa lalu sudah jelas jika Erina yang menipu Rean, sedari awal Rean sudah tidak berniat untuk bertanggung jawab tetapi akhirnya ia menikahi Erina karena masih memiliki hati nurani. Sedangkan dirinya masih memegang kesetiaannya pada orang yang ia cintai, bukti kesetiaan Rean adalah tidak pernah menyentuh Erina selama mereka menikah siri."


"Tapi.... "


"Mbak tolong percaya sama saya."


"Mbak hanya bisa minta kamu untuk jaga Erina dan bahagiakan Erina. Terlepas dari semua kalimat yang tadi kamu katakan semoga kamu bisa mencintai Erina nantinya, Mbak nggak akan berhenti berharap kamu bisa mencintai Erina dengan baik."


...━━━━ P K M T M K━━━━━...


Suka dengan cerita ini?


Jangan lupa berikan like dan juga sebuah kalimat di kolom komentar sebagai bentuk aparesiasi, setiap jejak kalian sangat dihargai!


Terimakasih and love you full.

__ADS_1


With love,


Khalisa🌹


__ADS_2