
"Papa dapat kabar kalau perusahaan Rean mendapatkan musibah."
Sang istri seperti tidak terlalu peduli dengan topik yang diberitahukan, ia masih sibuk membalik lembar demi lembar dokumen kerja.
"Gudang utama Atmaja group kebakaran, kerugaiannya pasti sangatlah besar. Saat ini Atmaja group berada di titik kritis."
Helaan nafas keluar melihat tanggapan yang nampak acuh itu, "Ma, Mama denger kan papa ngomong apa?"
Wanita paruh baya itu menegakkan kepala agar pandangannya langsung bertemu dengan sang suami.
"Ya baguslah, Pa. Biar tau rasa Rean itu."
Kernyitan di dahi papa muncul, tanggapan macam apa itu?
"Loh kok Mama bilang gitu?"
Mama tidak menjawab, ia kembali fokus pada lembar-lembar dokumen di tangannya.
"Ma, gimana kalau kita bantuin dana ke perusahaan Rean?"
Rean adalah tipe orang yang tidak akan mungkin meminta bantuan langsung kepada orang tuanya sekalipun dia dalam kesulitan. Ia akan tetap berusaha sendiri dengan semua kemampuannya.
Menurutnya itu adalah perusahaan miliknya yang haruslah ia usahakan sendiri bukan menyusahkan orang tuanya. Jika bisa membantu bukan justru menyusahakan.
"Jangan!"
"Ma, Rean anak kita juga loh."
"Bukan!"
Tentu saja Papa merasa aneh dengan perlakuan isterinya, setahunya wanita itu adalah orang yang sangat menyayangi Rean, menganggap anak itu sebagai anaknya sendiri karena memang merekan tidaklah memiliki anak lelaki.
Tetapi saat ini mengapa Mama justru seperti sangat membenci Rean.
"Mama kenapa sih?"
"Biarin aja Rean bangkrut, jadi gelandangan yang nggak punya apa-apa."
"Loh kok kamu ngomong kaya gitu, gimana sama Raina dan cucu-cucu kita kalau Rean bangkrut?"
__ADS_1
"Ya justru bagus, nanti biat Raina pulang."
"Ada yang Mama tutupi dari Papa?"
Sepintar apapun bangkai disembuyikan pasti akan tercium juga, terlebih perilaku Mama sangat menunjukan jika memang ada masalah antara Mama dan Rean.
"Memang ada tapi Mama nggak bisa kasih tahu."
Mama masih ingat jika Raina sampai memohon-mohon agar Mama menyembunyikan masalah ini dari Papa.
Raina akan mengatakan langsung semuanya tetapi tidak sekarang, Raina menunggu waktu yang tepat.
"Apa itu Ma?"
"Mama nggak bisa kasih tau Pa."
"Itu tentang Rean?"
"Ya,"
Tentu saja papa dibuat sangat penasaran, masalah apa yang membuat mama semula menganggap Rean seperti anaknya sendiri sekarang terlihat begitu membeci Rean.
"Katakan, Ma!"
"Papa berhak tau, jangan bikin papa kaya orang bodoh yang nggak tau apa-apa."
Pandangan Mama meredup, nyalinya sedikit menciut melihat sang suami mulai menggunakan nada tinggi.
"Mama!" bentak papa.
Barulah setelah kalimat dengan nada tinggi itu, mau tidak mau mama harus memberitahukan masalah besar itu.
"Rean selingkuh, udah setahun yang lalu Rean memyembunyikan perselingkuhannya dari Raina. Tetapi papa tahu sikap Raina? Dia justru memaafkan kesalahan besar Rean itu!"
Papa tetkekeh mendengarnya tentu saja dirinya tidak pecaya sama sekali, selama ini Raina tidak pernah sama sekali terlihat mengadu kepada dirinya ataupun terlihat sedih.
"Mama jangan bercanda."
"Mama nggak bercanda, Rean itu nggak sebaik yang terlihat bahkan dia sudah memiliki satu anak dengan selingkuhannya itu!"
__ADS_1
"Nggak mungkin, Ma. Papa udah percaya sama Rean."
"Mama awalnya juga nggak percaya, sampai mama lihat dengan mata kepala mama sendiri selingkuhan Rean itu datang kerumah. Mama saksi hidup yang melihat itu."
"Mama serius?"
"Serius Pa, mama punya buktinya."
Mama segera mengambil sebuah ponsel dari tas berlogo huruf C itu, selanjutnya ia menyecroll galeri miliknya.
Membuka sebuah foto yang menampilkan Erina yang tengah duduk bersama Erthan dan sang babysitter.
"Mama udah nyelidikin tentang selingkuhan Rean. Namanya Erina, dia dulunya adalah sekretaris Rean, setelah mereka menikah Erina berhenti jadi sekretaris, makanya ada sekretaris baru untuk Rean."
Papa yang meraih ponsel itu terkejut, wanita dalam foto itu dulunya memang ia kenal sebagai sekretaris Rean.
"Rean bilang perselingkuhan itu tidak sengaja, mana ada yang namanya tidak sengaja, Pa. Terlebih Rean menyembunyikan perselingkuhannya selama satu tahun, satu tahun loh, itu bukan waktu yang sebentar."
Papa memijit pelipisnya pelan, selama ini ia sangat percaya pada Rean. Melihat seperti apa perlakuan Rean pada Raina, dan seberapa besar Rean mencintai Raina, rasanya tidak mungkin jika Rean berselingkuh.
Papa sudah berulang kali, bahkan tidak ada lelahnya mengingatkan pada Rean untuk selalu memperlakukan Raina seperti tuan putri.
Selama ini Raina juga tidak terlihat sedih ataupun memberitahu jika rumah tangganya sedang tidak baik-baik saja.
"Mama juga tahu Rean membelikan apartemen mewah untuk selingkuhanya, dia dan anaknya tinggal disitu, diberi nafkah dan selalu Rean kunjungi."
Prangg,
Barang-barang di meja kerja itu langsung berhamburan karena saluran emosi papa, amarahnya memuncak saat merasa gagal mempercayai Rean.
Papa paling sayang dengan Raina, anak kesayangannya itu selalu ia jaga seperti tuan putri bahkan begitu sulit saat melepaskan putrinya untuk menikah dahulu.
"Mereka harus cerai, Pa! Orang yang sudah pernah selingkuh itu pasti akan selalu mengulang-ulang perbuatannya itu. Mama nggak rela Raina diperlakukan seperti itu."
Tanpa sepatah katapun papa melangkahkan kakinya dari ruangan itu.
...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...
SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.
__ADS_1
THANKS AND SEE YOU....
^^^Central java, 13 January 2022^^^