
Raina tidak hentinya mondar-mandir di depan pintu kamar, menunggu Rean sampai lelaki itu kembali. Jam sedari tadi sudah menunjukkan pukul delapan malam tetapi lelaki itu tidak kunjung kembali.
Biasanya Raina sudah mengunci pintu kamar agar Rean tidak tidur dengannya, tapi kali ini tidak, karena ada mertuanya tentu mereka haruslah tidur dalam satu kamar.
Tidak lama pintu kamar terbuka menampakkan Rean dengan setelan kemeja putih dan jasnya tersampir di lengan kanan.
"Mas kenapa kamu nggak tolak permintaan Mama sih?"
Itulah kalimat pertama yang menyambut kepulangan Rean.
"Gimana caranya? Kamu tahu kan Mama—"
"Ya cari alasan lah, kamu sibuk atau apa gitu. Emang nggak bisa banget ya cari alasan?"
Sebenarnya Rean tidak menolak permintaan mamanya dan justru senang karena dia rasa moment pergi berdua nanti siapa tahu dapat meluluhkan kembali hati Raina. Ia masih sangat berharap sekali bisa menebus kesalahannya pada Raina.
Namun, Rean tidak memiliki ide untuk membujuk wanita yang paling dicintainya itu.
"Kamu kan bisa bilang lagi nggak bisa ambil cuti, kenapa kaya gini aja harus aku yang kasih tau sih."
"Apa kamu beneran nggak bisa maafin aku?"
__ADS_1
Raina menggelengkan kepalanya.
"Kamu pikir dengan kata maaf kamu semuanya selesai? Enggak Mas!"
"Sayang—"
Raina mengalihkan pandanganya, lalu kakinya mulai melangkah karena merasa jengah berhadapan dengan Rean. Tetapi tangan wanita itu dicekal oleh Rean, cengkaram yang kuat hingga membuat Raina tidak bisa melepaskan tangannya.
"Sayang, waktu itu beneran salah paham. Aku mabuk dan tiba-tiba udah sekamar sama Erina, Erina hamil dan mau nggak mau aku harus tanggung jawab."
"Hanya karena pernyataan yang nggak tau hanya karangan kamu atau benar itu aku harus percaya? Nggak semudah itu Mas, kamu udah berhasil hancurin kepercayaanku dan aku nggak bisa semudah itu buat percaya lagi sama kamu. Satu tahun itu nggak sebentar loh Mas dan selama itu kamu udah hianatin aku."
"Aku tahu aku salah besar, tapi aku juga punya alasan."
Namun, Rean terlalu pengecut untuk mengatakan semuanya pada Raina, dia justru memendam itu semuanya sendiri, menjadikan beban untuk dirinya yang pada akhirnya juga membuat masalah semakin besar.
"Apa alasan kamu? Biar bisa bangga gitu punya dua istri, biar bisa nyombogin diri gitu, ngerasa paling sempurna?"
Rean diam, yang dikatakan Raina itu sama sekali tidak menjadi alasannya. Alasan paling kuat ia ingin menyembunyikan kebohongan ini hanya karena takut jika Raina akan meminta cerai. Hati Rean selalu diliputi kegelisahan karena terus berbohong pada Raina, tapi tidak ada yang bisa ia jelaskan karena saking tidak inginnya kehilangan Raina.
Raina adalah sumber kebahagiaannya, orang yang ia janjikan untuk diberi kebahagiaan. Sedikitpun Rean tidak ada niatan untuk menyakiti wanita itu.
__ADS_1
"Aku harus ngapain biar kamu maafin aku? Aku ceraikan Erina terus kamu mau maafin aku?"
Menceraikan Erina tentu masih menjadi pertimbangan Rean, dia masih menitikberatkan pada Ethan yang masih bayi. Anak itu membutuhkan Erina dan kasih sayang ibunya.
Namun, jika hanya hal itu yang bisa membuat Raina memaafkannya Rean akan lakukan. Tidak apa ia menjadi ayah paling jahat, tapi Raina tetap yang harus menjadi prioritasnya.
"Menceraikan Erina tidak akan merubah apapun, aku udah nggak mau ada hubungan sama kamu selain suami istri diatas kertas. Setelah Mikaila sedikit besar, kita langsung urus perceraian."
"Raina kasih aku kesempatan kedua."
Raina menggeleng, selanjutnya wanita itu melangkahkan kakinya pergi.
Rean sudah pernah membohonginya, jadi Raina sudah enggan untuk percaya. Bahkan kalimat jujur tentang bagaimana Erina hamil itu sudah tidak Raina percaya sedikitpun.
Kepercayaan Raina pada Rean sudah hilang.
...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...
SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.
THANKS AND SEE YOU....
__ADS_1
^^^Central java, 17 November 2021^^^