Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
27. Lamaran.


__ADS_3

Kelopak mata itu terpejam, menikmati hiruk pikuk yang terjadi di sekitarnya. Senyuman melebar bersamaan dengan netra yang mendapatkan kembali keindahan raja malam yang dengan anggunnya bertahta di atas sana. Terkadang Raina membutuhkan me time seperti ini, bukan pergi ke salon dan luluran seharian tapi pergi merenung melihat bulan menjadi pilihannya. Tadi ia beralasan ingin pergi ke supermarket sebentar dan berakhir duduk di taman ini.


Tetapi, Gelak tawa sepasang kekasih yang duduk di kursi di depannya tidak membuat senyuman manisnya meredup sedikit pun. Ini adalah tempat umum dan taman ini juga tidak melarang orang bermesraan.


Helaan nafas keluar sebelum langkahnya sampai di bawah pohon dengan banyaknya lampu kuning yang tergantung disana, tempat yang lumayan sepi mungkin sangat cocok untuknya menikmati cahaya bulan. Baru saja beberapa saat duduk, sebuah kotak kado kecil mengalihkan perhatiannya karena kotak itu tergeletak malang di tanah.


Di depan ada seseorang dengan tas terbuka yang membuat gadis itu curiga jika kotak cincin itu miliknya.


Dengan segera ia mengambilnya dan mengejar orang di depannya, “Permisi...”


Lelaki itu berbalik dan menatap Raina dengan tanda tanya. "Iya Mbak, ada yang bisa saya bantu?"


"Ini Mas tadi jatuh dari tas Masnya." lelaki itu mengambil kotak cincin yang berada di tangan Raina.


"Oh iya Mbak ini punya saya, makasih banget ya Mbak."


"Iyaa Mas sama-sama."


Jika dilihat dari bentuknya kotak cincin itu terlihat mahal, bukan kotak cincin yang berada di pasaran. Jadi bisa disimpulkan lelaki itu akan pergi melamar kekasihnya.


"Mau ngelamar pacarnya ya Mas?"


Lelaki itu tersenyum, "Iya Mbak ini sekarang mau ngelamar pacar saya, kalau ini mbak bukan Mbak temuin mungkin saya nggak jadi lamarannya."


"Ohh iyaa Mas, semoga lancar ya lamarannya."


"Iya Mbak sekali lagi terimaksih ya, saya duluan."


Raina mengangguk dan membiarkan lelaki itu beranjak.


Lamaran adalah sebuah acara penting sebelum janji suci dilaksakan, ingatan Raina melayang jauh menuju hari dimana Rean mengungkapkan Kesediaan Raina untuk menjadi istrinya.


####:::


Langkah kaki terdengar menggema di ruangan itu di sertai dengan iringan musik klasik yang membuat Ara sedari tadi tidak dapat melunturkan senyumannya. Musik klasik itu sangat menenangkan dan membuat hatinya bergembira, di tambah kedatangan lelaki yang sudah ia tunggu sedari tadi.


Lelaki itu mengulurkan lengannya yang sedari tadi tersembunyi dibalik punggung, setangkai bunga mawar berwarna putih nampak juga disana.


Hanya setangkai mawar putih? Itu terlihat sangat pelit di mata orang, tapi ada makna dibalik itu. Mawar berwarna putih melambangkan kesucian dan juga ketulusan, lelaki itu mempersembahkan mawar putih untuk menunjukan jika wanita di depannya ini masih suci, mahkota wanita yang akan selalu dijaga adalah kesuciaan. Seorang wanita akan dianggap rusak jika sebelum menikah sudah tidak suci.


Lalu mengapa hanya satu tangkai? Karena lelaki itu ingin menujukan jika wanita itu hanyalah satu-satunya ratu yang bertahta di hatinya tidak akan ada yang kedua, ketiga dan seterusnya.


Disidorkannya mawar itu pada Raina, "maaf buat kamu nunggu lama."


Dengan senyuman manis gadis itu mengambil mawar lalu menciumnya dalam-dalam, merasakan wangi alami yang tidak terlalu ketara tapi memabukkan. "Cuma satu jam bukanlah masalah, bahkan jika harus menunggu seribu tahun aku akan siap." jawabnya sebelum terkekeh.


"Kamu mau jadi siluman rubah yang bisa hidup seribu tahun buat menungguku?"


"Nggak masalah siluman rubah itu cantik."


"Tapi kamu lebih cantik dari siluman rubah manapun."

__ADS_1


Raina terkekeh mendengarnya, selalu saja kalimat manis dari lelaki di depannya ini membuat hatinya berbunga. Padahal hanya kalimat sederhana tapi dia sudah menjadi wanita paling bahagia seumur hidupnya.


"Ah iya aku punya sesuatu buat kamu."


Lelaki itu bangkit dari duduknya, langkahnya terarah menuju para pemusik yang ada di depan. Hanya dengan senyuman para pemusik itu seakan sudah paham maksudnya.


Petikkan senar gitar yang diciptakan dari jari lelaki itu terdengar sangat merdu dan juga terdengar lebih indah dari musik klasik yang baru saja dibawakan oleh pemusik.


It's a beautiful night, we're looking for something dumb to do


Hey baby, I think I wanna marry you


Is it the look in your eyes or is it this dancing juice?


Who cares, baby, I think I wanna marry you


Well, I know this little chapel on the boulevard we can go


No one will know, oh, come on girl


Who cares if we're trashed, got a pocket full of cash we can blow


Shots of patron and it's on, girl


Don't say no, no, no, no, no


Just say yeah, yeah, yeah, yeah, yeah


If you're ready, like I'm ready


'Cause it's a beautiful night, we're looking for something dumb to do


Hey baby, I think I wanna marry you


Is it the look in your eyes or is it this dancing juice?


Who cares, baby, I think I wanna marry you


Senyuman terkembang di bibir Raina, saat suara merdu itu kembali memenuhi rongga telinganya. Ia benar-benar tidak menyangka Rean memiliki bakat terpendam seperti ini, selama ini ia tidak tahu jika Rean memiliki suara yang begitu merdu.


"Bolehkah?"


Raina mengangkat kedua alisnya karena otaknya belum sinkron untuk memahami satu kata itu.


"Di lirik terakhir."


"Maksudmu?"


Entah kenapa otak Raina ini sedang lambat berfikir, hal seperti itu saja sedang sulit dipahami olehnya.


Dengan senyuman akhirnya lelaki itu mengulangi lirik terakhir dari lagu yang dia nyanyikan. "Who cares, baby, I think I wanna marry you."

__ADS_1


Seperti kabel putus yang tersambung kembali, Ara baru sadar akan maksud dari lelaki di depannya ini. "Menikahiku?"


Anggukan kepala lelaki itu membuat Raina tersenyum.


Seperti kabel putus yang tersambung kembali, Ara baru sadar akan maksud dari lelaki di depannya ini. "Menikahiku?"


"Ngelamarnya cuma pake lagu?" Canda Raina disertai kekehan, pasalnya kekasinya ini sudah sering berlaku romantis padanya.


Sebuah lagu itu saja sudah mampu membuat Raina terpukau karena sebelumnya sama sekali belum pernah melihat lelaki di depannya ini bernyanyi. Raina seperti melihat sisi lain dari lelaki ini yang tentu saja tak kalah romantis.


Nyanyian yang dikhususkan untuk dirinya tentu saja terasa romantis, biasanya sebuah cincin atau sebuket bunga yang akan digunakan untuk melamar tapi kali ini sebuah lagu, tentu sangat unik.


Raina paham betul lelaki di depannya ini tidak pandai merangkai kata yang membuatnya melayang, hanya kalimat singkat saja dan juga perbuatannya yang membuat Raina berbunga-bunga.


"Aku mau jujur...." Lelaki itu menghela nafas pelan, "aku mau lamar di Bali, aku sudah siapin semuanya, bahkan tiketnya. Tapi tiba-tiba aja ada masalah, jadinya harus ditunda keberangkatannya, kan aku nggak mau kalau kelamaan."


Memang benar semuanya sudah siap, kemarin tiba-tiba saja orang sananya mengabari jika ada masalah dan keberangkatannya harus ditunda beberapa minggu.


"Ini bahkan lebih terkenang daripada melamarku di pantai."


"Itu karena ini pertama kalinya aku nyanyi di depan kamu."


"Benar dan aku nggak akan pernah lupa ... dan soal nikah, tanpa kau tanya aku pasti akan selalu siap buat nikah sama kamu, langsung aja bawa orang tua kamu ke rumah aku."


Raina menaikan kedua alisnya.


"Tunggu sebentar, " Rean itu mengangkat tangannya pada seorang pelayan di kafe itu.


Tiba-tiba saja lampu dimatikan, gelap sekali karena penerangan hanya berasal dari lampu jalan diluar kafe. Raina memutar pandangannya dan baru sadar jika ternyata di kafe ini hanya ada dirinya dan Rean sebagai pelanggan, sungguh aneh karena setiap malam kafe ini selalu ramai.


Sayup-sayup cahaya lilin terlihat datang dari arah dapur, para pelayan yang membawanya. Menyusun lilin-lilin merah itu menjadi bentuk hati melingkari mereka. Raina tersenyum menatap lelaki yang ia yakin sudah menyiapkan ini semua.


Dua orang pelayan maju ke samping Raina, yang satunya membawa nampan berisi buket bunga dan satunya lagi nampan dengan sebuah kotak kayu kecil.


Lelaki itu bangkit mengambil buket bunga beserta kotak kayu kecil yang berada di nampan, menyodorkan bunga itu pada Raina. Setelah bunga beralih ke tangan Raina dia berlutut dengan satu kakinya seraya membuka kotak kayu, disana ada sebuah cincin.


"Will You Marry Me?"


Raina tersipu mendengar kalimat itu, terlebih disini tidak hanya ada mereka berdua, para pemusik dan juga pelayan kafe itu juga ikut menyaksikan.


"Iyaa,"


Sudah dibilang jika Raina sudah siap, dia akan selalu siap kapanpun Rean memintanya.


...━━━━━ T O  B E  C O N T I N U E━━━━━...


SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.


THANKS AND SEE YOU....


^^^Central java, 11 November 2021^^^

__ADS_1


__ADS_2