
Meja makan itu sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan yang begitu lezat, makan siang yang ramai dengan kedatangan tante Hera dan tante Warda begitu juga dengan Nara yang ikut hadir. Ibu dari Raina mengatakan tidak jadi ikut datang karena memiliki urusan mendadak.
"Jadi Nara bentar lagi lulus kuliahnya?"
"Iya tante masih satu semester, tapi sekarang Nara lagi ngambil cuti."
"Haduh kamu pasti pinter nih, kelihatan dari wajahnya nggak kayak anak tante kuliah udah semester 9 nggak lulus-lulus, sampe gedek tante tuh."
Nara hanya tersenyum menangapi curhatan tante Warda.
"Mana kamu cantik lagi, kamu nanti harus cari suami yang top, pasti dapet deh kalau modelan kamu."
"Iyalah Tan, cantik kayak kakaknya kan?" celetuk Rean sambil memandang Raina.
"Iya kamu beruntung Raina mau sama modelan kaya kamu...." tante Warda mengalihkan pandanganya ke arah Raina. "Eh Raina kalau Rean ini macam-macam, tinggalin aja dia biar kapok. Kamu mah jadi janda sekalipun pasti bisa gaet yang masih hot."
Tentu celetukan tante Warda itu tentu mencubit hati Rean, membuat raut wajahnya seketika tidak semangat.
"Nggaklah Neni, ayah sama bundanya Mikaila itu saling mencintai. Kata bu guru, orang yang saling mencintai itu sama-sama terus sampe kapanpun."
Tante Hera yang kebetulan duduk di samping Mikaila mengelus surai anak itu, "Aduh pinter banget sih Mikaila ini."
"Eh kalian nggak mau gitu kasih adik buat Mikaila?"
Raina hampir tersedak liurnya sendiri mendengarkan pertanyaan itu.
"Itu—"
"Iya Neni adiknya Mikaila lama banget adanya, padahal ayah sama bunda udah janji beliin Mikaila adik waktu liburan, tapi mereka pulangnya nggak bawa adik Neni." adu Mikaila pada Neni-nya.
"Aduh-aduh kasian banget sih cucu Neni ini. Tuh denger anaknya aja udah minta adik."
Raina menginjak kaki Rean, memberi isyarat agar lelaki itu menjawab tante Warda.
__ADS_1
"Kita sih udah usaha Tan, tapi kalau belum dikasih ya gimana."
"Ya usaha lagi, masih muda juga pasti masih bisa sering-sering."
"Sering apa Neni?" tanya Mikaila.
"Ya sering bikin adik sayang."
Rean tentu membolakan matanya mendengarnya, Mikaila masih kecil mana mungkin diberitahu hal semacam itu. "Tante,"
"Emang bikin adik pake apa Neni."
"Enggak kok sayang, ee— nanti biar di beliin ya adiknya sama ayah bunda."
***
Tante Warda, tante Hera dan juga Nara baru saja pulang tiga puluh menit lalu, setelah makan siang mereka semua mengobrol santai hinggal pukul tiga dan akhirnya pulang.
Menyisakan Rean yang tidak hentinya menatap Raina yang tengah fokus pada handphone, yang dilakukan Raina hanyalah menscroll aplikasi instagram guna mengisi waktu luang.
"Kamu kan pemandangan paling indah."
Raina menghela nafasnya pelan sebelum beralih fokus dari handphonenya ke Rean.
"Kamu istirahat aja deh sana dikamar Mas."
"Aku laper."
"Tadi kamu nggak makan?"
Rean menggeleng.
Tadi saat makan siang ia tidak menyentuh makanananya sama sekali, sebenarnya sih bisa saja makan dengan tangan kiri walau sedikit kesulitan tapi jika dia makan itu artinya dia tidak mendapatkan suapan dari Raina yang membuat makanannya enaknya berkali lipat.
__ADS_1
"Sama sekali nggak makan kamu?"
Rean kembali menggeleng.
"Kamu tuh ya, makanannya udah habis loh, bisa-bisanya kamu nggak makan sama sekali."
"Delivery aja sayang."
"Janganlah, nggak sehat Mas. Aku kan udah sering bilang kalau makanan dari luar itu belum tentu bersih pengolahannya ... tunggu bentar ya aku masakin buat kamu."
Rean hanya mengangguk dan membiarkan punggung Raina menjauh, tapi belum sampai lima menit Raina sudah kembali dengan piring berisi apel yang kulitnya sudah dikupas yang ia letakan di pangkuan Rean.
"Nih makan dulu buat ganjel perut."
"Aku nggak laper banget, ak–"
Belum sampai kalimat Rean selesai Raina sudah melesat pergi lagi ke dapur. Rean tersenyum, meruntuki dirinya sendiri yang selalu bersikap seperti anak kecil jika sudah bersama Raina.
Tidak begitu lama Raina kembali dengan nampan berisi sepiring makanandan satu gelas air putih. Ia langsung mendudukan dirinya di samping Rean.
"Cepet banget masaknya."
Raina tidak menjawab, tapi tangan wanita itu bergerak menyedorkan sendok ke arah mulut Rean, yang tentu dengan senang hati Rean membuka mulutnya.
"Kamu nggak suka sayur ini kan Mas, tapi di kulkas adanya ini soalnya mbak Tati belum belanja."
Raina memasak pakcoy dengan irisan daging ayam untuk Rean, tadi di kulkas hanya ada sawi pakcoy dua ikat dan juga sepotong daging ayam, mbak Tati pembantu rumah tangga mereka baru akan berbelanja karena tadi pagi memang belum belanja. Pakcoy menjadi sayur yang tidak begitu Rean sukai, jadi Raina hampir tidak pernah membelinya meski menurutnya pakcoy enak.
"Apapun yang kamu masak aku pasti makan."
...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...
SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.
__ADS_1
THANKS AND SEE YOU....
^^^Central java, 18 Desember 2021^^^