Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
64. Aku pengen Kamu.


__ADS_3

Sepasang lengan tiba-tiba melingkar di perut Raina, tentu saja wanita itu sempat sedikit terkejut sebelum selanjutnya kembali tersenyum manis. Jam masih menunjukkan pukul 5 sore dan dirinya juga baru akan memulai memasak di dapur tetapi Rean sudah kembali dari kantor.


"Kok kamu udah pulang sih Mas?"


"Aku kan nggak bisa jauh-jauh dari kamu." jawabnya, dengan posisi masih memeluk Raina.


"Yaudah sana kamu mandi, aku mau masak."


"Kok kamu masak, mbak Tati kemana?"


"Mbak Tati ijin, katanya ada acara pernikahan saudaranya."


"Yaudah kamu jangan masak, kita makan aja diluar."


Raina menghentikan aktivitas mengupas bawangnya dan memandang Rean dengan tatapan aneh.


"Kok nggak boleh sih? Masakan aku nggak enak gitu?"


"Ya enggak sayang, masakan kamu mah paling aku suka tapi aku nggak mau kamu kecapean."


"Kamu lebay banget, masa cuma masak aja kecapean."


"Usia kehamilan kamu kan masih muda sayang."


Raina memutar bola matanya, sekarang ini Rean sangat protektif terhadap dirinya. Mulai dari yang mengantarkan Mikaila sekolah sekarang harus supir bukan dirinya lagi, Raina sama sekali tidak diperbolehkan untuk pergi berjalan jauh-jauh, dan bahkan sekarang masak saja dilarang.


Mungkin Rean takut kejadian dulu terulang lagi, dulu saat mengandung Mikaila Raina masuk rumah sakit. Tetapi kondisi tubuhnya sekarang dan dahulu itu berbeda jauh, dulu makan sedikit saja langsung muntah, banyak bau-bauan menyengat yang selalu Raina hindari agar tidak muntah. Sedangkan sekarang, dirinya benar-benar tidak merasakan morning sickness atau hal lainnya.


"Mas aku tu cuma masak aja, bukan kerja rodi! Lagian kan aku udah sering bilang kalau beli di luar itu belum tentu pengolahannya bersih."


"Yaudah iya,"


Rean beralih mengecupi pipi Raina berkali-kali membuat wanita itu menyingkirkan wajah Rean.

__ADS_1


"Mas minggir ih, aku mau masak dulu."


Rean melepaskan pelukanya dan menjauh satu langkah ke belakang, "Mau aku bantuin nggak?"


"Kamu kan baru pulang, mandi dulu sana!"


Rean mengangguk dan segera menjalankan perintah Raina, tapi sebelum beranjak tak lupa ia mengecupi kembali pipi Raina. Wanita itu tersenyum geli mendapatkan perlakuan seperti itu dari sang suami.


***


Rean baru saja selesai menyisir rambutnya yang baru saja ia keringkan. Saat menyimpan sisir di laci nakas, ia menemukan sebuah albun foto, karena penasaran ia membuka album tersebut.


Senyumannya merekah begitu foto pertama yang ia lihat adalah dirinya dan Raina yang tengah berpose di depan gedung jurusan.


Rupanya album foto itu berisi foto-foto dirinya dan Raina semasa kuliah dahulu.


Rean lekas membuka halaman demi halaman foto, senyumannya terus melebar saat foto itu memutar kembali kenangan-kenangan lamanya pada masa itu.


"Mas,"


"Sayang liat deh."


Senyuman turut mengembang di bibir Raina saat menengok foto itu.


"Mas itu foto jadul nggak usah diliatin ih."


"Ini kenangan kita sayang."


"Iya tau, karena kenangan yang kamu ciptain itu bikin aku nggak bisa benci kemaren pas rumah tangga kita bermasalah."


Satu lengan Rean melingkar di pinggang Raina, "aku kangen sama kamu sayang."


Dahi Raina mengernyit, "kagen gimana orang tiap hari ketemu."

__ADS_1


"Ya kangen kamu."


Rean langsung menyambar bibir Raina, tanpa memberi kesempatan wanita itu berbicara. ********** dengan lembut sambil menikmati rasa manis dari bibir ranum itu. Terasa semakin menggairahkan saat Raina membalas ciuman itu dan mengalungkan lengannya di leher Rean.


Kini kedua lengan Rean sudah berada di di pinggang Raina, merapatkan tubuh istrinya agar semakin dekat dengannya. Selanjutnya jari-jari Rean lekas menggerayangi tubuh Raina yang membuat wanita itu memutuskan tautan bibir mereka.


"Kenapa sayang?"


Rean menyembunyikan wajahnya di leher Raina, namun baru saja akan memulai aksinya Raina sudah menjauhkan diri.


"Sayang,"


"Mas ini masih jam 7, baru juga jamnya makan malem Mas."


Rean menggaruk kepalanya yang tidak gatal, meski yang dikatakan Raina benar jika ini masih sore. Tetapi ia sudah terlanjur terjerat pada hasratnya. Bayangan tubuh yang istri yang begitu memuaskan terus bergentayangan di pikirannya karena semenjak masalah rumah tangga mereka itu, tentu mereka belum olah raga malam.


Namanya juga laki-laki.


Ceklek,


Pintu terbuka dengan Mikaila yang menyembulkan dirinya di depan pintu.


"Ayah Bunda lama banget, Mikail laper."


Untung saja Mikaila tidak datang saat beberapa menit yang lalu, jika iya kan sulit akan menjelaskan apa yang tengah mereka lakukan.


"Iya ayuk sayang."


Raina lekas melangkahkan kakinya menuju ke arah Mikaila, Rean mengusap wajahnya lalu juga ikut beranjak keluar.


...━━━━━ T O  B E  C O N T I N U E━━━━━...


SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.

__ADS_1


THANKS AND SEE YOU....


^^^Central java, 25 Desember 2021^^^


__ADS_2