Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
35. Kamu masih istriku.


__ADS_3

Senyuman tidak ada lunturnya tercetak di bibir Raina, mungkin ini pertama kalinya Raina dapat tertawa selepas itu setelah masalah rumah tangganya muncul. Seperti yang Raina inginkan, kesini untuk menangkan diri dari masalahnya, dan teryata Ditya datang mengalihkan perhatian Raina dari masalahnya.


"Bagus nggak?"


Ditya menunjukan hasil jepretannya pada Raina, gambaran pulau-pulau batu kecil dan juga laut biru berhasil abadi di kamera itu. Raina mengacungkan kedua ibu jarinya pada Ditya, hasil foto Ditya ini memang sangatlah bagus, seperti seorang fotografer profesional.


"Dua jempol deh, eh empat sama jempol kaki."


Selanjutnya tawa keduanya meledak, mereka memang baru mengenal tetapi sudah seperti teman dekat saja.


"Ayo, aku fotoin lagi."


Raina mendengus, sedari tadi pagi entah sudah berapa puluh foto dirinya yang Ditya ambil. Setiap ada spot bagus Ditya selalu meminta Raina untuk berpose, sedangkan bisa dikatakan semua tempat disini hampir setiap sudutnya bisa dijadikan spot foto.


"Emang mau berapa ratus kali aku mau difoto?"


Ditya menggaruk tengkuknya, Raina ini berhasil membuatnya memandang dua kali. Mungkin waktu pertemuan pertama mereka yang singkat itu Ditya tidak terlalu memperhatikan wajah Raina. Namun, semalam wajah itu menjadi candu untuk ia pandang.


Senyuman Raina itu sangatlah manis, mampu membuat Ditya lebih memilih melihat Raina tersenyum daripada melihat keindahan dari pulau-pulau karang di hadapannya.


"Kenapa sih kamu cantik banget?" gumam Ditya.


Raina mengernyitkan dahinya mendengarkan kalimat dari Ditya itu. "Kamu ngomong apa?"


Ditya menepuk jidatnya begitu menyadari telah salah bicara, ia tidak berniat untuk mengatakan itu hanya saja terkadang mulutnya ini suka ikut berucap isi hatinya.


"E-eh itu maksudnya langitnya cantik."


"Dit, ajarin aku motret dong."


"Yakin bisa?" goda Ditya.

__ADS_1


"Ya coba dulu kan, apa salahnya?"


Tentu Ditya tidak keberatan sama sekali dengan permintaan Raina itu. Ia lekas menyerahkan kameranya pada Raina, membuat wanita itu semakin melebarkan senyumannya.


"Ininya diputar, buat nentuin kekaburannya."


Raina mengangguk dan mengikuti apa yang Ditya instruksikan.


"Coba deh kamu mundur beberapa langkah."


"Buat apa?"


"Udah jangan banyak tanya, buruan mundur aja Dit."


Ditya menuruti apa yang Raina perintahkan, melangkahkan kakinya beberapa langkah.


Cekrek,


Satu sosok Ditya berhasil Raina tangkap di kamera itu, dengan segera Raina memperlihatkan hasil potretannya pada Ditya. Terlihat Ditya yang berdiri dengan pandanganya yang tidak menatap ke arah kamera, tentu saja karena ia juga tidak tahu jika Raina akan memotretnya.


"Baru satu aja protes, aku aja yang udah difoto banyak kali sama kamu diem aja ... eh tapi lihat deh, bagus nggak?"


"Bagus."


Senyuman tentu terbit di bibir Raina, dan saat itu juga Ditya berjanji akan menjaga senyuman yang membuat candu dirinya itu.


***


Begitu sampai di hotel yang dimaksud, Rean langsung mendatangi resepsionis. Tentu ia tidak tahu di kamar nomor berapa Raina berada.


"Mbak saya cari kamar atas nama Raina Atmaja."

__ADS_1


Resepsionis hotel itu terlihat mengernyitkan dahinya.


"Mohon maaf sekali Pak, informasi apapun tentang tamu kita sudah menjadi hal yang harus kami rahasiakan."


"Saya suaminya kok Mbak, jadi tolong ya."


"Maaf sekali Pak."


Kopernya dibuka oleh Rean, mengambil sebuah buku nikah miliknya lalu memperlihatkan pada resepsionis.


"Ini buktinya."


Anggukan resepsionis itu berikan.


"Sebentar pak saya carikan."


Dibukan satu persatu lembaran buku untuk mencari nama yang Rean berikan.


"Kamar nomor 22B, berada di lantai 2 ya Pak."


"Terimaksih Mbak."


Rean lekas menyeret kopernya menuju ke kamar yang dimaksud, menaiki lift menuju lantai dua lalu lekas mencari nomor hotel yang tadi disebutkan resepsionis.


Senyuman mengembang saat nomor kamar yang ia cari ketemu, tetapi perhatiannya teralihkan pada kamar sebelahnya yang pintunya terbuka lebar.


Ia melihat disana Raina bersama seorang lelaki, tengah duduk bersama, gumulan amarah tercipta di hatinya. Tangannya mengepal begitu juga giginya yang bergemeletuk, tidak dipedulikan lagi koper yang lepas dari lengannya, Rean berlari menerjang ke arah lelaki itu.


...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...


SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.

__ADS_1


THANKS AND SEE YOU....


^^^Central java, 03 Desember 2021^^^


__ADS_2