
Jam menunjukkan pukul 6 sore dan Rean baru saja kembali dari kantornya, di tangannya terdapat sekotak macaron yang begitu disukai Makaila. Namun, setelah ia memanggil nama anak itu, tidak ada sahutan dari putrinya itu maupun Raina.
Jika pergi ke suatu tempat pasti Raina akan mengabarinya tetapi ini tidak sama sekali.
"Mbak Tati tau istri saya kemana nggak?"
Mbak Tati yang baru saja selesai membersihkan dapur hanya bisa tertunduk, ia tentu tahu jelas bagaimana kejadian tadi siang saat Raina dan Mikaila dibawa oleh kedua orangnya.
Amarah dan perdebatan mereka tadi siang benar-benar menyeramkan bahkan beberapa barang di rumah ini menjadi sasaran amarah ayah Raina.
"Itu—"
Tentu saja Rean menautkan kedua alisnya saat mendapati ekspresi yang ditampilkan oleh mbak Tati.
"Kemana Mbak?"
"Tadi Tuan besar datang kesini dan marah-marah."
Bibir Rean terasa kelu, tentu ia tidak bodoh untuk memaknai apa yang terjadi.
Dengan secepat kilat ia melangkahkan kakinya, pergi kembali ke mobilnya. Ia ingin secepatnya sampai dirumah Raina dan melihat sendiri bagaimana kondisi yang terjadi.
Rean yakin jika papa mertuanya sudah mengetahui tentang perslingkuhan dirinya waktu itu.
***
Anak itu mengerjapkan matanya pelan, tadi saat menutup mata ia masih berada di kamarnya tetapi sekarang sudah berada di salah satu kamar besar milik kakek dan neneknya.
Tadi Mikaila dibawa kesini saat masih tertidur,
Di sampingnya ada sang nenek yang tengah bermain ponsel.
"Nek,"
"Eh cucu nenek udah bangun?"
"Kok Mikaila ada disini sih, Nek?"
"Iya dong, nenek kan kangen sama Mikaila."
__ADS_1
"Bunda mana?"
"Bunda disini juga kok, ada diluar."
Anak itu hendak beranjak dari ranjang tetapi langsung dicegat.
"Mikaila mau pulang nek."
Nenek menggeleng, "loh kok pulang, nggak mau sama nenek?"
Anak itu teringat dengan janji sang ayah jika hari ini akan pulang, tentu saja ia sangat antusias ingin bertemu dengan ayahnya itu setelah semalam tidak bertemu.
"Ayah pasti udah pulang, Nek. Mikaila mau ketemu sama ayah."
Wajah wanita paruh baya itu berubah saat mendengarkan rengekan Raina, sekarang ini ia begitu membeci Rean begitu mendengarkan namanya saja sudah membuat amarahnya mencuat.
"Ayah kamu tuh nggak baik!"
Tentu saja Mikaila hanya bisa menatap neneknya dengan pandangan bertanya-tanyanya.
"Ayah Mikaila bukan orang jahat."
Sedangkan di luar kamar Raina baru saja selesai menjelaskan semua masalahnya sampai jelas pada papanya. Mulai dari Rean yang melakukan kesalahan besar itu lalu menikahi Erina, bahkan tentang kematian Ethan pun Raina sudah menjelaskannya pada papa.
"Meski itu hanya kecelakaan tapi papa tetep nggak terima karena Rean udah ngebohongin kamu selama satu tahun, kamu jangan mudah percaya sama dia Raina!"
"Pa, Raina mohon jangan bikin ini semakin rumit, kita udah baikkan dan kembali kaya dulu lagi."
"Kalau misalnya suatu saat Rean bohong lagi gimana? Dia sudah pernah membohongi kamu selama satu tahun tanpa kamu ketahui gimana kalau nanti terulang lagi?"
"Raina percaya sama Mas Rean."
Brakk,
Papa menggebrak meja itu, tidak ada orang tua yang terima anaknya disakiti begitu juga dengan Papa. Raina adalah putri kesayangannya yang tidak akan ia biarkan untuk lecet sedikitpun.
"Tapi kepercayaan papa sudah hilang, Rean harus menerima perbuatan kurang ajarnya dengan berpisah."
"Pa, Raina udah dewasa, bahkan Raina sudah memikirkan masalah ini berulang kali."
__ADS_1
Semua orang tua itu biasanya menganggap putri mereka adalah anak kecil yang harus begitu dijaga, hingga melupakan jika mereka sudah dewasa dan bisa mengatasi masalahnya sendiri tanpa campur tangan orang lain.
Bagaimana kondisi rumah tangga Raina yang sebenarnya hanya Rean dan Raina yang tahu, orang luar tidak begitu mengetahui dengan jelas bagaimana mereka sama-sama keluar dari lubang yang menyakitkan itu.
Bagaimana sebuah proses itu terjadi untuk membuat Raina berhasil mengusir jauh bayangan suaminya yang telah menikah diam-diam selama satu tahun.
Lalu disaat dia baru saja membuka lembaran baru, orang tuanya memaksa sebuah perpisahan untuk mereka. Dimana melalui perpisahan itu tidak akan ada yang bahagia.
Semuanya akan tersakiti, Raina dan Rean akan sama-sama sakit karena cinta mereka harus kandas. Tidak hanya mereka tetapi anak-anak mereka yang juga akan kehilangan kasih sayang.
"Jika kita pisah gimana sama Raina? Raina nggak bisa hidup tanpa mas Rean."
"Ngomong apa kamu! Kamu bukan lagi remaja yang sedang dimabuk cinta, kalimat kamu itu tidak pantas diucapkan Raina!"
"Tapi itu kenyataannya Pa, Raina udah jadiin mas Rean sebagai pelabuhan terkahir Raina. Raina nggak bakal bisa buka hati untuk orang lain karena mas Rean udah ada di dalam hati Raina."
"Papa nggak setuju!"
Air mata sudah merembes keluar, Raina tidak rela jika rumah tangganya harus berakhir. Sosok Rean yang begitu ia cintai tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapapun.
"Raina aja bersedia kasih kesempatan buat mas Rean, Papa juga harus kaya gitu."
"Tidak setelah Rean menghancurkan kepercayaan yang papa berikan. Papa kaya gini karena sayang sama kamu, papa pengen kamu bahagia."
"Kalau Papa emang sayang sama Raina bukan kaya gini caranya, kebahagiaan Raina hanya ada pada mas Rean. Pa—"
Papa bangkit dari duduknya dengan wajah yang masih penuh amarah, ia juga tidak tega melihat Raina menangis sembari memohon seperti ini.
"Ini terbaik!"
Setelahnya papa melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu meninggalkan Raina yang masih setia dengan tangisnya.
...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...
SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.
THANKS AND SEE YOU....
^^^Central java, 18 January 2022^^^
__ADS_1