Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
Bagian 104


__ADS_3

Sudah satu jam dokter yang menangani Dewi belum juga keluar dari ruangan, tentu perasaan cemas mememuhi pikiran kedua orang tua Dewi. Menemukan putri mereka dengan pergelangan tangan tersayat dan juga darah yang sudah mengalir hingga ke lantai.


Akhirnya pintu ruang UGD terbuka, menampakan seorang dokter dengan gurat kelelahannya.


"Bagaimana Dok, keadaan anak saya?"


"Untung saja pasien dibawa ke rumah sakit tepat waktu, luka sayatan itu tidak begitu dalam tetapi tetap saja mengancam nyawa jika terlambat ditangani. Pasien akan dipindahkan ke ruang rawat ya Bu sebentar lagi."


"Terimakasih, Dok."


Dewi sudah dipindahkan ke ruang rawat, ia perlahan sadarkan diri.


"Mama, Papa."


"Apa yang kamu lakukan, Nak? Kenapa kamu melakukan itu?"


Dewi terdiam, jujur saja saat itu pikirannya sangat kalut. Ia berpikir macam-macam tentang bagaimana nantinya jika ia tidak bisa mendapatkan suami atau lain sebagainya. Mengakhiri hidup adalah hal yang ia pilih sebagai pilihan yang paling tepat.


"Dewi, kamu janga iya kaya gini?"


"Apa lagi, Ma? Hati aku sakit, sakit banget Ma saat tahu mas Kala mengunggat cerai aku. Aku nggak tau lagi harus gimana, Ma."


"Hanya karena Kala kamu kaya gini? Kamu nggak mikirin orang-orang yang sayang sama kamu? Papa sama mama kamu ini kamu anggap sebagai apa Dewi?"


"Aku—"


"Mama sama Papa sayang banget sama kamu, kita mau yang terbaik untuk kamu."


Dewi mengalihkan pandangannya, menatap angin kosong di luar jendela.


"Dewi, perbaiki diri kamu, kamu lihat apa yang salah dengan kamu sendiri sehingga bisa gagal dalam rumah tangga. Kamu harus bisa bercermin dan melihat diri kamu sehingga kamu bisa tahu dimana letak kesalahan kamu."

__ADS_1


"Apa aku salah, Ma? Aku cuma mau perhatian dan nggak mau mas Kala sampai selingkuh? Aku harus bercermin bagaimana?"


Mama adalah orang yang mengandung Dewi selama sembilan bulan sepuluh hari, begitu juga orang yang menyusui Dewi dan merawatnya hingga dewasa jadi ia sudah tahu betul bagaimana sifat putri tercintanya itu.


"Kamu salah! Jelas kamu salah, seharusnya kamu lebih bisa mengerti dan tidak terus mencurigai Kala. Tidak semua yang Kala lakukan itu sesuai dengan apa yang pikirkan, kamu tidak bisa selalu overthingking pada pasangan kamu Dewi. Coba buka mata kamu, lihat bagaimana orang-orang disekitae kamu berlaku begitu baik."


Air mata Dewi mulai menetes, menyadari jika selama ini ia memang terlalu overthingking pada Kala dan Raina. Ia selalu menganggap Raina sebagai orang yang akan menghancurkan rumah tangganya, padahal itu hanyalah pikiran liarnya saja. Nyatanya semuanya tidam berjalan seperti apa yang ia takutkan.


"Ma...."


"Mama pengen yang terbaik buat Dewi, kamu harus berubah berusaha menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Mama akan selalu berdiri di belakang Dewi untuk menuntut Dewi, tolong jangan lakuin lagi hal bodoh seperti bunuh diri."


Bagaimanapun jika sampai Dewi tewas karena bunuh diri, orang yang paling sedih tentu adalah mamanya. Ia adalah orang yang selama ini sangat mencintai putri semata wayangnya, kebahagiaan Dewi adalah kebahagiaannya.


Grebb,


Dewi memeluk mamanya, ia tahu meski seluruh dunia ini mebencinya  Mama tetap akan berdiri di sampingnya untuk membela dirinya.


***


"Jadi kamu udah puas sama cita-cita keliling dunianya?"


Selina menggeleng, ia tidak akan pernah puas dan merasa masih ingim menjadi relawan kemanusiaan seumur hidupnya. Tetapi Selina tentu tidak bisa seperti itu, ia juga menginginkan menjadi wanita yang seutuhnya, ia ingin menikah, memiliki rumah tangga bahagia dan juga menjadi seorang ibu yang bisa mendidik anak-anaknya.


"Sebenarnya nggak akan pernah puas, Dit. Tapi ya aku sadar kalau aku harus kembali kesini karena aku sendiri harus membuat kisah sama kamu disini, melanjutkan kisah kita dahulu."


Ditya mengamati dalam-dalam wajah cantik itu, semuanya masih sama. Senyuman lembut dan menanangkan itu selalu berhasil membiat tingkat kebahagiaan Ditya bertambah.


Selinanya masih sama cantiknya seperti dahulu, hanya saja sekarang bedanya adalah garis wajah itu terlihat lebih tegas. Kini gadis yang dahulu bersamanya sudah dewasa.


"Di Nigeria aku ketemu sama banyak sekali anak yang tidak mendapatkan makanan layak, anak-anak itu lucu banget, aku jadi pengen suatu saat kalau nikah punya anak yang banyak biar rumahnya rame."

__ADS_1


"Sel, sebenarnya ada yang mau aku omongin sama kamu."


Ditya sudah berniat untuk mengatakan semuanya pada Selina, ia ingin Selina tahu yang sebenarnya. Ditya sudah terlanjur salah mengambil keputusan, ia tidak ingin menyakiti siapapun disini.


Namun, apakah jika mengatakan itu pada Selina tidak akan membuatnya sakit hati juga? Selina kembali untuk dirinya, membuka lagi lembaran lama yang sempat tercerai.


Lelaki itu tertegun sejenak, ia kembali ragu untuk mengungkapkan semuanya.


"Apa yang mau di omongin?"


Apakah nanti kelanjutannya ia akan tetap bersama Erina sedangkan hatinya adalah milik Selina? Apakah selamanya ia terjerat seperti itu? Lalu bagaimana nanti jika ia melihat Selina menikahi lelaki lain, apakah dirinya bisa terima melihat itu?


"Aku—"


Tetapi bagaimana caranya untuk menemukan jalan keluar? Pernikahannya yang baru kemarin berlangsung tidak mungkin jika harus sekarang juga berakhir di pengadilan.


Tujuannya menikahi Erina adalah agar Erina bisa mendapatkan keluarga, lalu bagaimana wanita malang itu pasti akan semakin sakit jika melihat kenyataan yang terjadi di belakangnya.


Mungkin untuk saat ini menyembunyikan semuanya dengan rapat tidak akan menyakiti siapapun.


━━━━━ P K M T M K━━━━━


Bagaimana kira-kira keadaan Dewi?


Jangan lupa berikan like dan juga sebuah kalimat di kolom komentar sebagai bentuk aparesiasi, setiap jejak kalian sangat dihargai!


Terimakasih and love you full.


With love,


Khalisa🌹

__ADS_1


__ADS_2