Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
58. Kala selalu sabar.


__ADS_3

Aroma wangi sudah tercium dari dapur itu, sebuah hidangan dalam piring sudah siap disajikan di meja makan. Dua piring masakan lainnya sudah dibawa ke meja makan, sedangkan hidangan utamanya masih dalam proses pencicipan.


"Aku harus cicipin dulu."


Dewi mengambil sendok dan lekas menyedok satu daging ke mulutnya, senyuman mengembang di bibirnya.


"Gila enak banget, resep dari Mama emang paling bener."


Mama yang mendengarnya tersenyum, hari ini mama Dewi datang untuk membantu putrinya memasak. Sebenarnya bukan mamanya yang membantu, tapi Dewi yang membantu mamanya karena yang memasak mama, Dewi hanya motong-motong dan membantu.


"Yaudah Mama pulang dulu ya, pasti suami kamu itu seneng banget masakannya seenak ini."


"Iya Ma, besok kesini lagi ya bantuin aku masak."


"Besok Mama ada arisan."


Dewi mengerutu, "terus gimana dong kalau hari ini aku bilang sama mas Kala kalau ini masakan aku, terus besok kalau aku yang masak nggak enak seenak ini makananya."


"Nanti kamu beli aja makanan di restoran, terus bilang itu masakan kamu. Mama punya beberapa rekomendasi masakan restotan ala rumahan, nanti Mama kirim di wa kamu."


"Ide yang bagus Ma."


"Yaudah Mama pulang dulu ya."


"Iya Ma."


Dewi membawa sepiring daging sapi itu ke meja makan, sekarang ketiga hidangan itu sudah lengkap. Yang pertama ada kerang dara saus padang, yang kedua sup bihun dengan udang dan hidangan utama yang dimasak paling banyak adalah daging sapi tumis sayur hijau.


Dewi masih menganggap Raina berbohong dan tetap memasak daging, sesuai dengan rencana awalnya.


Setelah senyumannya itu terkembang, ia langsung melangkahkan kakinya pergi ke ruang tamu untuk menyambut Kala.

__ADS_1


Melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul tujuh malam yang berarti Kala sebentar lagi akan pulang, membuatnya tersenyum senang. Sudah terbayang bagaimana nanti Kala akan memujinya karena masakannya super lezat.


Benar saja suara deru mesin mobil Kala tiba di halaman, dengan sumringah Dewi menyambut suaminya itu.


"Udah pulang Mas."


"Iya,"


"Kamu mandi ya sekarang, aku udah siapin makan malam, aku tunggu kamu di ruang makan."


Kala mengangguk, "iya Wi."


Dengan perasaan senangnya Dewi menunggu di ruang makan, setelah menunggu kurang lebih lima belas menit akhirnya Kala sampai di ruang makan.


"Lihat Mas, aku masakin hidangan spesial buat kamu."


Kala melunturkan senyumannya saat melihat tiga hidangan itu diatas meja.


Dewi yang tengah semangat lekas mengambilkan nasi ke piring Kala, tak lupa menyendokkan beberapa lauk ke piring Kala.


Kala mengangguk, tidak ingin berdebat dengan iya Dewi Kala memasukkan nasi ke mulutnya, hanya nasi putih tidak dengan lauknya.


"Tadi aku ketemu mbak Raina di minimarket, kamu harus kalau mbak Raina itu sengaja mau rusak rumah tangga kita, masa dia bilang kamu nggak suka daging, buktinya sekarang kamu makan kan."


Kala menghentikan aktivitanya mendengarkan hal itu.


"Eh Mas, dagingnya belum kamu icipin, makan dong Mas ini enak banget beneran."


"Raina bener, aku emang nggak suka daging dan aku alergi seafood. Jadi ketiga menu masakan kamu ini aku nggak bisa makan Wi." Kala tetap dengan nada tenang mengatakan itu, tidak sama sekali marah.


"Kok kamu jadi belain mbak Raina."

__ADS_1


"Bukan belain Raina, tapi emang bener aku nggak pernah makan daging karena nggak suka Wi."


"Mas kamu jangan ngada-ada deh!"


"Udah kita nggak usah berantem cuma karena makanan, aku makan nasi putih aja nggak papa kok."


"Ya tapi kamu nggak hargain aku yang udah masakin makanan ini buat kamu."


Kala memijit pelipisnya, ia sudah sangat mengalah dan tidak marah dengan apa yang Dewi masak, tetapi justru Dewi yang marah bsar padanya. Padahal seharusnya mengenai makanan, Dewi bisa bertanya pada ibu Kala tentang makanan apa saja yang Kala sukai dan Kala alergi dengan makanan macam apa, seharusnya Dewi bertanya.


Kala sangat tidak menyukai daging sapi, dengan baunya saja Kala sudah sangat tidak suka, apalagi jika harus memakannya.


"Nggak ada orang yang mau makan makanan yang enggak dia sukai Wi."


"Aku udah capek loh Mas masak ini, tapi kalau kamu nggak mau makan mendingan dibuang aja!"


Dewi mengambil satu persatu hidangan itu dan membuangnya ke tempat sampah, sedangkan Kala yang melihatnya hanya diam. Tidak memiliki niatan sedikitpun untuk marah ataupun mencegah apa yang Dewi lakukan.


"Aku nggak mau masak lagi buat kamu, nggak peduli kamu mau makan atau nggak! Biar aja kelaperan, orang dimasakin kok nggak ngehargain."


Setelah mengucapkan itu Dewi melangkahkan kakinya pergi, Kala masih terdiam ia tidak memandang kepergian Dewi dan hanya memamdang datar meja makan yang sudah bersih tak bersisa.


Hampir setiap hari mereka bertengkar, Kala sudah berusaha menghindari pertengkaran dengan diam. Tetapi itu tidak menyelesaikan semuanya, akhirnya akan sama yaitu Dewi marah-marah dan membuang wajahnya.


Namun hal itu hanya akan terjadi sebentar, esok paginya Dewi akan tersenyum lagi tetapi sore nya mereka bertengkar lagi.


...━━━━━ T O  B E  C O N T I N U E━━━━━...


Kurang sabar apa Kala ini?


SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.

__ADS_1


THANKS AND SEE YOU....


^^^Central java, 22 Desember 2021^^^


__ADS_2