Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
22. Isi hatiku.


__ADS_3

"Sampai kapan kamu mau seperti ini Erina?"


Pertanyaan itu lolos dari bibir seorang wanita yang yang berdiri menyaksikan Erina yang tengah menghias kukunya.


"Selamanya lah Mbak, orang udah selangkah lagi Mas Rean jadi milikku."


Helaan nafas kasar berasal dari lawan biacara Erina. Dia adalah Sisca, kakak dari dari Erina, ia berusia 7 tahun diatas Erina. Mereka dari dulu hanya hidup berdua, ibu mereka meninggal dan ayah mereka menikah lagi meninggalkan mereka berdua. Tetapi setelah ayah mereka menikah lagi memberikan uang, tanpa kasih sayang.


Bisa dibilang dari kecil Erina memanglah kekurangan kasih sayang dan tidak tahu akan makna keluarga yang sebenarnya. Ayahnya tidak sekalipun pernah menjenguknya, sedangkan sang kakak ini juga sibuk bekerja.


"Nggak gini caranya Erina, kamu mikir nggak gimana perasaan istri Rean kalau tahu ini? Kamu kan juga wanita!"


"Dia udah tahu Mbak, jadinya pasti sebentar lagi mereka cerai dan Mas Rean jadi milikku."


Saat pertama kali mengetahui Erina hamil anak atasannya, sedangkan atasannya itu sudah berkeluarga Sisca sangatlah marah. Dia tidak menyangka saja adiknya akan berbuat demikian, bahkan lebih parahnya lagi adiknya itu memilih untuk menjadi istri simpanan daripada mencari jalan tengah terbaik dari masalah itu.


"Coba kamu bayangin, kalau kamu ada diposisi istri Rean. Kamu bisa bayangin kan Erina!"


"Harusnya Mbak ikut seneng aja. Ngapain malah marah-marah?"


"Kamu bilang mau dapetin Rean? Kamu pikir semudah itu?! Kamu pikir ngejatuhin hati Rean itu mudah?"


"Udahlah Mbak, ngapain sih Mbak ikut campur!"


"Liat aja kamu nantinya bakal kaya apa!"


Setelahnya Sisca keluar dari apartemen itu, dirinya sudah lelah menasihati Erina, tapi nampaknya tidak membuahkan hasil apapun. Erina tetap seperti semula dan tidak mau sadar jika dirinya itu salah.


***


"Bunda ayo duduk disana!"


Raina hanya mengikuti langkah kecil putrinya menuju ke kursi taman yang dekat dengan air mancur. Terdapat sebuah permen kapas di tangan kiri Mikaila sedangkan di tangan kanannya sebuah es krim dengan rasa stroberi nampak sangat lezat.


"Bun mau beli itu."


Mikaila menunjuk kedai boba yang berdiri tidak jauh dari mereka, tetapi Raina langsung menggeleng tanda tidak setuju. Bukannya dia pelit tidak mau membelikan minuman itu, tapi ia tidak ingin Mikaila terdidik boros karena setiap keinginannya dipenuhi. Tadi mereka sudah pergi ke kedai donat dan sekarang tangan anak itu juga penuh dengan makanan.


"Mikaila kan udah beli banyak, udah kenyang juga nanti kalau beli lagi terus nggak habis mubazir dong namanya."

__ADS_1


Anak itu mengangguk menuruti Raina, di tangannya memang masih ada makanan jadi.


"Tapi nanti kalau udah habis semua, terus Mikaila masih laper boleh ya?"


"Iya dong sayang."


Seorang lelaki datang mengalihkan perhatian Raina. Kala, lelaki itu tersenyum pada Raina.


"Kala."


Perhatian Kala teralihkan pada Mikaila yang duduk disamping Raina. "Ini anak kamu."


"Iya Kal, namanya Mikaila." Raina mengambil es krim di tangan kanan Mikaila. "Salim dulu sama om."


Mikaila menyalimi tangan Kala, dengan senyuman manisnya.


"Cantik banget ya Mikaila."


Anak itu hanya tersenyum malu.


Kala menekuk lututnya, menyamakan tingginya dengan mikaila. "Cantik, udah kelas berapa sekarang?"


"Kelas satu om."


***


Kala ini memang sudah seharusnya menikah, di usia ini dia terlihat sudah begitu menyayangi anak-anak. Selain itu Raina juga sudah sangat mengenal Kala sebagai orang yang sangat bertanggungjawab.


"Bentar ya Om, Mikaila mau ke kamar mandi dulu."


Setelah mendapat anggukan dari Kala, Mikaila menyerahkan boneka di tangannya, lalu segera beranjak.


"Udah cocok nih jadi ayah, jadi kapan mau nikah Kal?"


Kala hanya tersenyum simpul mendengarkan kalimat itu.


Bohong jika dalam pertemanan dua orang lawan jenis itu tidak ada apa-apanya, dulu Kala sempat memiliki sebuah rasa yang disebut cinta pada Raina. Tapi saat itu juga dia tahu jika Raina memang sudah memiliki kekasih, sehingga rasa itu diharuskan pupus dengan perlahan.


"Kalo ada calonnya sih gas aja."

__ADS_1


"Eh sama temenku gimana? Lancar nggak?"


Kala menggaruk tengkuknya, beberapa hari lalu Raina memang memberikan nomor Agatha padanya, tapi Kala belum sempat untuk menghubungi nomor itu.


"Belum sempet di chat."


"Gimana sih, nih ya Agatha tuh cantik, wanita karier dan yang pasti setia. Dia cocok banget sama kamu pasti."


Mengucapkan kalimat setia itu membuat hati Raina tertohok, dia sedang mencoba menjodohkan kedua sahabatnya tapi masalah dirinya sendiri saja belumlah jelas.


"Kamu sendiri gimana?"


"Maksudnya?"


"Kamu sama Rean?"


"K-kamu tahu Mas Rean selingkuh?"


Kala mengangguk, dirinya tahu lebih dulu tentang perselingkuhan Rean. Tidak sampai hati mengatakannya pada Raina dan justru sekarang Raina sudah tahu sendiri.


"Aku tahu dari awal, aku pengen bilang ke kamu. Tapi lihat kamu bahagia banget, aku jadi nggak tega ngerusak kebahagiaan kamu Raina."


Raina tersenyum, meski dibalik senyuman itu ada hati yang tercabik-cabik.


"Udahlah Kal, nggak usah bahas ini."


"Kayaknya kamu emang wanita kuat dan tidak sehancur itu Raina."


Setelah kalimat itu Raina mengeluarkan air matanya, dia kembali mengingat semua hal yang membuat hatinya begitu sesak. Tangisan itu yang diharap bisa membuatnya lega walau sebentar.


"Aku s-sangat hancur Kala."


Dengan sigap Kala memeluk Raina menenangkan wanita yang tengah berurai air mata itu. Lengannya menepuk pundak Raina memberikan sebuah rasa nyaman disana.


"Nangis sepuas kamu, luapin semuanya kalau perlu pukul aku, biar kamu lega Raina."


...━━━━━ T O  B E  C O N T I N U E━━━━━...


SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.

__ADS_1


THANKS AND SEE YOU....


^^^Central java, 04 November 2021^^^


__ADS_2