
Sisa-sisa air mata yang mengering di wajah Erina sudah tak bersisa, setelah mengetikkan pin apartemennya ia langsung masuk. Kata-kata dari Ditya tadi kini benar-benar menyadarkannya akan pentingnya kehadiran Ethan dalam hidup Erina.
Namun, setelah memasuki apartemennya ini Erina tidak menemukan siapapun, baik sang anak maupun babysitternya.
Erina meraih ponsel di tas kesayangannya, menghidupkan kembali ponsel yang tadi sempat ia matikan, lalu dengan segera mendial nomor babysitter.
Seperti perkataannya Erina tadi, jika ia akan pulang pada pukul sepuluh malam dan ini tepat pada pukul sepuluh malam.
"Hallo, Mbak kemana ya?"
Yang terdengar dari seberang hanya isak tangis babysitter yang membuat perasaan Erina tidak karuan.
"Mbak jawab saya!"
"Di dirumah sakit Bu."
"Rumah sakit?! Kok bisa? Ethan dibawa kerumah sakit?"
"I-iya Bu."
"Kirim alamat rumah sakitnya."
Klik,
Setelah sambungan telepon itu mati, sebuah alamat rumah sakit terkirim melalui pesan. Dengan segera Erina melangkahkan kakinya kembali untuk pergi ke area parkiran yang berada di lantai dasar.
Membawa mobilnya untuk segera pergi ke rumah sakit yang tidak jauh dari kawasan apartemen itu.
Tidak begitu lama mobilnya sudah terpakir di area parkiran rumah sakit, dengan langkah cepatnya Erina berlari menuju ke UGD. Ia menjumpai babysitter yang duduk di kursi bersama Sisca, dan juga Rean yang berdiri di depan pintu UGD itu.
Begitu Erina sampai Rean langsung melangkahkan kakinya mendekatinya.
"Darimana kamu?"
Pertanyaan dengan nada bicara super dingin itu mampu membekukan Erina hingga ia tidak bisa untuk sekedar menjawab.
"Darimana?!" saat nada itu naik satu oktaf dan disertai penekanan, barulah air mata Erina turun.
__ADS_1
"Kamu lihat anak kamu lagi sekarat di dalem tapi masih sempat-sempatnya pergi keluyuran?! Ibu macam apa kamu ini!" ucap Rean dengan nafasnya yang naik turun.
Sisca yang melihat Rean berteriak-teriak langsung menenangkan lelaki itu, ini adalah rumah sakit dan berteriak dengan nada sekeras itu tentu saja membuat kemungkinan untuk di usir oleh satpam.
"E-ethan kenapa?"
Meski dengan susah payah hanya dua kalimat itu yang mampu Erina utarakan, ia juga sangat takut mengenai kondisi Ethan. Masih dia ingat 3 jam yang lalu babysitternya memberitahukan jika Ethan tidak mau diam menangisnya.
Tetapi saat itu Erina menganggap jika anak itu hanya sedang rewel tidak tahu jika akan sampai masuk rumah sakit seperti ini.
"Kamu yang harusnya 24jam menjaga dia, nggak tau anak kamu kenapa?" tanya Sisca.
Sisca juga sangat geram dengan Erina, tadi Mbak babysitter menelpon Sisca jika Ethan tidak mau diam menangisnya, bahkan bibir anak itu sampai membiru. Karena khawatir Sisca yang baru akan bernajak tidur itu datang ke apartemen.
Sampai disana kondisi Ethan sudah semakin parah, anak itu kejang-kejang dengan wajahnya yang ikut membiru.
Langsunglah Sisca membawa Ethan ke rumah sakit dan menghubungi Rean. Ia sempat bertanya pada mbak babysitter tentang kemana perginya Erina dan babysitter hanya menjawab Erina sedang pergi dan tidak ingin diganggu.
Padahal ia sudah memberitahukan kondisi Ethan yang tidak mau berhenti menangis sejak tadi sore.
Ceklek,
Erina langsung berlari pada dokter itu, "Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Erina.
Dokter dengan gurat wajah lelah itu terdiam sejenak. "Keadaannya kritis, dan ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan pada orang tuanya. Mari ikut ke ruangan saya."
***
"Anak ini mengalami asianotik, atau adanya gangguan bawaan pada jantungnya. Apakah dari orang tua atau kakek neneknya ada yang memiliki kelainan jantung?" ungkap dokter itu.
Tangis Erina semakin menjadi, ia sama sekali tidak menyangka jika keadaan Ethan akan sampai seperti ini.
"Saya, Dok." jawab Rean.
Dirinya memang memiliki riwayat penyakit jantung dan tidak tahu jika penyakit itu menurun pada Ethan.
Dokter itu mangngguk, lalu mengalihkan perhatiannya pada Erina, "seharusnya anak ini mendapatkan perawatan dari dulu, apakah memang anak ini tidak pernah chek-up kesehatan di rumah sakit? Apakah ibu juga tidak melihat adanya tanda-tanda anak ibu kurang sehat."
__ADS_1
Erina menggeleng, selama ini ia tidak terlalu dekat dengan Ethan, jarang sekali menggendong anak itu. Erina sama sekali tidak memperhatikan kesehatan Ethan.
Jangankan membawa chek-up, imunisasi saja babysitternya yang pergi atas inisiatif sendiri. Erina selama ini hanya seperti seseorang yang dirumahnya ada seorang anak dan babysitter tinggal.
Dan justru saat akan berubah semuanya telah terlambat, Ethan sudah terbaring lemah di ranjang pesakitan.
"Apakah bisa di obati dok?"
Dokter itu menggeleng, "sudah terjadi komplikasi, anak ini selain terlambat diketahui penyakitnya juga saat kambuh terlambat, terbukti dengan sampai disini sudah kejang-kejang dan seluruh tubuhnya membiru."
Ceklek,
Pintu ruangan terbuka dengan tidak sabaran.
"Dok, pasien kejang lagi."
Dokter itu dengan segera keluar ruangan disusul oleh Rean dan Erina yang juga turut pergi ke depan ruang UGD.
"Apa kata dokter?" tanya Sisca begitu melihat Rean dan Erina keluar.
Baik Rean maupun Erina tidak ada yang menjawab, Sisca hanya menghela nafas menyadari raut wajah mereka yang terlihat tidak baik-baik saja.
Detik demi detik berlangsung, menyisakan orang-orang penuh kekhawatiran yang tengah memunggu kepastian dari sang dokter yang mencoba menyelamatkan kembali Ethan.
Seperti de javu, pintu UGD itu kembali terbuka menampakkan gurat kelelahan dari dokter dan beberapa perawat di belakangnya.
"Maaf kami sudah melakukan yang terbaik."
Detik itu juga tangisan mereka pecah.
...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...
SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.
THANKS AND SEE YOU....
^^^Central java, 30 Desember 2021^^^
__ADS_1