Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
53. Jangan-jangan....


__ADS_3

"Rean sama wanita itu udah enggak ada hubungan apapun Ma,"


Raut wajah Mama masih datar, sisa air mata nampak jelas juga. Tatapanya tertuju lurus pada Rean tetapi kekosongan ada pada pandangan itu.


"Kamu udah sadar kesalahan kamu?"


Rean mengangguk, jika mengenai kesalahannya bahkan dari saat menikah siri dengan Erina, ia sudah sadar jika yang ia lakukan itu adalah kesalahan besar. Namun, tidak ada pilihan lain, sedangkan saat itu pikirannya juga kacau.


"Rean sadar Ma, Rean janji nggak akan nyakitin Raina lagi."


"Mama kecewa sama kamu, mama pengen banget kalian cerai. Tapi, kalau Raina masih kasih kesempatan buat kamu mama bisa apa?"


"Ma Rean janji, ini yang terakhir Raina sedih karena Rean."


Mama bangkit dari duduknya, "Raina tuh bodoh karena masih pertahanin lelaki kaya kamu!"


Setelahnya mama melangkahkan kakinya pergi dari rumah itu, kedatangannya malam ini memeberinya luka yang menyakitkan.


Rean hanya menatap punggung itu menjauh, selanjutnya ia melangkah ke kamar untuk menemui Raina. Di peluknya wanita itu dengan sangat erat, meski memeluk dengan satu tangan.


"Lepas Mas."


"Aku janji ini terakhir kalinya kamu nangis."


Tangan Rean membingkai wajah Raina, mengusap jejak air mata yang masih tertinggal disana.


***


• 1 Minggu kemudian.


Di meja nomor 13 Cafe Mentari, tiga orang wanita tengah mengbrol dipenuhi tawa. Mereka baru sampai beberapa menit lalu di cafe yang dulu sering mereka datangi saat duduk di bangku sekolah.


"Si Fifi lama banget deh." celetuk Agatha sembari menilik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Alah biasa."


Seperti biasa, setiap hangout seperti ini Fifi lah orang yang pasti datangnya paling lama.


Baru saja dibicaran sosok Fifi sudah mendatangi meja mereka, "Hai Gais."

__ADS_1


"Gimana nih bulan madunya penganten baru?" tanya Raina.


Fifi mengulas senyumanya, ini adalag pembahasan yang menyenangkan untuknya, "Gila suami baru gue ini hot banget di ranjang, gue beneran puas pokoknya, nggak kaya mantan laki gue yang gampang loyo."


"Lo sih mainnya kasar jadi mantam suami lo cepet loyo."


"Iyalah, nggak kasar nggak berasa."


Sontak pernyataan blak-blakan dari Fifi itu membuat keempatnya tertawa terbahak.


Raina mengalihkan pandanganya ke Agatha, "Eh iya Agatha, lo gimana? Udah dapet laki belum?"


"Lo nggak pengen gitu buru-buru ada yang belai, betah banget ngejomblo."


"Gue juga pengen nikah, tapi emang belum ada aja calonnya."


"Masa cari calon aja gabisa sih lo, makanya jangan kerja mulu, sekali-kali jalan kemana gitu yang banyak lakinya biar kegebet satu."


"Kemana?"


"Besok deh gue ajakin party."


"Heh, emang dibolehin sama laki lo ke party? Lo baru nikah loh."


"Kalo cari laki jangan di party lah, gabener semua orangnya."


"Terus cari dimana Raina?"


Raina mengernyitkan dahinya untuk berfikir, "temen kerja lo kek, atau apa gitu masa nggak ada?"


"Temen kantor gue nggak jelas semua ... Eh katanya lo mau kenalin temen lo ke gue?"


"Oh iya Kala, dia nggak jadi deketin lo, sekarang udah nikah dia."


"Ya elah, gue butuh jodoh loh. Tanyain kek ke suami kalian, kali ada temen mereka yang butuh jodoh."


"Oh iya Na gimana lo sama suami lo? Jadi pisah?"


Raina menggeleng, "dia udah pisah kok sama selingkuhannya."

__ADS_1


"Jadi lo maafin dia?"


Raina bisa memaafkan Rean, meski sekarang belum tetapi ke depannya pasti bisa. Walau masalah itu selamanya tidak akan Raina lupakan, tapi Raina nanti bisa memaafkannya.


"Belum sih, susah banget buat maafin dia, tapi nanti—"


"Bego banget sih lo, laki di luar sana banyak banget, ngapain masih bertahan sama orang yang jelas-jelas hianatin lo."


Ini masalah hati, Raina sudah terlanjur menjadikan Rean sebagai rumahnya, jadi sejauh manapun pergi, titik baliknya ada pada Rean saja.


"Melupakan kenangan itu nggak semudah itu, gue udah mikir ribuan kali dan memilih untuk tetap disini bukan membuka lembaran baru."


"Lo serius Raina?"


Raina mengangguk, kembali mengenal orang baru yang akan masuk dan manjadi bagian dari hidupnya itu bukanlah hal yang mudah. Jika ia menjanda nanti, yang akan dipikirkan saat menikah lagi adalah tentang dia dan putrinya, ia harus memastikan orang itu bisa mengantikan sosok Rean di hidup Mikaila. Dan untuk saat ini menurutnya tidak ada orang yang bisa mengantikan bagaimana Rean menyayangi Mikaila.


"Sebenernya buat sekarang masih belum jelas gue mau gimana, tapi disini gue juga mikirin anak."


"Kalau emang bisa balikan sih kita doain yang terbaik aja, ke depannya lo harus lebih protektif sama suami lo karena pelakor itu dimana-mana, mana serem banget lagi."


"Pastilah."


"Eh btw gue udah isi loh." celetuk Fifi tiba-tiba.


"Serius lo?"


"Iya, abis dari bulan madu tuh gue nggak dateng bulan, padahal pas tanggalnya tuh. Pas tes pack bener aja gue hamil."


"Tok cer banget sih suami lo, sekali bikin langsung jadi."


"Ya jelas dong kalau itu."


"Selamat Fi, udah mau jadi ibu nih."


Senyuman Raina meluruh, dia juga mengingat jika dirinya belum datang bulan juga. Terakhir dia datang bulan adalah sebelum dia mulai curiga dengan Rean. Permasalahannya rumah tangganya membuat Raina tidak memikirkan masalah datang bulan.


...━━━━━ T O  B E  C O N T I N U E━━━━━...


SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.

__ADS_1


THANKS AND SEE YOU....


^^^Central java, 19 Desember 2021^^^


__ADS_2