Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
60. Posesif.


__ADS_3

"Ayok Mas, aku udah selesai dandannya."


Senyuman Rean luntur saat melihat penampilan Raina malam ini, bukan karena dandanan istrinya memalukan untuk pergi pesta. Tetapi justru Raina terlihat sangat cantik dengan sebuah dress dengan lengan bagian leher dan punggung terbuka, pakaian itu sepanjang lutut itu membuat pinggang ramping Raina terlihat sangat sempurna.


Rambut Raina yang dicatok separuh curly terurai dengan bagian kanannya ia berikan jepitan di belakang telinganya. Make-up yang Raina poleskan ke wajahnya tidak terlalu berlebihan, tetapi justru membuat wajah wanita itu lebih hidup dan cantik.


"Kamu yakin pakai baju seketat itu?"


"Ini nggak ketat banget Mas."


"Iya tapi jelek, ganti gih!"


"Kok jelek sih, ini bagus Mas lihat deh aku jadi cantik." Raina berpose layaknya model yang berjalan lenggak-lenggok di depan Rean.


"Ganti!"


"Mas kenapa sih? Ini tuh mumpung perut aku masih rata, jadi masih cocok pake baju ketat, beberapa bulan lagi perut aku udah gede, nanti pakenya pasti yang nutupin badan Mas."


Di minggu-minggu awal kehamilannya ini perut Raina masih rata dan badannya belum mengembang, tapi nanti saat memasuki usia kandungan 20 minggu ke atas tentu yang dipakai hanyalah daster dan baju-baju yang memiliki ukuran besar. Mana bisa pakai dress yang ketat jika perutnya nanti sudah menggelembung.


"Tapi aku nggak mau orang-orang lihat indahnya bentuk tubuh istriku."


Rean selalu risih melihat tatapan nakal lelaki lain pada istrinya, selalu saja Raina menjadi sasaran tatapan genit mereka saat Rean mengajaknya ke pesta seperti yang akan mereka datangi saat ini.


"Ya justru bagus, kamu harus seneng dong orang-orang tahu kalau kamu punya istri cantik."


"Tapi nanti kamu jadi banyak nglirik, di pesta nanti banyak banget yang dateng-"


"Nanti aku nempel sama kamu terus, kan tujuan aku ikut biar kamu nggak digodain orang."


"Yaudah deh yuk kita berangkat,"


"Eh bentar Mas ngomong sama mbat Tati dulu, takut nanti tiba-tiba Mikaila bangun terus nyariin."


"Mbak, Mbak Tati."


Tidak begitu lama mbak Tati sudah berada di hadapan mereka, "Iya Pak, Bu."


"Mbak kita mau pergi, nitip Mikaila ya, nanti kalau misal tiba-tiba dia bangun."

__ADS_1


"Iya Bu, siap."


"Yaudah makasih ya Mbak."


Selanjutnya mereka langsung berangkat menuju ke pesta itu.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membawa mereka ke sebuah balroom hotel ternama di sana. Lokasinya tidak cukup jauh dari rumah Rean dan Raina, hanya sekitar 15 menit saja sudah sampai disana.


Begitu memasukinya, suasana sudah ramai orang-orang dengan berbagai pakaian bagus hadir, karena tidak adanya dresscode khusus jadi semua yang hadir juga mengenakan warna sesuai kehendak mereka.


Di ujung ada sebuah panggung yang dihiasi sedemikian rupa, terlihat juga yang tengah berulang tahun tengah bernyanyi bersama aktris yang menghibur.


"Eh Mas aku mau ke kamar mandi dulu ya bentar."


"Yaudah ayok."


"Masa kamu mau ikut ke kamar mandi, sana tunggu di meja sana."


"Sayang nanti kalau-"


"Alah udah kesana ah, aku sebentar aja kok."


Rean hanya menatap punggung Raina menjauh, sebenarnya ia ingin mengantar Raina untuk memastikan keamanan istrinya itu, tapi ya sudahlah. Lagi pula kamar mandinya masih terlihat dari tempatnya berdiri sekarang.


"Wah banyak banget ya yang dateng, Fi."


Fifi mengangguk, sesuai dengan janjinya waktu itu Fifi mengajak Agatha ke pesta dalam rangka mencari cowok yang tepat untuk Agatha.


"Ini tuh pesta sweetseventeennya anak dari pemilik Wirawan group, yang dateng itu lebih banyak rekan kerja dan temen-temen ayahnya itu daripada temen orang yang ultah."


"Oh gitu, brati yang dateng para orang-orang kantoran?"


"Iyalah makanya pesta ini itu tempat paling pas buat nyari laki buat lo, yang dateng kan bos-bos muda terus cowok-cowok ganteng. Pokoknya nanti lo harus dapet yang sempurna."


Fifi dan Agatha semakin melangakahkan kakinya ke dalam. Fifi mendapatkan undangan pesta ini karena suaminya, sebenarnya suaminya yang dapat undangan, tapi digunakan oleh Fifi untuk mengajak Agatha masuk. Pasalnya Agatha yang memiliki masalah dalam percintaan itu memang harus dibantu.


Jari Fifi lekas menunjuk perkumpulan orang berjas yang tengah menikmati minuman di sebuah meja, dari perkumpulan itu ada yang tua ada juga yang muda.


"Liat deh orang-orang itu, itu cowok yang pake jas putih belum nikah kelihatan rambutnya kelimis banget, terus yang sampingnya juga kelihatan dari bajunya yang super rapi, jadi-"

__ADS_1


Belum sempat Fifi menyelesaikan kalimatnya Agatha sudah menyela. "Nggak waras lo, masa liat status orang dari rambutnya klimis atau nggak. Ilmu darimana itu Fifi?"


"Diem deh lo, gue itu udah berpengalaman kalau masalah percowokan, ikutin gue aja...." perhatian Fifi teralihkan pada seorang lelaki yang duduk sendirian di meja dekat prasmanan, "eh liat itu, ada cowok duduk sendiri, kita samperin aja."


"Kita yang nyamperin Fi?"


Fifi mengangguk, "Ya iyalah, kita kesana terus ngajak kenalan, ya kalau perlu pepet-pepet dikit."


"Kok kesannya murahan banget ya."


Fifi langsung mencubit lengan Agatha yang membuat gadis itu meringis.


"Kok murahan, itu tuh namanya trik. Ini tuh pesta Agatha, kita bebas mau ngapain aja, dan masalah ngedeketin cowok itu kaya gitu caranya."


"Tunggu aja kek ada kebetulan. Misalnya tabrakan berdua gitu kaya di drama korea."


"Yee, kalo itu mah lo yang stres. Realitanya tabrakan di dunia nyata itu sakit terus marah-marah bukannya pandang-pandangan terus jatuh cinta. Mikir pake dengkul ya gitu."


Agatha sudah tidak mendengarkan ocehan Fifi ia justru fokus ke lelaki yang tadi ditunjuk Fifi, dimana meja yang tadinya kosong, kini sudah diisi oleh seorang wanita.


"Eh liat noh udah ada yang ke meja cowok itu."


Cowok di meja dan wanita itu terlihat sedang berjabat tangan dan saling berkenalan.


"Halah kalah start kan, lo sih ngomong mulu."


"Lo yang ngomong terus Fifi."


"Udah-udah cabut cari yang lain yuk."


Saat Fifi dan Agatha melangkah tiba-tiba saja Agatha bersenggolan dengan seorang lelaki yang membuat minuman di tangan lelaki itu harus tumpah dan sedikit mengenai lengan jas nya.


"Eh maaf Mas, saya nggak sengaja."


Segera Agatha membantu lelaki itu membersihkan jasnya dengan tissue. Pandangan Agatha terpaku pada paras mengesankan milik lelaki itu, rahang tegas, hidung mancung dan bibir tebal itu berhasil membuat Agatha meneguk ludahnya.


...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...


SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.

__ADS_1


THANKS AND SEE YOU....


^^^Central java, 22 Desember 2021^^^


__ADS_2