Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
Bagian 109 (End)


__ADS_3

Tangisan itu tidak berhenti bersamaan juga dengan air shower yang menguyur, malam sudah begitu larut tetapi Erina masih tidak ada niatan untuk beranjak dari sana. Tubuhnya sangatlah dingin begitu juga dengan telapak tangannya yang mulai mengeriput.


"Kenapa aku harus mengalami ini sih? Mengapa semuanya tidak adil?"


Dikecewakan saat ia sudah berusaha untuk berubah sangatlah menyakitkan, hatinya sangat rapuh dan tidak menerima semua kesakitan ini.


Meski kesalahannya memanglah tidak termaafkan tetapi ia sudah berusaha untuk berubah, membuka lembaran baru untuk merubah segalanya.


"Semuanya tidak adil?"


Pertanyaan itu ditujukan untuk dirinya sendiri, mungkin bukannya ini tidak adil untuk dirinya tetapi semua ini harus adil.


Semuanya harus adil seperti siapa yang menanam maka ia yang akan menuai. Jika yang dia tanam keburukan lalu ia baru sadar di saat ia panen tentu yang akan ia panen adalah keburukannya bukan kebaikannya.


Erina terlalu terlambat untuk berubah sehingga karma itu harus menimpanya. Jika menjadi jahat dan juga benalu dalam rumah tangga orang tanpa balasan tentu siapapun mau pergi menggoda bos tampan dan menjadi simpanan mereka. Jika tidak ada yang namanya karma maka seseorang itu tidak akan ragu untuk melalukan hal buruk itu.


Erina sudah menyakiti banyak orang, ada air mata, perjuangan dan juga sakit hati yang disebabkan oleh wanita itu. Lantas, apakah para korban itu mau memaafkan Erina begitu saja meski Erina telah berubah?


Semua kesakitan itu begitu nyata, bagaimana usaha mati-matian Rean untuk memulihkan rumah tangganya tentu tidak bisa dilupakan begitu saja.


"Apakah ini balasan untukku? Di rumah tanggaku juga harus ada orang ketiga? Tapi aku tidak bisa, aku tidak kuat untuk diselingkuhi seperti ini."


Erina sangatlah percaya dengan Ditya, lelaki itu yang membawanya pada jalan yang benar, lantas haruskah Ditya juga yang meyakiti Erina begitu dalam?


"Kenapa harus kamu Dit? Kenapa?!"


Dari luar kamar mandi terdengar Ditya yang terus menerus memanggil Erina, ia menggedor pintu kamar mandi tetapi tidak kunjung dibuka oleh Erina.


"Rin, buka!"


Setelah beberapa menit usahanya tidak membuahkan apa-apa, Ditya langsung mendobrak pintu kamar mandi.


Dia mendapati Erina duduk di bawah guyuran air shower yang menyala, tubuhnya sudah basah kuyup.


Dengan segera Ditya mematikan air shower.


"Kamu ngapain sih?"


Erina tidak menjawab, pandangannya masih kosong, terarah panda lantai tetapi sebenarnya tidak sedang memandang lantai.


"Rin, kamu ngapain kaya gini?!"


"Kenapa harus kamu?"


Erina sedikit menaikan pandangannya, menatap ke arah Ditya dengan tatapan tajamnya.


"Kenapa harus kamu, Dit?"


Tubuh Ditya mendadak kaku, tentu ia tidak bodoh sehingga tidak paham kalimat dari Erina. Erina mengatakan itu yang berarti sudah mengerahui semuanya.

__ADS_1


"Sayang banget dari banyaknya orang harus kamu, padahal kamu itu malaikat penolongku."


"Aku bakal jelasin semuanya, tapi kamu keringin dulu tubuh kamu."


"Dit-"


"Ayo."


Ditya membantu Erina berdiri, tentu ia tidak ingin Erina sakit karena kedinginan.


Ditya menunggu Erina selesai berganti pakaian diluar kamar, tidak begitu lama hanya sekita beberapa menit saja sudah selesai.


Kejujuran memang menyakitkan tetapi semuanya akan lebih baik jika diceritakan dengan jujur. Ditya tentu tidak ingin menyembunyikan semua itu begitu lama.


"Awalnya aku nikahin kamu bukan karena cinta, aku pengen memberikan sebuah keluarga hangat untuk kamu karena saat itu satu-satunya kakak kamu juga sudah pergi dari kamu. Aku yakin cinta itu bakal datang belakangan."


Erina hanya terdiam mendengarkan hal itu, ia memang sudah mengira jika Ditya tidak memiliki perasaan lebih padanya. Ditya memang peduli padanya tetapi Erina juga tahu yang mana hanya sebatas peduli dan yang mana cinta.


"Tapi ternyata aku salah, aku belum bisa berdamai dengan masa laluku dan sehari setelah kita menikah wanita itu kembali. Aku nggak bisa menolak hatiku, dia wanita yang sudah pergi membawa separuh hatiku dan saat dia kembali tentu semuanya masih akan sama...."


"Ini semua salahku, aku benar-benar minta maaf karena tidak memikirkannya jauh-jauh hari. Tapi kamu tenang aja, besok aku akan mengatakan padanya jika aku sudah menikah."


"Jadi yang orang ketiga adalah aku?"


"Bukan gitu Rin, aku mengakui semuanya jika semua ini salahku, kamu dan dia cuma korban."


"Tapi aku nggak bisa jika harus jadi benalu lagi dari hubungan seseorang, aku bersedia bercerai dengan kamu. Kamu harus kembali ke cinta kamu, hidup bahagia dan tidak harus selamanya terikat sama aku."


"Kamu nggak perlu khawatir soal aku, aku sudah benar-benar berubah, aku bukan lagi Erina yang dulu. Aku tidak akan merusak rumah tangga orang karena sekarang kehidupan aku sudah jauh lebih baik."


"Apa ini benar-benar keputusan kamu? Aku akan tetap bersama kamu jika kamu meminta."


"Nggak boleh, aku nggak mau hanya bersama raga kamu sedangkan hati kamu milik orang lain."


"Aku benar-benar minta maaf."


"Bukan Dit, ini bukan salah kamu. Tidak ada yang tahu tentang kapan wanita itu kembali ataupun akan seperti apa rumah tangga kita kedepannya. Ini memang sebuah takdir yang harus kita lalui."


"Kamu meminta kompensasi apa, atas semua yang sudah terjadi?"


"Aku nggak minta apapun. Semua yang telah terjadi ini memang takdir, kamu juga nggak tahu kalau dia akan kembali. Bagaimana pun kamu tetaplah orang paling berjasa dalam hidupku, kalau bukan karena kamu, mungkin aku tidak tahu aku masih dalam lubang yang seperti apa."


***


"Sebenarnya kamu mau bawa aku kemana sih, Mas?"


"Sebentar hampir sampai."


Kedua mata Raina ditutup, dengan Rean yang setia menuntun setiap langkahnya. Rean memastikan Raina tidak tersandung batu dan berjalan dengan benar.

__ADS_1


Rean berkata ingin memberikan kejutan tanpa Raina tahu sekarang ini tengah dimana, hanya saja sekarang angin terasa sangat kencang dan dingin karena memang ini sudahlah malam.


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai, Rean membuka tutup mata itu dengan perlahan.


"Sekarang kamu udah boleh buka mata."


Hal pertama yang wanita itu lihat berhasil membuatnya mengangga, malam ini mereka tengah berada di bibir pantai, tetapi pantai itu telah disulap menjadi tempat super romantis.


Sebuah meja dan kursi tempat makan yang dihiasi dengan bunga-bunga indah, ada pula rangkaian bunga di samping tempat itu.


Taburan kelopak bunga mawar merah juga menghiasi sepanjang jalan menuju kursi membuatnya seperti red carpet.


Disini tidak ada orang sama sekali hanya ada mereka bedua.


"Wah bagus banget, Mas."


"Ayo sini."


Rean meraih lengan Raina dan mengajaknya untuk duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


Semua hiasan begitu indah dan juga semerbak bunga ini terasa lebih menyejukkan karena berbackground langsung ombak dan juga pantai pasir putih.


Sebuah kue berbentuk bulat dengan hiasan mawar dari fondan itu berada si meja, terdapat lilin dengan angka tujuh diasana. Ada juga beberapa hidangan yang tersaji.


"Hari ini adalah tepat tujuh tahun pernikahan kita, selama ini rumah tangga kita sudah pernah mengalami kebahagiaan dan juga kesusahan, semua itu sudah berhasil kita lewati, sayang."


"Tanpa berbagai masalah itu kita tidak akan menjadi kuat, kita dapat banyak perlajaran juga dari sana Mas untuk kedepannya selalu terbuka sebesar apapun masalahnya."


"Iya aku janji, Sayang. Dan makasih untuk segalanya, makasih sudah menerima aku dan semua kekurangan aku selama ini. I love you."


"Love you too."


"Kita tiup lilinnya bareng-bareng."


Fiuhhh,


Lilin itu mati setelah beberapa harapan di hati mereka masing-masing terucap, tentu harapan mereka tidak lah berbeda jauh.


Hanya menginginkan agar cobaan apapun yang akan terjadi ke depannya dapat mereka lalui tanpa adanya perpecahan.


Saling mencintai dan berharap untuk bersama selamanya sampai maut memisahkan.


━━━━━ P K M T M K━━━━━


Jangan lupa berikan like dan juga sebuah kalimat di kolom komentar sebagai bentuk aparesiasi, setiap jejak kalian sangat dihargai!


Terimakasih and love you full.


With love,

__ADS_1


Khalisa🌹


__ADS_2