Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
39. Kita benar-benar usai.


__ADS_3

"Kamu udah sebulan nggak temuin Erina?"


Rean mengangguk membenarkan ucapan Raina, meski dirinya masih bertanya-tanya juga mengapa Raina bisa tahu hal itu.


"Kamu tahu darimana?"


"Tadi pagi Erina kesini lagi. Mas kamu kenapa kurang ajar banget sih? Erina juga istri kamu, kenapa kamu tega kaya gini?"


Lelaki itu sudah cukup lelah mendengarkan Erina yang tiada hentinya menuntut banyak hal dari Rean. Erina sama sekali tidak bersedia untuk ditinggalkan, sedangkan Rean tidak ingin berhubungan lagi dengan Erina.


"Aku tetep kasih uang kok, malahan lebih banyak."


"Kamu nggak mikir ya, yang Erina butuhin itu kamu bukan cuma uang. Anak kalian masih bayi, kamu ayahnya, pantes emang pergi gitu aja?"


Sebenarnya kalimat ini enggan Raina ucapkan, menyuruh Rean pergi ke istri keduanya tentu sangat menyesakkan.


"Aku udah bilang ke Erina buat pisah dulu, "


Hari itu saat dihotel, Rean sudah mengatakan pada Erina untuk mengakhiri perniakahan siri mereka. Dia sudah cukup lelah menghadapi kenyataan yang terjadi, ia ingin semuanya selesai meski sedikit egois.


"Kamu gila Mas, besok temuin Erina. Jangan sampai Erina dateng kesini lagi."


***


"Pak siang ini kita ada pertemuan dengan Renjana group."


Helaan nafas keluar dari bibir Rean, ia hampir melupakan pertemuan pertama dengan perusahaan yang akan menjadi rekan kerjasamanya itu.


"Dimana?"


Sekretaris itu menunjukan sebuah alamat restauran pada Rean.


Kali ini rekan kerjasamnya itu meminta bertemu di restauran, bukan langsung di tempat meeting atau ruang pertemuan. Tetapi itu juga sudah biasa, membahas kerjasama sekalian makan siang.

__ADS_1


"Kita berangkat sekarang."


"Baik Pak."


Mobil itu melaju membawa Rean dan sekretarisnya untuk pergi menemui rekan kerjasama. Perjalanan membutuhkan waktu setengah jam sebelum mobil itu berhenti di sebuah retauran bintang lima.


Mereka berjalan ke ruangan khusus yang sudah dipesan, betapa terkejutnya saat Rean melihat siapa pemimpin dari perusahaan yang akan menjadi rekan kerjasamanya.


Dia tidak akan lupa dengan orang itu, orang itu adalah orang yang bersama Raina di depan Raja Ampat. Ingin sekali rasanya keluar dan membatalkan kerjasama, tetapi ikatan dua perusahaan ini akan menimbulkan kerugian besar jika dibatalkan.


Kerjasama sudah disusun dan biaya juga sudah cukup banyak dikeluarkan dari ikatan dua perusahaan ini. Tetap profesional dan mengesampingkan urusan pribadi menjadi pilihan.


"Senang bertemu kembali Pak Rean."


Rean hanya mengulas sebuah senyum, sebelum wajahnya kembali datar.


Pembicaraan tentang rencana proyek baru dilakukan, sembari menikmati makanan yang sudah di sediakan oleh pramusaji.


"Saya permisi sebentar."


Dengan segera Rean menarik Erina menjauh, menuju ke lorong kamar mandi agar wanita itu tidak macam-macam.


"Mas kamu gila ya! Udah sebulan loh kamu jauhin aku? Apa maksud kamu? Apa Mbak Raina yang minta itu?"


"Bukan salah Raina ini salahku, tapi terakhir kali kita ketemu aku udah bilang kalau hubungan kita berakhir."


"Aku istrimu loh, kamu gampang banget ya ngomong kaya gitu!"


"Berapa kali sih aku harus jelasin ke kamu?"


"Kamu tega Mas!"


"Kamu tenang aja, aku bakal tetep kirim uang buat kamu. Tapi maaf aku nggak bisa kembali ke kamu."

__ADS_1


"Gimana sama Ethan? Dia kangen kamu?"


"Saat kamu nggak di apartemen, aku beberapa kali datengin Ethan kok."


Tangan Erina mengepal, ia yakin babysitternya dan juga Rean telah bersekokongkol.


"Kamu kenapa sih mas nggak bisa sedikitpun hargai perasaanku."


"Kamu minta dihargai tapi nggak bisa ngerhagai perasaanku. Aku udah sangat tersiksa melihat Raina semakin hari semakin menjauh, aku nggak rela kalau sampai harus cerai sama Raina. Aku emang egois."


"Kamu cerai sama Mbak Raina kan masih ada aku, aku disini nungguin kalian cerai!"


Rean menggeleng, "waktu itu aku pernah bilang kan buat cari kebahagiaan kamu sendiri, kamu nggak bener-bener bahagia kalau rebut kebahagiaan orang kaya gini."


"Kamu jahat!"


"Iya, aku emang jahat."


"Mas apa susahnya sih, lirik aku?! Aku kurang apa di mata kamu?"


"Maaf Erina, aku nggak bisa hianatin Raina lebih jauh lagi."


Itu adalah kalimat terkahir Rean sebelum lelaki itu melangkahkan kakinya pergi.


Namun tanpa mereka sadari, sosok Ditya mendengarkan percakapan mereka dari awal hingga akhir.


...━━━━━ T O  B E  C O N T I N U E━━━━━...


SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.


THANKS AND SEE YOU....


^^^Central java, 07 Desember 2021^^^

__ADS_1


__ADS_2