
Sorry for typo and Happy reading.
"Kamu udah beneran yakin sama keputusan kamu?"
Kala yang tadinya tengah menikmati secangkir kopi hitamnya pun langsung mengalihkan pandangannya.
Mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan sang ibu.
"Pernikahan adalah sebuah hal yang sakral dan juga perpisahan adalah hal yang paling dibenci Allah. Karena sebuah perpisahan bukan tidak mungkin kamu nanti akan mengalami sebuah trauma untuk menjalin hubungan kembali, apa nggak sebaiknya kalian masing-masing berbenah lagi, Dewi juga udah janji untuk berubah demi kamu."
Hari ini adalah medisi terakhir dari sidang perceraian Kala dan Dewi, tetapi sama seperti sebelumnya Kala lebih memilih untuk tidak datang dan mempercayakan semuanya pada pengacara.
Sudah berbagai upaya yang pihak Dewi lakukan agar perceraian itu tidak terjadi tetapi tentu saja tidak bisa membuahkan hasil apa-apa.
"Orang kaya Dewi nggak mungkin berubah, Ma."
Kala sudah mengenal betul tabiat Dewi, sangat malas rasanya jika harus kembali mengarungi biduk rumah tangga dengan wanita sejenis itu.
"Ya kan siapa tahu aja, emang kamu siap jadi duda."
"Jadi duda lebih baik buat saat ini."
"Kala, mama mau cucu loh. Sekarang kamu malah cerai kaya gini."
Sekalipun mereka tidak bercerai, melihat seperti apa Dewi. Rasanya belumlah bisa jika harus mengurus seorang anak.
"Doa in aja Kala dapat jodoh lagi, tapi yang tepat."
"Anak temen mam—"
"Ma.... Kala nggak mau ya dikenalin sama anak temen Mama lagi, biarin Kala cari sendiri wanita yang paling tepat untuk Kala."
Seperti kejadian kemarin saat pernikahan dadakan yang mamanya siapkan. Perkenalannya dengan Dewi masihlah sangat singkat, ia belum memahami benar karakter Dewi tetapi sudah diharuskan menjalin rumah tangga.
"Iya deh, Mama doain yang terbaik aja buat kamu."
***
"Aku mau kenalin seseorang sama Mama."
Ditya menunjuk Erina yang duduk disampingnya dengan sebuah dress bunga-bunga.
Sedangkan sedari tadi tatapan mama terhadap Erina terlihat sangat tidak mengenakan. Wanita itu tiada henti menatap Erina dengan wajah penuh selidiknya.
"Saya Erina tante, senang bertemu dengan tante."
__ADS_1
Mama hanya mengangguk pelan sebagai jawabannya.
"Kamu kerja apa?"
Mama adalah tipe orang yang akan menelusuri semuanya hingga ke seluk beluk. Sebelumnya Ditya tidak pernah membawa seorang wanita pun untuk diperkenalkan kepada mama. Tapi kali ini dengan beraninya membawa seseorang.
"Saya dulu bekerja menjadi sekretaris di Atmaja group, tetapi untuk sekarang saya tengah mencari pekerjaan lain Tan."
"Terus kenapa kamu bisa keluar dari pekerjaan lama kamu?"
Erina tentu gelagapan untuk menjawabnya, ia tidak mungkin mengatakan kejadian yang sejujurnya kepada mama Ditya.
"Itu.... "
"Maa, masa pertanyaanya kaya gitu sih." untung saja Ditya turut menyelamatkan.
"Enggak kok, Mama cuma pengen tau aja...." mama mengalihkan pandangannya pada Ditya. "mama mau ngomong sama kamu."
Mama menarik lengan Ditya dan membawanya ke dapur, untuk berbicara empat mata dengan Ditya.
"Wanita itu kekasih kamu?"
"Bukannya mama maksa aku buat nikah terus, dulu Mama ngomel terus kan waktu aku sama Alicia putus. Sekarang Ditya udah bawa calon menantu buat Mama."
"Tapi dia nggak cantik, kamu kan ganteng dan mapan, kamu seharusnya bisa mencari wanita yang super cantik."
"Ma, cantik itu relatif."
"Bukan hanya cantik, semuanya harus sempurna, kamu nggak bisa cari sembarang perempuan. Bebet, bibit dan bobot haruslah jelas."
Ditya mengernyitkan dahinya, dahulu mamanya sama sekali tidak peduli dengan calon istri Ditya. Yang mamanya inginkan hanyalah Ditya cepat-cepat mencari seorang wanita yang akan menjadi menantunya.
Namun, mengapa sekarang saat sudah ada seseorang yang ia bawa, mama justru menanyakan banyak hal seperti ini.
Itu semua justru karena yang datang adalah Erina, mama Ditya memiliki mata yang sangat jeli. Dahulu ia adalah seorang psikolog waktu masih muda, ia bisa membaca gerak-gerik seseorang, sehingga sering tidak langsung cocok dengan seseorang.
"Sejak kapan semuanya harus diukur, Ma."
"Kamu itu ngelawan terus ya kalau dibilangin."
"Aku nggak ngelawan, cuma nggak setuju sama Mama yang mandang seseorang dari bibit, bebet dan bobot. Gimana kalau orang yang latar belakangnya buruk terus sekarang udah berubah, apa dia nggak memiliki kesempatan buat disayangi?"
Berdebat dengan Ditya memanglah melelahkan.
"Yaudah terserah kamu, mama mau lihat kaya apa calon istri kamu itu, biarin mama ngobrol berdua sama dia."
__ADS_1
Ditya mengangguk membiarkan mamanya kembali ke ruang tamu.
Mama kembali duduk di samping Erina, menelusuri setiap jengkal tubuh dan wajah Erina.
"Siapa tadi nama kamu?"
"Saya Erina Tante."
"Erina, kamu harus tahu jika Ditya tidaklah pintar untuk urusan wanita. Dahulu ia memiliki kekasih bernama Alicia tetapi Alicia berselingkuh karena tidak dipedulikan oleh Ditya. Selain Alicia saya tidak tahu Ditya berhubungan dengan siapa lagi, karena sepertinya memang tidak ada."
Erina mengangguk menanggapi kalimat itu, ia memang sama sekali tidak mengetahui masalalu Ditya selain Ditya tidak pernah bercerita juga tidak ada foto atau benda lainnya yang menunjukkan Ditya pernah berhubungan dengan gadis lain.
"Setahu saya Ditya memang tidak banyak berhubungan dengan perempuan sebelum berkenalan dengan saya."
"Bagaimana bisa kalian bertemu?"
"Ditya adalah sosok malaikat untuk saya, ia menarik saya dari lubang hitam untuk kembali bangkit dan menjadi perempuan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Tanpa Ditya semuanya tidak mungkin."
Mama mengernyitkan dahinya saat mendapati sesuatu, karena kejelian matanya ia menyimpulkan sesuatu.
"Apakah kamu sudah pernah memiliki anak?"
Erina sangat ragu untuk menjawabnya, ia sangat ingin mengelak tetapi ia ingat jika sekarang dirinya bukan Erina yang dahulu penih keburukan.
"Iya tante, saya sudah pernah menikah dan memiliki anak tetapi naasnya anak saya sudah tiada."
Tentu saja mama terkejut mendengarnya.
"K-kamu seorang janda."
Mendengarkan kalimat yang sedikit mencubit hatinya itu Erina hanya bisa mengangguk dan menatap nanar lantai.
Apakah menjadi seorang janda begitu hina, hingga ekspresi mama Ditya sampai seperti itu?
...━━━━━ H E I S N O T A H U M A N━━━━━...
Gimana ya kira-kira, apakah mama Ditya akan setuju?
Jangan lupa berikan like dan juga sebuah kalimat di kolom komentar sebagai bentuk aparesiasi, setiap jejak kalian sangat dihargai!
Terimakasih and love you full.
With love,
Khalisa🌹
__ADS_1