Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
69. Perhatian.


__ADS_3

Kebetulan sekali, sesaat setelah Raina keluar dari kediaman Kala mobil Rean sudah terpakir di halaman. Disusul dengan lelaki itu yang keluar dari mobil, Rean masih mengenakan kemeja putih dan celana kantornya, tetapi untuk dasi dan jasnya sudah tanggal.


"Ayuk kita pulang, Mas."


"Eh, kok pulang, acaranya belum mulai loh sayang." bukan Rean yang menjawab tetapi sosok ibu Kala yang entah sejak kapan sudah berada di belakang Rean.


Pandangan ibu Kala lalu beralih pada Rean, "eh ini suami kamu, Na. Ayuk masuk dulu yuk."


"Em Tante, tiba-tiba aku nggak enak badan, jadi maaf banget ya aku nggak bisa ikut sajmpai nanti dan harus pulang duluan."


Raut wajah ibu Kala tentu berubah menjadi kecewa, "haduh sayang banget ya, Na. Yaudah deh kamu pulang terus istirahat, semoga cepet baikan."


"Iya Tante makasih." 


"Mari Tan." ucap Rean memberi sapa sebelum membukakan pintu untuk Raina.


"Iya, hati-hati kalian."


Rean melajukan mobil itu meninggalkan pekarangan rumah Kala.


"Kamu nggak enak badan? Kita ke dokter ya, kenapa kamu nggak bilang sih kalau nggak enak badan."


Raina terkekeh, mendengarkan rentetan pertanyaan Rean tersebut.


"Aku cuma pura-pura aja di depan Tante."

__ADS_1


"Beneran?"


Merasa tidak yakin, Rean langsung mengecek sendiri suhu tubuh istrinya itu.


"Beneranlah, aku kesel sama Dewi makanya aku pengen pulang."


Senyuman mereka di bibir Rean, tujuannya langsung menjemput Raina adalah juga karena Dewi. Ia tahu jika Dewi itu wanita yang otaknya agak bermasalah, ia selalu mencari masalah dengan Raina.


Karenanya Rean memutuskan untuk pergi ke rumah Kala dan mengawasi Raina, tapi ternyata Raina sudah mengajak pulang begitu ia sampai.


"Bilang apa lagi wanita gila itu?"


Raina menjadi dongkol sendiri jika harus mengingat perdebatannya dengan Dewi, "ya gitu lah Mas, aku beneran nggak nyangka Kala bisa se apes itu dapet istri kaya Dewi. Coba aja dia mau kenalan sama Agatha, nggak bakal kaya gini."


"Iya Mas, dia itu wanita yang kariernya lurus kaya jalan tol tapi untuk masalah perncintaan justru zonk."


"Sampai sekarang belum dapet?"


"Nggak tau juga sih, Mas. Kamu ada kenalan gitu laki-laki lajang yang cocok sama Agatha."


Percakapan itu berlanjut dengan Rean memabahas berapa orang lelaki di perusahaannya yang memiliki status single.


Tak terasa setelah percakapan panjang itu mobil sudah sampai di rumah mereka, Rean keluar dahulu dan segera berlari membukakan pintu untuk Raina.


"Nggak perlu dibukain ih Mas, aku bisa buka sendiri." Rean hanya menaggapi kalimat itu dengan senyuman.

__ADS_1


Saat akan menutup pintu mobil tiba-tiba erangan kecil terdengar dari bibir Rean, lelaki itu memegangi dada sebelah kirinya yang tiba-tiba nyeri luar biasa.


"Kenapa Mas?"


Rean mencoba bernafas sebaik mungkin sehingga nyeri itu berangsur mereda sedikit demi sedikit.


"Enggak papa sayang, ayo kita masuk."


Raina sekali lagi memastikan ke arah wajah Rean, melihat seulas senyuman di bibir suaminya itu Raina menjadi lega.


Sebenarnya, akhir-akhir ini Rean beberapa kali merasakan nyeri di dadanya. Rean memang juga tahu batas dirinya yang tidak boleh sampai kelelahan dan juga tidak boleh memiliki emosi terlalu tinggi.


Penyakit yang melibatkan organ jantungnya itu tidak dapat disembuhkan, hanya saja dapat membaik sepeti sekarang ini.


Setidaknya sekarang Rean hanya harus menjaga pola hidupnya, tanpa harus menkonsumsi obat-obatan dalam jumlah banyak atau menginap berbulan-bulan di rumah sakit seperti saat baru masuk SMA dahulu.


...━━━━━ T O  B E  C O N T I N U E━━━━━...


Bab ini pendek karena hanyalah potongan dari bab sebelumnya, karena terlalu panjang jadi dipotong hehe...


SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.


THANKS AND SEE YOU....


^^^Central java, 28 Desember 2021^^^

__ADS_1


__ADS_2