
"Aunty Nara."
Begitu melihat Nara yang tengah fokus ke labtobenya Mikaila langsung menghampiri Nara. Kedua lengan Nara juga turut menyambut Mikaila ke pelukannya.
"Hai sayang."
Selanjutnya pandangan Nara teralih pada Raina yang sedari tadi berjalan beberapa langkah di belakang Mikaila.
"Mas Rean nggak ikut Mbak?"
Setelah meletakan bungkusan makanan yang ia bawa di meja Raina juga ikut mendudukan dirinya di samping Nara.
"Mas Rean belum pulang nanti nyusul kesini."
Jam masih menunjukan pukul empat sore yang menandakan jika aktivitas perkantoran masih belum usai, begitu juga dengan Rean yang pastinya belum pulang dari kantornya.
Raina memang sengaja berangkat dahulu kesini karena Mikaila yang meminta, anak itu ingin cepat-cepat bertemu Nara, entah kenapa Mikaila ini sangatlah dekat dengan Nara.
"Mama papa belum pulang juga?"
"Belum mbak, paling bentar lagi pulang." ucap Nara sebelum kembali fokus ke labtobenya.
"Kamu lagi ngerjain apa Nar?"
"Tugas Mbak, lusa aku udah balik kuliah lagi."
"Loh kok cepet banget, bukannya cutinya masih sebulan ya?"
"Aunty itu ditelfonin pacarnya terus bunda."
Nara langsung memberikan tatapan tajam pada Mikaila, "anak kecil ini mulai ngadu ya." ucap Nara, seraya mengelitiki perut Mikaila yang membuat anak itu tertawa tidak henti.
"Selesaiin dulu kuliahnya, baru pacaran Nar."
Nara mencebik, "heleh, Mbak aja dulu malah udah nikah kan waktu kuliah."
"Ya makanya cukup Mbak aja yang nikah muda, kamu jangan."
"Tapi aku lihat rumah tangga Mbak asik-asik aja lurus nggak ada masalah. Itu yang bikin aku pengen ikutin jejak Mbak juga buat nggak kelamaan nikahnya. Apalagi kalau dapatnya suami yang macam mas Rean, yang super romantis ke Mbak Raina."
Senyuman di bibir Raina dengan perlahan digantikan oleh kurva datar, sebuah rumah tangga itu tidak mungkin tidak ada batu sandungannya. Pasti ada saja cobaannya, dan cobaan kemarin berhasil meluluhlantakan hati Raina hingga tidak berbentuk.
Memaafkan itu tidak mudah, Raina membutuhkan pertimbangan seribu kali untuk kembali meneruskan lembaran bersama Rean.
"Nikah itu nggak semudah ini Nara, penyatuan dua orang yang berbeda sifat, sikap dan juga didikan, bukan hanya dua orang sih, lebih tepatnya dua keluarga. Saran Mbak sih, jangan nikah muda, lebih baik kamu kejar dulu karir kamu baru kalau udah puas sama masa muda kamu baru nikah."
"Kenapa harus gitu Mbak?"
__ADS_1
"Mbak nggak mau kamu nyesel, kehidupan rumah tangga itu bukan hanya tentang kesenangannya saja, tetapi juga masalah lain selalu datang...."
"Terus nanti kamu harus cari orang yang benar-benar tepat buat kamu, karena pernikahan itu ikatan yang sakral jangan sampai dinodai dengan perselingkuhan atau hal lainnya."
"Iya Mbak."
Ceklek,
Pintu terbuka menampakan sosok ayah dan ibu Raina yang baru saja pulang dari kantor.
"Eh ada cucu Nenek." Mama langsung beranjak untuk mengecup Mikaila, begitu juga dengan Papa.
"Hai Kakek, hai Nenek."
"Udah dari tadi?"
"Baru aja nyampe kok Pa."
"Nggak sama Rean?"
Saat Papa menyebutkan nama Rean tiba-tiba saja raut wajah mama berubah. Mama tentu masih tidak menerima perbuatan Rean pada putrinya.
"Nanti mas Rean nyusul Pa."
"Oh iya Nek Mikaila mau punya adik lho."
"Bener sayang?" tanya Papa.
Raina mengangguk, "Iya Raina udah hamil dua bulan."
"Aduh Papa dapet cucu baru lagi ini, udah nggak sabar pengen gendong."
"Iya Kek, nanti kita main sama adik sama-sama ya Kek."
"Iya dong sayang."
Mama meraih lengan Raina, "mama mau ngomong berdua sama kamu."
Raina mengikuti langkah Mama yang menuju ke belakang, Papa yang melihatnya ingin bertanya tapi urung karena Mikaila yang tiba-tiba memeluk kakeknya itu.
"Kamu hamil disaat rumah tangga kamu kaya gini?" ujar Mama setelah mereka sampai dapur.
"Aku sama mas Rean udah baikkan kok Ma."
"Kamu mau maafin kelakuan bejat suami kamu itu? Mikir Raina! Kamu mendingan cerai terus pulang kesini, mama lebih dari sanggup kalau cuma nyukupin kebutuhan kamu sama anak kamu."
Raina menggeleng, ia mengelus lengan mamanya, berharap orang yang melahirkannya itu bisa sedikit meredakan emosi.
__ADS_1
"Mas Rean dijebak sama perempuan itu sehingga perempuan itu hamil anaknya mas Rean, mas tanggung jawab dengan menikahi wanita itu secara siri dan sekarang mereka sudan nggak ada hubungan apapun, kedepannya Raina bakal jaga mas Rean, supaya kejadian semacam ini nggak terulang lagi Ma."
"Apapun itu, tetep aja Rean udah ngebohongin kamu selama setahun. Memberikan uang yang seharusnya menjadi hak kamu ke istri sirinya ... Apa kamu beneran nggak sakit hati, Rean menyembunyikan pernikahannyan?"
Raina mengangguk, "sakit Ma, sakit banget. Tapi, meski kejadian itu tidak mungkin bisa Raina lupakan, Raina udah maafin mas Rean."
"Semudah itu kamu percaya sama omongan Rean?"
Mama terlihat semakin marah, nafasnya naik turun.
"Bisa aja suami kamu itu bohong sama kamu, dia aja sanggup menutupi kebohongan selama satu tahun. Kemungkinannya sangat besar kalau Rean itu juga bohong atas penjelasanya."
"Raina percaya sama Mas Rean, mas Rean juga bilang selama satu tahun itu mas Rean sama sekali nggak pernah berhubungan badan sama istri sirinya."
"Satu tahun loh, mana ada orang yang menikah satu tahun betah nggak berhubungan badan. Kamu kenapa bodoh banget sih, cuma karena Rean? Lelaki di luar sana banyak, tinggal milih, kenapa lelaki brengsek justru yang kamu pertahankan?"
"Ma-"
"Mama ini mama kamu Raina, mama nggak mungkin ngasih nasihat yang menjerumuskan. Apa yang mama omongin ini untuk kebaikan kamu bukan untuk hal lain."
Tidak ada ibu yang mau melihat putrinya menderita, seorang ibu pasti akan melakukan usaha sedemikian rupa agar anaknya bisa bahagia.
"Tinggalin Rean!"
"Ma aku sama mas Rean udah beneran baikan."
"Raina jangan bodoh, orang yang udah pernah selingkuh pasti akan selingkuh lagi, karena selingkuh itu nikmat."
"Tolong Ma, di kesempatan kedua ini kita lihat Mas akan seperti apa, dia bakal ngulangin kesalahannya atau nggak. Kalau mas Rean ngulangin lagi, tanpa mama minta, Raina akan pergi."
"Lihat aja, kamu nanti yang akan sakit hati karena suami kamu itu!"
Raina terdiam, perkataan dari mamanya ini lagi-lagi membuatnya sangat bimbang.
"Mama nggak kasih tahu masalah ini ke papa kan?"
"Sesuai permintaan bodoh kamu itu."
Setelahnya Mama melangkahkan kakinya dari dapur, menyisakan Raina yang hanya memandang datar punggung ibunya menjauh.
...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...
SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.
THANKS AND SEE YOU....
^^^Central java, 23 Desember 2021^^^
__ADS_1