Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
97. Undangan yang mengejutkan.


__ADS_3

Kedua mata Raina berhasil membola sempurna saar mengenali nama yang berada di dalam undangan itu, ia menatap Rean dengan kedua alis yang bertaut.


"Yang bener ini Mas? Ditya mau nikah sama Erina?"


Rean hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Raina.


"Loh kok bisa sih?"


"Nggak tau, tapi mereka deket. Ditya itu orang yang membawa Erina menjauh dari kita, kalau nggak ada Ditya mungkin Erina sekarang masih mengacau."


Raina tertawa hambar, tentu ia sangat heran dengan takdir yang terjadi. Orang yang benar-benar bersalah atas dirinya dan Rean justru mendapatkan begitu banyak keberuntungan.


Sedangkan dirinya sendiri baru saja menyembuhkan diri dari masalah lalu.


"Ternyata karma itu nggak ada Mas, enak banget jadi orang jahat tapi mendapatkan lelaki kaya Ditya. Bahkan kita aja mati-matian menghadapi masalah untuk nggak gila, tapi dia? Nggak rela aku Mas!"


Rean mengusap rambut Raina memberikan senyuman kepadanya.


"Jangan gitu sayang, Tuhan punya rencana paling baik untuk kita semua."


"Ya tapi wanita itu Erina yang sudah membuat kita sangat hancur, jangan lupakan dia menelantarkan anak kalian seperti itu. Tapi sekarang dia justru mendapatkan suami baru."


"Udah jangan kaya gitu sayang, kita anggap semua itu cobaan untuk kita, toh kita juga udah berhasil melewatinya."


"Mas aku bukan orang yang terima lihat pelakor itu bahagia, aku bukan orang yang bakal sakit sendiri dan aku nggak sebaik itu memberikan selamat untuk orang yang sudah mengahancurkan ku, peristiwa akan selalu ku ingat."


"Iya, iya tapi kalau kamu bales dendam itu artinya kamu nggak ada bedanya sama Erina."


"Mas ih, siapa juga yang mau bales dendam, aku kan cuma bilang nggak terima aja. Masa iya aku harus bales dendam dengan menggoda Ditya, aku masih punya harga diri Mas!"


Rean tersenyum, menyadari sekarang Raina mudah sekali untuk emosi. Mungkin saja memang bawaan bayi.


Akhh,


Ringisan itu berasal dari Rean yang tiba-tiba merasakan nyeri di dadanya.


"Kenapa Mas?"


Dengan sebaik mungkin Rean menyembunyikan raut kesakitannya, mengatur nafas sebaik mungkin agar nyeri itu berangsur membaik.


"Nggak papa kok sayang."

__ADS_1


"Beneran?"


"Iya."


***


"Mbak nya cari siapa ya?"


"Mbak Siscanya ada nggak ya Pak?"


"Oh ada, mbak. Silahkan masuk."


Erina menagngguk, mengikuti langkah security itu ke dalam rumah. Rumah milik suami Sisca ini tidak terlalu besar tetapi karena berada di tempat rawan kejahatan makanya ada seorang securuty yang dipekerjakan.


"Mbak tunggu sini dulu, saya panggilkan ibu Siscanya."


"Iya, Pak."


Erina duduk di teras rumah itu sembari menunggu Sisca datang.


Kedatangannya ke rumah Sisca ini adalah untuk memberitahukan pernikahannya sekaligus memperbaiki hubungan mereka yang sempat berantakan.


Wanita itu benar-benar sudah kecewa dengan Erina.


"Ngapain kamu Kesini?"


"Mbak kenapa ngomong kaya gitu? Aku kesini buat minta maaf sama Mbak."


"Maaf kamu nggak akan bikin Ethan kembali."


Erina melangkahkan kakinya, meraih lengan Sisca.


"Aku tahu kesalahan aku di masa lalu sulit untuj dimaafkan bahkan sendiri masih tidak bisa menerima. Tetapi aku nggak mau hubungan kita semakin jauh, satu-satunya keluargaku cuma tinggal Mbak Sisca, aku harus kemana lagi kalau bukan memperbaiki hubungan sama Mbak?"


Sisca tertegun, bagaimana pun Erina adalah adiknya. Seseorang yang dahulu sangat ia sayangi dan begitu ia perjuangkan masa depannya.


"Mungkin untuk benar-benar memaafkan kamu Mbak masih butuh waktu, tapi Mbak pasti bakal maafin kamu."


Erina mengeluarkan sebuah undagan dari dalam tas nya.


"Minggu depan acaranya, aku harap Mbak datang."

__ADS_1


Sisca dibuat terkejut dengan sebuah undagan yang berada di tangannya itu. Nama Ditya yang bersanding dengan adiknya di undangan itu tentu ia masih sedikit mengingat.


Setahunya lelaki itu adalah lelaki yang dahulu menemani Erina dalam masa keterpurukannya.


"Ditya siapa?"


"Dia adalah orang yang membuat Erina berubah."


Sisca mengamati Erina dengan seksama, jika dilihat-lihat memang sudah banyak perubahan. Erina yang dulu adalah Erina yang selalu bisa menjawab saat Sisca memberikan nasihat, Erina justru akan mengusir Sisca agar Sisca tidak ikut andil.


Tetapi Erina yang sekarang bahkan mau memperbaiki hubungan mereka. Sungguh luar biasa.


"Tapi kamu beneran yakin mau nikah sekarang?"


"Iya Mbak, aku berharap bisa bahagia mengarungi rumah tangga dengan Ditya."


"Erina, pernikahan itu bukanlah sesuatu yang main-main. Terlebih kamu dan Ditya juga baru kenal beberap bulan. Kamu belum tahu latar belakang Ditya sejelas-jelasnya, kamu sebaiknya pikir-pikir dulu."


"Aku percaya Ditya nggak mungkin nyakitin aku, dia yang datang buat narik aku dari kegelapan."


"Sesuatu yang terlihat baik belum dalamnya baik."


"Beberapa bulan ini udah cukup kok Mbak, buat aku tahu seperti apa Ditya."


"Mbak juga ikut seneng kamu mau nikah dengan seseorang yang bersedia nerima kamu apa adanya. Tapi melihat kebelakang, seharusnya kamu bisa kasih jeda dulu buat diru kamu beristirahat bukan langsung memulai hubungan baru kaya gini Erina."


"Semuanya udah disiapkan, dari WO, dress dan juga yang lainnya. Acaranya tinggal minggu depan, dan aku sudah benar-benar percaya akan bahagia dengan Ditya."


"Yaudah Mbak berdoa yang terbaik aja buat kalian."


...━━━━━ P K M T M K━━━━━...


Suka dengan cerita ini?


Jangan lupa berikan like dan juga sebuah kalimat di kolom komentar sebagai bentuk aparesiasi, setiap jejak kalian sangat dihargai!


Terimakasih and love you full.


With love,


Khalisa🌹

__ADS_1


__ADS_2