
Berbagai hidangan sudah tersedia di meja makan itu, pembantu rumah tangga memasak banyak hidangan karena Rean dan Raina datang. Suasana makan berjalan hikmat hanya saja sedari tadi tatapan tajam mama terus tertuju lurus pada Rean.
"Papa denger-denger kamu punya kerja sama dengan Renjana group?"
Rean mengangguk membenarkan ucapan mertuanya itu, Renjana group adalah perusahaan milik Ditya.
"Iya Pa, proyek baru ini proyek besar. Perencanaannya juga udah dari tahun sebelumnya, saat ini kita lagi nyari perusahaan yang mau ikut menanam modal aja sih Pa diperusahaan baru ini."
"Target kamu perusahaan mana aja?"
"Target Rean sih ada 7 tujuh perusahaan yang di incar, dan alhamdulillah dari tujuh itu ada 3 yang setuju Pa."
"Baru tiga ya? Gimana kalau papa ikut masuk? Boleh nggak?"
Rean mengangguk, perusahaan ayah mertuanya ini adalah perusahaan yang cukup besar, jika ikut terlibat dalam proyek ini tentu sangat bagus.
"Boleh banget dong Pa, malah Rean seneng, jadinya udah nggak perlu cari 5 perusahaan lain lagi untuk bergabung."
"Kalau begitu besok ya adain pertemuan."
"Nggak Pa!"
Mama langsung berteriak tidak setuju mendengarkan ungkapan dari suaminya itu.
"Kenapa sih kamu Ma? Orang mau bantu anak masa nggak boleh." bisik Papa di telinga Mama.
Mama masih kesal dengan Rean, tetapi langsung terdiam karena tidak mau memperdalam masalah lagi.
Atmosfer ruangan itu tiba-tiba saja menjadi sunyi tiada obrolan, bahkan denting sendok pun terdengar sangat hati-hati dan pelan.
"Oh iya nanti buat syukuran 3 bulanannya Raina disini aja, gimana?" ucap Papa memecah keheningan panjang.
"Masih bulan depan Pa, udah dibahas aja." sungut Mama.
__ADS_1
Papa memperhatikan wajah Mama yang memang aneh dari biasanya, tidak ada senyuman hangat di bibir istrinya itu.
***
"Kamu kenapa sih Ma?"
Mama yang baru saja akan menaikan selimutnya langsung mengurungkan niatnya dan menatap lekat sang suami.
"Kenapa apanya Pa?"
"Kenapa kamu bersikap kaya tadi?"
"Mama nggak suka Papa bantuin Rean."
Papa menautkan kedua alisnya, "loh nggak suka kenapa?"
"Ya nggak suka."
"Rean tuh menantu kita Ma, dulu kan Mama juga yang ikut ngeyakinin Papa kalau Raina bakalan aman sama Rean. Kenapa Mama jadi aneh gini?"
"Ya biarin lah dia usaha sendiri."
"Kan Papa jalin kerjasama ini untuk bantu Rean, nggak rugi juga untuk kita malahan nanti ikut untung. Lagian nantinya juga perusahaan Papa ini kalau Nara nggak bersedia ngurus bakal Papa serahin ke Rean."
Anak mereka dua-duanya adalah perempuan, Nara saat ini sedang melanjutkan studynya dan belum lulus, jika lulus nanti entah Nara bersedia mengurus perusahaan milik keluarganya atau tidak.
Tapi kemungkinan besar Nara tidak bersedia, perusahaan itu adalah perusahaan besar yang tidak bisa dengan mudah dialihkan tangan ke orang yang baru masuk dunia bisnis. Terlebih Nara sepertinya tidak tertarik dalan urusan perusahaan, saat ini saja jurusan yang diambil Nara adalah jurusan psikologi. Ia bercita-cita menjadi seorang psikolig terkenal bukan mengurusi sebuah perusahaan.
Melihat keadaanya seperti itu, tentu pilihan hanyalah ada pada Rean dan juga calon suami Nara kelak. Tentu saja jika harus memilih, yang dipilih adalah Rean, Papa sudah sangat dekat dengan Rean dan juga Rean tentu memiliki pengalaman dalam hal mengurusi perusahaan. Sekarang saja perusahaan Rean sendiri sudah berada dalam puncak karirnya.
"Jangan Pa!"
"Mama ini sebenarnya kenapa sih?"
__ADS_1
"Kenapa Mama percaya banget sih sama Rean? Papa yakin Rean itu beneran baik sama Raina?"
"Ya pasti lah, Papa kan kenal Rean."
"Nggak! Sesuatu yang kelihatannya baik itu belum tentu baik Pa."
"Kamu beneran aneh hari ini."
"Pokoknya Mama nggak setuju kalau nanti perusahaan kita buat Rean, enak banget dong dia jadinya."
"Terus siapa Ma? Itu kan juga nanti kalau kita udah pensiun."
"Pokoknya nggak!"
Mama merapatkan dirinya ke dalam selimut dan langsung memejamkan mata, ia tidak perdebatan dengan suaminya ini lebih dalam lagi.
Sedangkan Papa hanya menatap Mama dengan pandangan bertanya-tanyanya, tentu saja hal ini adalah hal yang cukup aneh.
"Ada yang Mama sembunyikan ya dari Papa?" tanya Papa pelan, meski Mama sudah memejamkan mata, tapi ia belum tertidur.
"Ada sesuatu yang nanti akan Papa ketahui."
"Katakan sekarang Ma."
"Mama belum bisa mengatakannya sekarang."
"Kenapa?"
"Ya pokoknya nggak bisa Pa, tapi nanti Mama pasti kasih tau Papa."
...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...
SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.
__ADS_1
THANKS AND SEE YOU....
^^^Central java, 24 Desember 2021^^^