
• Satu bulan kemudian.
"Bunda ini sayuran apa?"
Mikaila menunjukan sayuran berwarna hijau di meja makan, ada 4 buah piring lauk di meja makan dan salah satunya tidak Mikaila ketahui itu adalah makanan apa.
"Itu namanya brokoli, enak deh rasanya Mikaila pasti suka."
"Kenapa Mikaila baru tahu ada sayuran kaya gini, ya."
"Iya karena bunda kan jarang masak ini. Mau coba."
Mikaila mengangguk dan segera mengambil satu potong brokoli yang ditumis dengan potongan bakso itu.
"Gimana rasanya?"
"Enak Bun, Mikaila suka."
"Yaudah makan sama ini ya sayang."
"Iya Bun, oh iya ayah belum dateng, kan makannya harus bareng-bareng Bun."
Raina memang mengajarkan etiket di meja makan, dimana harus menunggu yang lain dahulu baru menyantap makanan. Itu sebagai tanda bentuk penghormatan pada orang lain.
"Ayah kesiangan masih mandi, Mikaila makan aja dulu ya nanti Mikaila telat."
"Iya Bun."
Anak itu lekas memakan makananan yang sudah Raina ambilkan di piringnya. Mikaila itu tidaklah pilih-pilih makanan dan akan selalu memakan yang ada di meja makan, tetapi memang ada beberapa makanan yang anak itu benar-benar tidak suka dan tidak akan anak itu makan meski sangat lapar.
"Mikaila udah selesai, Bun."
Mikaila menunjukkan piringnya yang sudah kososng tak bersisa.
"Pinter banget sih anak, Bunda."
Raina memasukkan bekal Mikaila ke dalam tas, dan segera mengantarkan anak itu ke depan.
"Dadaaa Bunda."
"Ati-ati ya, jangan nakal."
"Siapp, Bun."
Setelah memastikan mobil menghilang dari pandangannya Raina langsung bergegas untuk masuk lagi ke dalam rumah. Rupanya Rean belum juga turun yang menandakan lelaki itu belum usai bersiap.
Raina beranjak ke atas, menghampiri Rean yang entah sedang apa. Begitu membuka pintu kamar ternyata lelaki itu sedang mengenakan kemeja putihnya.
"Sayang tolong ambilin dasi."
Raina membuka lemari dan memilih sebuah dasi berwarna abu-abu. Raina langsung meyampirkan dasi itu pada leher Rean, mulai membuat simpul agar rapi.
__ADS_1
"Kamu cantik banget sih pagi ini."
"Jadi biasanya nggak cantik gitu?" jawab sinis Raina, sedangkan tangannya masih sibuk memasang dasi.
"Ya cantik tapi hari ini cantiknya berkali-kali lipat."
"Ya gi—"
Belum sempat Raina melanjutkan kalimatnya, sebuah benda kenyal sudah menempel di bibir wanita itu. ********** dengan sangat lembut dan semakin lama semakin dalam sedangakan satu tanganya segera pergi ke tengkuknya, menekannya sehingga jarak mereka semakin dekat.
Tautan itu tidak bertahan begitu lama karena selanjutnya Raina menghentikannya terlebih dahulu.
"Kamu masih sempet-sempetnya ya Mas, udah tau lagi kesiangan."
"Habisnya kamu cantik banget sih."
"Udah ayok turun makan."
Rean memperhatikan jam di pergelangan tangannya yang baru saja ia pasang.
"Aku dibawain bekal aja deh, nanti aku makan dikantor udah jam segini, aku ada meeting pagi."
"Nggak! Nanti kamu malah lupa terus nggak jadi sarapan, kaya kemaren."
"Jadi sayang, aku ada meeting pagi nggak bisa telat."
"Yaudah tapi beneran loh, nanti aku telfon Thalia buat mastiin kamu beneran makan."
"Iya cintaku."
"Iyaa, yaudah aku berangkat dulu ya."
***
Sesampainya di kantor ternyata sudah ada Ditya yang ingin bertemu dengannya, memang meeting nanti bersama dengan dengan perusahaan Ditya tetapi meetingnya masih satu jam lagi tetapi lelaki itu sudah sampai disini, sepertinya dari rumah langsung kesini.
"You don't look good."
Wajah Ditya memang tidak terlihat baik-baik saja, itu sangatlah ketara.
Semenjak kejadian Ditya mendekati Erina, Rean mulai berteman baik dengan Ditya ditambah lagi mereka juga rekan bisnis.
"Aku butuh teman curhat."
Rean mendudukkan dirinya di sebelah Ditya, memberikan isyarat wajah agar lelaki itu bercerita tentang masalah yang ia hadapi.
"Tentang Erina."
"Bukankah kamu sudah merubahnya menjadi orang baik? Sebenarnya saat pertama kali tahu kamu ingin menikahinya aku juga sangat heran, bagaimana bisa kamu menikahi seseorang yang kamu tahu masa lalunya seburuk itu."
Meski Erina sudah berubah tapi jangan lupakan kejahatannya yang tak termaafkan, merusak rumah tangga orang lain dan dengan teganya menyakiti sesama perempuan. Berharap bisa bahagia setelah merusak rumah tangga orang lain.
__ADS_1
Memang Erina melakukan itu karena keadaanya yang kurang mendapat kasih sayang, tapi bukankah setiap orang juga memang memiliki alasan untuk berbuat jahat.
Mungkin itu masih bisa ditoleran, tetapi bagaimana dengan peristiwa menelantarkan anaknya. Ia sama sekali tidak peduli dengan darah dagingnya dan justru memanfaatkan anaknya sebagai alat untuk mendapatkan perhatian Rean.
Erina sama sekali tidak sadar, jika anaknya juga bisa menjadi sumber kebahagiaan untuknya.
Memang Erina sudah berubah, tetapi jika untuk Rean ia tidak akan pernah bisa memaafkan wanita yang sudah dengan kejamnya menelantarkan putranya.
"Sekarang itu masalahnya, seseorang dari masalalu kembali, dia adalah orang yang pernah mengambil separuh hati ku. Aku nggak tahu sekarang harus bagaimana."
"Kamu sudah menikahinya, sekarang kamu sudah harus bertanggung jawab atasnya. Cintai dia, berikan keluarga yang hangat untuknya karena semua itu sudah menjadi keputusan kamu dari awal."
"Aku pada awalnya memang menikahi Erina karena itu, aku ingin memberikan kebahagiaan untuknya dan juga sebuah keluarga yang hanga karena saat itu bahkan kakaknya saja sudah membenci Erina. Tetapi takdir berkata lain, seseorang itu datang, orang itu nggak mungkin bisa aku lupakan begitu saja begitu ia menampakan diri sekian lamanya...."
"Aku mencoba merubah semuanya, merubah perasaanku tetapi tidak bisa aku tidak bisa mencintai Erina karena nyatanya sudah ada orang dihatiku."
Rean tahu bagaimana rasanya itu, dia dulu juga tidak bisa mencintai Erina karena sudah ada Raina di dalam hatinya.
"Lalu bagaimana tanggapan wanita itu? Wanita itu masih ingin bersama kamu sedangkan kamy sudah beristri."
"Aku belum memberi tahunya jika aku sudah menikah."
"Tidak benar, jangan menyembunyikan rahasia seperti ini. Contohnya saja aku dahulu, jika tahunya semakin nanti maka akan semakin menyakitkan. Lebih baik ini di omongin baik-baik, berbicara pelan-pelan dengan Erina, jika dia memang sudah berubah menjadi baik maka dia akan melepaskan kamu dan membiarkanmu bahagia dengan wanita itu."
"Tapi dengan jujur akan sangat menyakitkan, aku seolah mempermainkannya. Aku akan menjadi lelaki paling bejat karena sudah membawanya terbang setinggi awan dan langsung menjatuhkannya ke dasar jurang."
"Tetapi itu lebih, Dit."
"Tidak."
"Lalu mau bagaimana? Melapaskan wanita itu dan tetap memilih Erina sedangkan jelas-jelas hatimu untuknya. Atau jangan-jangan kamu mau menikahinya diam-diam?"
Jelas-jelas yang Rean sebutkan terakhir itu tidak akan mungkin Ditya lakukan, ia sangat menghormati wanita.
"Sepertinya tidak, mungkin aku akan selamanya mencintai orang lain yang tidak bisa aku nikahi, tapi bagaimana nanti aku bisa kuat melihatnya bahagia bersama orang lain."
"Itu dia, jika terus bertahan maka akan ada 3 orang yang tersakiti. Kamu yang tidak bisa bersama orang yang kamu cintai tidak bisa mendapatkan kebahagiaan, wanita itu juga demikian dan Erina akan menjadi wanita paling tidak beruntung karena selamanya tidak mendapatkan cinta dari suaminya. Bagaimana bisa rumah tangga berjalan tanpa sebuah cinta, tentu tidak bisa."
Daripada ada tiga orang yang tersakiti tentu lebih baik diselesaikan sekarang juga semua masalah itu.
"Meskipun kamu akan menjadi lelaki yang terlihat brengsek karena mempermainkan pernikahan tetapi lebib baik daripada akan terjadi luka yang berkepanjangan dari pernikahan itu."
"Kamu benar, semua memang harus dibicarakan dari sekarang jika tidak ingin luka yang berkepanjangan."
...━━━━━ P K M T M K━━━━━...
Hallo bagaimana kabarnya, readers sekalian?
Jangan lupa berikan like dan juga sebuah kalimat di kolom komentar sebagai bentuk aparesiasi, setiap jejak kalian sangat dihargai!
Terimakasih and love you full.
__ADS_1
With love,
Khalisa🌹