
"... terus bu guru bilang kalau bertengkar itu nggak baik, Mikaila berarti bener kan Yah?"
Anak itu begitu semangat menceritakan kejadian kemarin saat disekolah kepada Rean, saat mereka berada di taman yang letaknya tidak jauh dari rumah orang tua Raina.
Kedua orang tua Raina tengah pergi ke sebuah pertemuan penting, sehingga menugaskan para pelayan dan memberikan pengamanan dengan 3 bodyguard penjaga gerbang agar Rean tidak masuk ke rumah. Dengan memohon kepada 3 penjaga gerbang dan melalui banyak usaha Raina akhirnya berhasil keluar membawa Mikaila dan mempertemukannya dengan Rean.
Raina tidak tega melihat raut murung anak itu.
"Ayah ada es krim, Mika mau eksrim."
Rean memberikan anggukan, lekas mengangkat tubuh kecil putrinya menuju ke penjual es krim.
Senyuman mereka di bibir Raina melihat sepasang ayah dan anak itu terlihat sangat bahagia.
Tidak lama kemudian mereka berdua kembali ke kursi taman dengan sebuas es krim di lengan anak itu.
"Itu bukannya Tini, temennya Mikaila?"
Raina menunjuk anak kecil yang tengah berjalan mendekat ke arah mereka.
"Hai Mika main yuk!"
Mikaila yang tengah duduk di pengkuan Rean itu terlihat tidak tergerak.
"Tuh diajakin main, sana main."
__ADS_1
Mikaila menggeleng, ia tengah melepaskan rindu pada ayahnya.
"Kenapa nggak mau Mika? Nanti Tini kenalin sama temen-temen Tini." ujar Tini.
"Nanti Ayah pergi kalau Mikaila ke sana."
Rean mengusak surai anak itu, "enggak, ayah nggak kemana-mana, ayah bakal disini nungguin Mika."
"Janji?"
"Iya janji."
"Kalau gitu Mikaila main dulu, dada ayah, dada bunda."
Rean lekas merebahkan dirinya di paha Raina membiarkan kaki panjangnya menjuntai ke bawah, wajahnya menghadap ke perut Raina. Sesekali lelaki itu mengecupi perut yang berisi buah hati mereka itu.
"Hai jagoan ayah, apa kabar?"
Raina membingkai wajah Rean yang masih terlihat luka bekas memar kemarin, tetapi sekarang kantung mata tebal nampak begitu jelas di bawah matanya.
Bibir pucat dengan wajah layu itu seakan menyatakan jika Rean tidak baik-baik saja.
"Mas kamu nggak tidur ya semalam?"
Bagaimana sempat untuk memejamkan mata jika pikiran Rean selalu tertuju pada Raina dan anaknya, ditambah lagi masalah pekerjaan yang menuntut untuk ia kerjakan selama semalam penuh.
__ADS_1
"Tidur kok sayang." kalimat dusta itu nyatanya tidak bisa Raina percayai.
"Jaga diri kamu, Mas. Aku nggak mau kalau kamu sampai sakit. Kalau soal masalah kita ini kamu tenang aja ya, papa pasti bakal percaya lagi."
"Iya sayang."
"Aku pokoknya mau pulang ke rumah, terserah papa mau ngomong apa."
"Jangan, aku cari kepercayaan papa dulu."
Kalau Raina memaksa untuk pulang bersama Rean tentu nanti yang akan disalahkan adalah Rean, justru Rean yang semakin tidak mendapatkan kepercayaan dari papa Raina.
Papa akan dengan mudah menyeret Raina pulang dan selanjutnya justru akan semakin marah dengan Rean.
"Maaf ya Mas, justru saat ada masalah perusahaan seperti ini aku nggak bisa disisi kamu, malah masalah baru datang."
"Ini semua kan emang salahku, aku udah siap buat nerima ini sayang."
Sesiap apapun Rean sebelumnya ia tetap tidak akan pernah bisa jika harus berpisah dari Raina. Dunianya adalah Raina dan Rean akan melakukan apapun demi bisa bersama Raina.
***
Maaf pendek ya bund, nanti saya up lagi kelanjutannya kalau sempet nulis hehe. Jangan lupa like, dan komennya ya, terimaksih sudah mampir and see you.
^^^Cental java, 29 Januari 2022^^^
__ADS_1