
Sorry for typo and happy reading,
"Kala sekarang akan pulang dan jelasin semuanya."
Klik,
Setelah kalimat itu Kala memutuskan sambungan telepon terlebih dahulu. Ibu menghela nafasnya panjang, sedari beberapa hari lalu ia memang sudah menduga jika rumah tangga anaknya sedang ada masalah. Akhir-akhir ini Kala lebih sering mengunjungi rumah seorang diri.
"Mas Kala pasti selingkuh, Ma. Aku harus gimana?" air mata turun, membahasi pipi merona itu.
"Sabar Wi, kita dengerin penjelasan Kala dulu."
"Tapi aku yakin, Ma! Mas Kala udah nggak pulang selama tiga hari loh dan itu kan nggak sebentar."
"Mama yakin Kala bukan orang yang seperti itu, Kala nggak mungkin hianatin kamu sayang."
"Ya emang mas Kala nggak mungkin, tapi gimana kalau ada pelakornya? Rumah tangga mbak Raina itu berantakan dan pasti dia lari buat rebut mas Kala."
"Wi, mama kan udah bilang, jangan nuduh Raina. Mama kenal banget sama Raina dan dia nggak mungkin kaya yang kamu tuduhin."
"Seseorang itu bisa berubah, Ma!"
"Udah, udah kita tunggu Kala pulang dulu."
Ibu mengelus pundak Dewi, berharap menantunya ini segera menghentikan tangis dan menenangkan dirinya.
"Ma jangan Mentang-mentang mas Kala anaknya mama terua mama belain kaya gini! Disini aku korbannya tolong mama harus adil dong."
Ibu tentu terkejut mendengarkan kalimat itu, ia tidak bermaksud membela Kala karena bagaimanapun Dewi sekarang itu adalah anaknya juga.
Tetapi prinsip ibu adalah tidak ingin mendengarkan suatu hal dari satu pihak, ia juga harus mendengarkan penjelasan dari Kala dahulu baru bisa memutuskan untuk memarahi siapa.
Jika memang putranya salah, ia tentu akan memarahi dan menasihatinya. Tetapi Kala belum tentu salah, karena terakhir kali mereka bertemu Kala sedikit menyengol tentang rumah tangganya yang sebenarnya tidak sebahagia yang terlihat.
"Enggak gitu maksudnya sayang, mama cuma berharap Kala nggak beneran selingkuh dan rumah tangga kalian ini baik-baik aja."
Ceklek,
Pintu terbuka menampilkan sosok Kala, Dewi langsung berlari menghambur ke pelukan Kala dan memeluk lelaki itu sangat erat.
Namun, baru saja beberapa detik itu terjadi Kala sudah berhasil melepaskan dirinya dari pelukan Dewi. Tentu saja Dewi tidak terima dengan perlakuan Kala.
__ADS_1
"Loh Mas kenapa? Aku kangen banget sama kamu atau jangan-jangan kamu beneran selingkuh ya? Ngaku Mas!"
"Selingkuh? Apa maksud kamu selingkuh?"
"Kamu main belakang sama mbak Raina kan? Perempuan murahan itu yang godain kamu sampai kamu berpaling dari aku?"
Berpaling? Mungkin Dewi terlalu percaya diri karena selama ini Kala belum sama sekali menaruh hati terhadapnya.
"Jaga bicara kamu, aku nggak ada hubungan lebih sama Raina."
"Ya terus kamu kemana aja selama tiga hari ini? Kamu nggak pulang ke rumah, terus kemana lagi kalau nggak selingkuh?"
"Udah-udah! Mama mau dengerin penjelasan Kala bukan mau lihat kalian ribut."
Mama melerai dan membawa mereka berdua untuk duduk di sofa, mendinginkan pikiran mereka berdua.
"Mas Kala selingkuh Ma, udah jelas."
"Jangan asal nuduh kamu!" ucap Kala dengan nada datar.
"Kamu selingkuh tapi nggak mau ngaku kan? Mana ada orang salah mau ngaku."
Mama mengenggam tangan Dewi, "udah, kita dengerin dulu penjelasan Kala."
"Apa-apaan kamu Mas! Kalo kamu emang selingkuh bilang aja jujur ke aku. Aku bakal maafin kamu dan lupain semua perselingkuhan kamu kalau kamu jujur."
"Jangan potong pembicaraanku! Biarin aku jelasin semuanya."
"Kamu tuh keterlaluan, jangan menutupi semua kebusukan kamu."
"DIAM! Dengerin aku dulu!"
Setelah mendengarkan bentakan itu Dewi langsung diam, tidak berkata apapun dan hanya bisa menghapus sisa-sisa air matanya.
"Aku pergi dari rumah bukan untuk menghindari masalah dan kabur dari masalah kita apalagi sama selingkuh kaya yang kamu tuduhin. Aku pergi buat nenangin diri dan merenungi hubungan kita, dan aku rasa emang udah cukup sampai disini, kita harus pisah!"
"Mas, jangan bercanda kamu!"
"Kala kamu apa-apaan sih!"
Kala mengalihkan sorot matanya pada Ibu, "mama pikir menantu mama ini adalah yang terbaik? Enggak ma, maaf banget Kala nggak bisa ngelanjutin pernikahan kita."
__ADS_1
"Mas, emang aku salah apa sih? Kok kamu sampai kaya gini?"
"Salah apa? Emang lelaki mana yang bisa tahan terus menerus dituduh dan dituntut banyak hal?"
"Aku nuntut apa sih Mas? Jabatan kamu cuma segitu aku juga maklum dan nggak gimana-gimana. Terus kalau masalah mbak Raina, ya kalian emang deket aku cuma ingetin buat nggak deket-deket sama mbak Raina aku juga bilang ke mbak Raina buat nggak deket-deket sama kamu. Emang aku salah Mas?"
"Itu namanya bukan ngingetin tapi kamu nuduh, aku sampai malu sama Raina yang selalu kamu ajak ribut tiap ketemu, aku malu Wi!"
"Ya orang dia kegatelan mau rebut suami orang gimana nggak aku tegur."
"Liat kan Ma, kelakuan asli menantu Mama."
Dewi menatap ibu, berharap mendapatkan perlindungan.
"Ma aku nggak salah, salahnya dimana seorang istri yang cuma mau sedikit saja perhatian suaminya. Mas Kala yang sama sekali nggak mau ngertiin aku."
"Terus selama ini aku selalu ngalah buat apa kalau bukan mencoba ngertiin kamu? Tapi aku nggak bisa buat layanin keegoisan kamu yang nggak kira-kira itu."
"Kapan kamu mau ngalah? Orang aku yang selalu ngalah, kita gagal liburan di kapal pesiar juga gara-gara kamu!"
"Udah terserah kamu, aku nggak mau ribut lagi sama kamu. Pokoknya aku udah putusin buat yang terbaik buat rumah tangga kita, aku secepatnya bakal urus perceraian kita ke pengadilan."
"Mas, kamu apa-apaan sih? Aku nggak mau cerai!"
"Tapi aku udah gabisa lanjutin rumah tangga kita."
Ibu ikut menggeleng tidak menyetujui pilihan Kala, "Kamu jangan kaya gini, Nak. Pikirin dulu baik-baik, kalian tuh udah menikah bukan cuma pacaran, pernikahan itu ikatan suci yang jangan sampai hancur karena emosi sesaat."
"Bukan emosi sesaat, Ma. Keputusan Kala ini sudah Kala pikirkan dari jauh-jauh hari."
"Kala jangan kaya gini!"
"Aku nggak mau cerai, Mas."
"Keputusan Kala udah bulat."
Seingin apapun Kala memperbaiki rumah tangganya, tetapi jika wanita itu adalah Dewi maka tidak akan bisa. Dengan semua keegoisan yang wanita itu miliki tentu Kala tidak akan bisa tahan.
...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...
SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.
__ADS_1
THANKS AND SEE YOU....
^^^Central java, 10 Februari 2022^^^