Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
77. Jangan menyerah Kala.


__ADS_3

Kala menikmati sarapannya dengan cepat, ia ingin cepat-cepat pergi keluar karena malas berada di rumah. Ia malas melihat wajah Dewi yang selalu tertekuk untuknya itu, semenjak minggu lalu mereka ribut mengenai liburan kapal pesiar itu, Dewi masih marah pada Kala.


Lelaki itu sudah beberapa kali membujuk Dewi agar istrinya itu bisa mengerti tentang pekerjaan Kala, tetapi Dewi tetap saja marah dan mendiami Kala.


Hari ini hari libur dan karena sudah menyerah dan tidak bisa berbuat apa-apa, Kala lebih memilih untuk berjalan-jalan keluar mencari angin, daripada harus melihat Dewi dengan wajah tidak menyenangkannya.


Setelah menghabiskan sarapannya, Kala beranjak memgambil jaket dan kunci mobilnya.


"Mau kemana kamu, ini kan hari libur Mas!"


"Keluar bentar cari angin."


Setelah itu Dewi tidak menyahut lagi, membiarkan Kala keluar meski hatinya menjadi tambah dongkol.


Kala memutuskan untuk membawa mobilnya ke sebuah danau buatan yang berada di samping taman kota, menurutnya danau itu menjadi hal yang menangkan untuk dilihat, pas sekali untuk menangkan pikirannya.


Meski itu adalah danau buatan tetapi cukup luas dengan pepohonan dan rerumputan hijau di sekeliling danau. Kala mengambil posisi duduk di rumput teki pinggiran danau, dan menatap lurus ke arah danau.


"Hai, Kala."


Tiba-tiba saja Raina datang dan duduk di samping lelaki itu.


"Eh Raina kamu disini juga?"


"Iya tadi aku duduk disana, eh terus liat kamu dateng." Raina menunjuk ke sebuah kursi panjang yang memang disediakan di pinggiran danau.


"Sendirian aja Na?"


"Sama mas Rean sama Mikaila juga, tapi mas Rean lagi nemenin Mikaila main di taman tuh."


Pandangan Raina menelisik, mencari keberadaan Dewi yang memang tidak ada.


"Loh kamu sendirian aja, Dewi nggak ikut."


Kala menggeleng, "enggak ikut."


Melihat wajah Kala yang terlihat banyak pikiran itu Raina melunturkan senyumannya, dia sangat mengenal Kala sebagai sahabatnya yang selalu bersemangat dan selalu menganggap masalah-masalahnya itu bukanlah hal berarti untuknya.

__ADS_1


"Ada masalah Kal? Cerita gih, aku siap jadi telinga gratis."


Kala terkekeh mendengarkan itu, "enggak ada, Na."


"Cerita aja, seseorang itu memang butuh tempat berkeluh kesah. Kan kalau aku lagi ada masalah juga seringnya ke kamu, sekarang gantian dong kamu harus lari ke aku juga kalau ada masalah."


Kala memindai hati-hati wajah Raina, memang benar ia membutuhkan tempat untuk membagi masalahnya. Dengan harapan sedikit mendapatkan keringanan dan ucapan semangat dalan menjalani masalahnya.


"Soal Dewi pasti ya?" ucap Raina karena Kala tidak kunjung menjawabnya.


"Kok kamu tahu sih, jangan-jangan kamu peramal Na."


Raina tertawa, "iyalah, masa aku nggak tahu masalah sahabatku sendiri."


"Aku minta maaf ya atas nama Dewi kalau perkataannya mungkin sedikit menyinggung kamu, tapi kamu nggak perlu dengerin dia ya."


Bukan sedikit lagi, namun hampir semua perkataan Dewi selalu menyinggung Raina. Perkataan pedas tanpa saringan itu selalu berhasil membuat Raina kesal dan malas untuk berbicara dengan Dewi lagi.


"Enggak papa, aku paham. Tapi hubungan kalian baik-baik aja kan?"


Selama ini Kala selalu mengalah, ia tidak pernah marah pada Dewi dan selalu meminta maaf setelah mereka bertengkar. Tetapi Dewi tidak hentinya membuat mereka terus bertengkar.


Bukannya Kala takut dengan Dewi sehingga dia meredam amarahnya dan diam, Kala hanya tidak ingin menimbulkan pertengkaran besar dalam rumah tangganya yang baru seumur jagung itu.


Jika bisa ia ingin sekali mengubah Dewi menjadi lebih baik lagi, tetapi itu sama sekali tidak berhasil. Jangankan membuat Dewi berubah, untuk memahami sikap Dewi yang seperti itu saja Kala kesulitan.


"Semakin kesini Dewi semakin sulit untuk dimengerti."


Raina mengenal Kala sebagai seseorang lelaki yang cukup sempurna, dari segi manapun tidak ada yang kurang. Lelaki itu sangat sabar, dan juga yang pastinya setia dengan janjinya tetapi malah mendapatkan istri macam Dewi. Cantik sih, tapi sifanya nauzubilah.


"Mungkin kamu harus lebih romantis untuk mendapatkan hati Dewi, lalu semakin masuk ke dalam diri Dewi agar kamu bisa mengerti lalu mengubah Dewi."


"Udah Na, tapi jangankan masuk, aku aja bener-bener nggak ngerti dengan sikap Dewi yang menurutku aneh."


Tentu saja, siapapun tidak ada menyangka ada orang yang seegois Dewi. Seseorang yang mau menangnya sendiri dan tidak pernah mau untuk kalah sedikitpun dalam hal apapun.


"Jalani aja dulu, kalau beneran nggak bisa, ya mau nggak mau harus pisah."

__ADS_1


"Aku tuh pengennya nikah cuma sekali aja, tapi ya kalau keadaannya kaya gini mungkin nggak papa aku harus akhiri pernikahan ini."


"Jangan buru-buru ambil keputusan juga Kal, kasih waktu lagi, siapa tahu Dewi bisa berubah."


"Iya Na, makasih ya mau jadi pendengar yang baik."


"Alah kayak sama siapa aja."


"Terus sekarang ini Dewi lagi marahan kenapa?"


"Dia ngajakin liburan di kapal pesiar, tapi kan aku baru diterima kerja, libur satu bulan itu nggak akan mungkin kecuali setelahnya aku langsung dipecat kan. Kan lucu banget kalau aku kehilangan kerjaan gara-gara liburan."


Tentu saja sangat disayangkan jika Kala harus kehilangan pekerjaanya gara-gara liburan, setelah dipecat dari perusahaan ternama dengan cap buruk tentu setelahnya Kala akan sulit mendapatkan posisi sebagus kerjaannya saat ini. Jangankan posisi jika sudah di cap buruk tentu mencari pekerjaan di perusahaan lain sebagai apapun sudah sulit.


"Em.... buat bujuk dia, kamu ajakin aja liburan romantis ke yang deket aja berdua doang gitu. Ya sehari nggak papa, yang penting marahannya bisa surut dulu. Kalau di diemin mah mana bisa hilang marahannya."


"Kemana ya kira-kira."


"Atau gini aja, kamu bikin gitu ke tempat romantis gitu, misalkan makan malam romatis atau apa. Mungkin Dewi bisa hilang marahnya."


Kala menganggukan kepalanya. "Ide yang bagus."


"Aku ada rekomendasi tempat makan romantis, biasanya itu disewa buat ungkapin perasaan. Tetapi mungkin bisa juga kan buat bujuk Dewi."


"Iya Na, nanti kirim aja ya lokasi tempatnya ke aku."


"Iya Kal, semoga aja Dewi bisa baikan lagi ya sama kamu."


Tentu Raina juga menginginkan yang terbaik untuk Kala. Ia akan sangat bersyukur jika Dewi bisa berubah menjadi lebih baik lagi.


...━━━━━ T O  B E  C O N T I N U E━━━━━...


SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.


THANKS AND SEE YOU....


^^^Central java, 01 January 2021^^^

__ADS_1


__ADS_2