
Air mata itu tidak hentinya mengalir, tatapannya tidak teralihkan dari seseorang yang berada di ranjang dengan berbagai alat medis yang menopang kehidupannya. Dua orang suster terlihat tengah memantau kondisi Rean sedangkan, Raina hanya bisa berdiri diluar dan melihat Rean yang terantara oleh sebuah kaca. Dokter belum menginjikan siapapun menjenguknya karena kondisi Rean masih berada dalam pantauan.
"Raina."
Sebuah suara mengalihkan perhatian Raina, tentu saja ia hafal itu adalah suara ibunya. Raina langsung berlari memeluk ibunya, menumpahkan semua tangisannya di pelukan ibunya itu.
"Ma...."
Mama melihat Rean yang berada di dalam ruang ICU itu juga terkejut.
"Apa yang terjadi?"
Raina bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan itu, lidahnya kelu hanya untuk menjawab apa yang menjadi penyakit Rean.
"Udah ya, jangan nangis lagi. Rean pasti baik-baik aja sayang."
Meski Rean pernah sangat mengecewakan mama, membuat mama benar-benar membenci Rean. Tetapi itu semua berkurang saat Rean membuktikan keseriusannya untuk tidak mengulangi perbuatannya. Rean lebih memilih Raina daripada perusahaannya, tetapi ia juga berusaha kembali untuk menyelamatkan perusahaannya agar Raina tidak hidup susah.
Mama sadar jika orang pasti pernah mengalami kesalahan, di satu sisi juga ia tahu betapa besar putrinya mencintai Rean.
"Bunda, Ayah dimana Bun?"
Raina melepaskan pelukannya dari mama dan segera menghampiri Mikaila, ia tadi memyuruh supir untuk menjemput dan mengantarkan Mikaila ke rumah orang tuanya. Tidak lupa ia juga menitipkan Mikaila agar bersama papanya tetapi kenapa sekarang anak itu justu ada disini.
"Loh kok Mikaila disini?"
"Kata Kakek ayah sakit, Mikaila mau lihat ayah Bun, ayah ada dimana?"
Wajah anak itu terlihat sudah ingin menangis. Sedangkan Raina mencoba menenangkan dirinya sendiri, menghapus air matanya. Tentu ia tidak boleh dalam keadaan sekacau itu di depan Mikaila yang anak itu akan ikut menangis.
"Ayah dimana, Bun?"
Raina mengangkat tubuh putrinya, agar pandangan anak itu dapat menjangkau melalui kaca seseorang yang terbaring di dalam ruangan.
__ADS_1
"Itu ayah?"
"Iya sayang."
Mikaila mengeluarkan air matanya, ia tentu tidak mau melihat ayahnya seperti itu.
"Ayah kenapa tidur disana, Bun?"
Tidak ada jawaban, Raina hanya mencoba menenagkan Mikaila dengan mengusap punggung anak itu.
"Bun ayah kenapa? Ayo kita ke ayah! Bun ayo!"
"Ayahnya lagi istirahat karena lagi sakit, nanti kalau udah sembuh Mikaila boleh ketemu sama ayah."
"Tapi kapan ayah sembuhnya?"
"Besok, kita doain sama-sama biar besok ayah sembuh."
"Iya Bun."
Anak itu menggeleng.
"Makan dulu ya, ke kantin sama kakek ya."
"Mikaila mau disini aja, mau lihat ayah."
"Iya, makan dulu biar punya tenaga, nanti habis makan jagain ayah disini bareng bunda."
Anak itu menggeleng.
"Sayang nurut ya sama bunda."
Akhirnya Mikaila mengangguk, beralih meraih lengan kakeknya lalu pergi ke kantin berdua.
__ADS_1
"Sini duduk dulu."
Mama mengajak Raina untuk duduk.
"Sebenarnya apa yang terjadi Raina?"
"Mas Rean ternyata punya riwayat penyakit jantung, aku nggak pernah tahu itu sama sekali Ma."
Mama mengenggam tangan Raina menenagkannya dari tangis.
"Apa mas Rean nggak percaya sama aku, sampai hal sebesar ini aku nggak tahu. Kenapa harus tahu saat kondisinya udah seperti ini."
"Udah, jangan nangis lagi kita berdoa yang terbaik aja ya."
Raina mengangguk, tentu ia tidak pernah lepas untuk mengharapkan Rean baik-baik saja. Ia ingin suaminya itu segera sadar tidak terbarinf dengan berbagai alat menompang hidup seperti ini.
"Kamu udah kabarin, mertua kamu?"
"Ah iya Ma aku lupa."
Tentu saja ia sampai tidak kepikiran untuk mengabari hal ini pada sang mertua.
"Kabarin sayang."
"Iya, Ma."
...━━━━━ P K M T M K━━━━━...
Suka dengan cerita ini?
Jangan lupa berikan like dan juga sebuah kalimat di kolom komentar sebagai bentuk aparesiasi, setiap jejak kalian sangat dihargai!
Terimakasih and love you full.
__ADS_1
With love,
Khalisa🌹