
Suara mobil yang Raina dengar membuat wanita itu menghela nafas lega, kembali di tatapnya jam dinding sebelum ia melangkah keluar. Sekarang jam sudah menunjukan pukul satu siang dan suaminya itu baru saja pulang tanpa kabar apapun sedari pagi. Rean membuat Raina harus puas menunggu selama itu.
"Mas kamu dari mana aja? Aku khawatir banget loh, kamu ditelfon nggak bisa?"
Melihat raut wajah Rean yang kusut dan juga lingkar mata hitam itu, Raina langsung menarik Rean untuk duduk di kursi.
"Ethan udah nggak ada."
Raina membolakan kedua matanya, tadi malam Rean mengatakan harus pergi ke rumah sakit karena Ethan di rumah sakit tetapi tidak menyangka juga jika ternyata sekarang anak itu telah pergi.
Raina meraih lengan Rean, mengusapnya perlahan untuk menenagkan suaminya itu. Raina memang sangat membenci Erina, sangat-sangat benci, tetapi untuk Ethan Raina tidak membencinya anak itu tidaklah memiliki salah apa-apa hingga harus mendapatkan kebencian darinya.
"Umur nggak ada yang tahu, Mas."
"Aku gagal jadi ayah yang baik buat Ethan."
Raina menggeleng, menurutnya Rean bukanlah ayah yang buruk. Selama ini Rean sudah bertanggung jawab atas Ethan, memberikan kasih sayang dan juga seluruh kebutuhannya. Meskipun tidak bisa menemani anak itu selalu tetapi Rean juga tidak jarang menjenguknya.
Jika Rean bukanlah orang baik, mungkin ia tidak akan bersedia menikahi Erina hanya karena keberadaan Ethan.
"Enggak Mas, Ethan bangga punya ayah kaya kamu, seorang ayah yang tidak lari dari tanggung jawabnya meski keadaannya tidak memungkinkan."
Mengingat hal itu tentu saja Raina menjadi teringat pada kebohongan yang sudah satu tahun lamanya di sembunyikan oleh Rean.
"Meski kelahiran Ethan bukan menjadi keinginan aku, bahkan aku sama sekali tidak ingin anak itu ada. Namun, bagaimanapun tapi ia sudah lahir, dan ia buah hati aku. Aku tentu harus turut menyayanginya."
__ADS_1
Rean sama sekali tidak menginginkan Ethan, bahkan dulu berpikir untuk mengugurkan janin itu. Tetapi Ethan juga buah hatinya, yang manjadi tanggungannya sendiri. Dimana Rean juga harus memberikan kasih sayang yang sama besarnya untuk anak itu.
Karena Ethan adalah darah dagingnya.
Namun satu hal yang sangat ia sesalkan, mengapa Ethan harus lahir setidak beruntung itu. Awalnya ia lahir dari sebuah ketidak inginan, anak itu tidak pernah mendapatkan kasih sayang sedikitpun dari Erina. Yang notabennya adalah sebagai ibu kandung, lalu anak itu harus mewarisi penyakit jantung milik Rean dan harus meninggal karena pertolongan yang terlambat.
"Maaf ya sayang, aku malah bahas ini sama kamu."
Senyuman merekah di bibir Raina, "Enggak papa Mas, kita doain buat Ethan supaya dia bisa tidur nyenyak."
Setidaknya kepergian Ethan ini juga menghapus sisa-sisa bukti perselingkuhan Rean. Membuat Rean dan Erina semakin jauh jaraknya karena anak itu sudah tidak menjadi penghubung antara mereka.
***
"Mas liat deh ini!"
"Liburan?"
"Iya Mas, itu tuh aku sama temen-temen lagi bahas liburan, dan kita sepakat mau pergi liburan di kapal pesiar."
Kala kembali fokus pada labtobenya, "mahal Wi, mending buat-"
Belum sempat Kala menyelesaikan kalimatnya Dewi sudah memotong. "Kamu mah mendang-mending, kalau uang cuma buat naik kapal pesiar kamu pasti ada aku yakin itu ... Lagian kita kan belum bulan madu, sekalian bulan madu lah Mas, bulan madu di kapal pesiar gitu."
Biaya untuk sekali perjalanan kapal pesiar itu cukup menguras kantong, terlebih yang diperlihatkan Dewi ini jenis kapal pesiar mewah, jika uang memang ada tetapi kalau uang itu misalnya untuk pergi liburan ke jepang saja masih memiliki sisa.
__ADS_1
"Mas aku tuh pengen keliling dunia, kan enak nanti sekalian bulan madu."
Bukannya Kala pelit, tetapi perjalanan kapal pesiar itu juga membutuhkan waktu yang lama, dirinya baru saja diterima kerja dengan mengisi posisi yang cukup bagus. Baru satu minggu diterima kerja dan tidak mungkin jika ia harus meminta ijin satu bulan dengan alasan liburan, mana bisa seperti itu.
Kala bekerja di perusahaan orang bukan bekerja untuk perusahaannya sendiri, mengambil cuti satu bulan tentu hanyalah mimpi untuknya.
"Wi aku kan baru diterima kerja, nggak mungkin bisa ambil cuti."
"Masa nggak bisa sih Mas? Aku udah terlanjut setuju sama temen-temen aku buat liburan bareng di kapal pesiar, ya aku malu lah kalo tiba-tiba bilang nggak jadi ikut."
Kala menghela nafasnya, "ya kalau emang nggak bisa mau gimana lagi Wi? Emang kamu mau berangkat sendiri gitu?"
"Ih kok kamu gitu sih Mas, masa aku beramgkat sendiri nggak bener kamu nih."
"Kamu emang mau aku dipecat padahal baru dapet kerjaan ini?"
"Taulah Mas, aku bete sama kamu."
Dewi melangkahkan kakinya pergi, dirinya kesal karena Kala. Dewi sudah terlanjut setuju dengan diskusi para sahabatnya untuk liburan di kapal pesiar sama-sama. Tetapi malah gagal total seperti ini.
Kala hanya menatap sebentar kepergian Dewi sebelum kembali fokus ke labtobenya, Kala itu sabar. Dia sudah tahu sifat asli Dewi yang cukup egois seperti anak kecil ini, tetapi Kala selalu mengalah dan berdoa semoga wanita yang telah menjadi istrinya itu cepat berubah.
...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...
SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.
__ADS_1
THANKS AND SEE YOU....
^^^Central java, 01 January 2021^^^