Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
Bagian 103


__ADS_3

Sore ini Rean sudah dipindahkan ke ruang rawat, kondisinya sudah membaik meski belum benar-benar baik. Raina memasuki ruangan dengan sebuah piring di tangannya, tentu isinya adalah menu sehat dari rumah sakit.


"Mas, makan dulu."


"Kalau makan itu yang ada tambah sakit."


Nasi dengan sayuran yang Rean yakin rasanya hambar, dahulu ia pernah berbulan-bulan di rumah sakit dan rasa makanannya tidak cocok dengan lidahnya.


"Tapi kalau aku yang suapin jadi enak loh."


Rean terkekeh mendegarkan itu, saat satu suapan Raina sodorkan Rean menerimanya.


"Oh ya, Mikaila dirumah sama siapa? Papa ke kantor terus mama disini kan?"


"Mikaila dirumah sama Mbak Tati, tadi papa bilang pulang kantor mau anterin Mikaila kesini. Kemarin pas diajakin kesini nggak mau pulang dia, nangis terus maksa masuk ICU."


Rean tentu merasa sangat bersalah, putrinya pasti sangat sedih melihat kondisinya yang kemarin begitu buruk.


Ia tentu tahu jika Mikaila sangatlah dekat dengan dirinya, anak itu akan selalu meminta video call berkali-kali saat ia harus keluar kota dan akan selalu menunggunya pulang jika Rean mengatakan tidak akan lembur.


"Makanya kamu harus cepet sembuh, Mas."


"Cepet kok sembuhnya kalau ada kamu yang rawat aku."


"Mas masih sempet-sempetnya ya gombal."


"Emang nggak boleh gombal ke istri sendiri?"


"Ni mendingan kamu makan lagi yang banyak biar cepet sembuh."


"Udah sayang, aku udah kenyang."


"Belum juga separuhnya yang habis!"


"Yang penting kan udah makan sayang."


"Mas berat badan kamu turun drastis loh, udah kerempeng kaya gitu."


"Kerempeng gini kamu tetep cinta kan?"

__ADS_1


Ceklek,


Pintu terbuka menampilkan sosok mama disana, raut wajahnya tidak menampakan senyuman hanya raut wajah yang datar.


"Na, mama mau ngomong sama Rean berdua, bentar aja ya."


"Oh iya Ma."


Dengan segera Raina melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, tidak ada yang aneh tentu ia membiarkan seorang ibu yang ingin berbicara berdua dengan anaknya.


"Mama kecewa sama kamu!"


Alih-alih ditanyakan kabarnya, ataupun bagaimana keadaannya tetapi justru kalimat dingin itu yang mama lontarkan.


Tetapi Rean paham pembicaraan ini tengah menjurus kemana.


"Raina udah cerita semuanya ya, Ma?"


"Raina kamu bilang? Bahkan sedikitpun dia nggak ngomong apa-apa sama, selama ini mama selalu menyempatkan waktu seminggu sekali untuk menghubungi Raina tapi bahkan dia nggak cerita sedikitpun sama mama, di masih ngelindungin kamu setelah hal bagitu mengecewakan itu kamu lakukan."


Baru saja ibu Raina menceritakan semuanya ke mama, tentu saja hal itu membuat mama terkejut.


Memang mama tidak pernah absen menelpon Raina seminggu sekali atau sebulan sekali, sekedar bertukar kabar dan berbagi cerita tetapi selama itu juga Raina tidak pernah sedikitpun menyinggung tentang Rean.


Tetap tersenyum kepada mama seolah semuanya baik-baik saja, Raina begitu melindungi Rean dan tidak ingin keburukan suaminya itu diketahui oleh mama.


"Gimana bisa kamu sejahat itu Rean? Bahkan mama nggak percaya saat pertama kali mendengarnya tadi."


"Rean tau itu salah Rean, tapi sekarang semuanya udah selesai juga kok, Ma."


"Kamu cuma beruntung aja karena Raina begitu mencintai kamu!"


Sebenarnya pernyataan itu juga salah, usaha Rean untuk mempertahankan semuanya juga tidak main-main. Dia benar-benar membutikan jika dirinya memperjuangkan rumah tangganya bersama Raina.


Bukan hanya Raina tetapi Rean juga adalah korban.


"Kamu jangan sampai mengulang kesalahan kamu Rean! Raina itu sangat berarti buat mama, dia sudah mama anggap lebih dari anak mama sendiri, jangan sampai kamu sakiti dia."


"Ma, dari dulu maupun nanti aku sama sekali nggak ada niatan buat nyakitin Raina. Kayaknya mama belum denger kejadian yang sebenarnya terjadi saat itu."

__ADS_1


***


Tok... Tok... Tok...


Sudah beberapa kali mama Dewi mengedor pintu begitu juga dengan teriakannya yang terus meneriakan nama Dewi. Tetapi sang empunya nama tidak kunjung membuka pintu kamar yang terkunci.


"Dewi bukan pintunya! Dewi!"


Surat dari pengadilan baru sampai tadi siang, surat yang menyatakan jika mereka berdua resmi bercerai semenjak ketuk palu beberapa hari lalu.


Dewi terus mengurung dirinya dikamar tanpa menjawab panggilan dari mama dan mengunci pintu kamar. Dan beberapa menit lalu mama mendengarkan sebuah teriakan.


Tentu saja mama sangat khawatir jika Dewi melakukan hal-hal diluar nalar.


"Dewi!"


"Dewi buka pintunya!"


"Pa, bukannya kita punya kunci cadangan ya?"


"Punya kayaknya, sebentar papa cariin di gudang."


Tidak begitu lama papa sudah kembali dari gudang dengan berhasil menemukan kunci cadangan.


"Ayo Pa buka."


Begitu pintu dibuka nampaklah kamar Dewi yang sudah seperti kapal pecah, Dewi terbaring di lantai kamar dengan pergelangan tangan yang mengeluarkan banyak darah. Tentu papa dan mama dibuat sangat terkejut dengan apa yang terjadi.


"DEWI!"


━━━━━ P K M T M K━━━━━


Bagaimana kira-kira keadaan Dewi?


Jangan lupa berikan like dan juga sebuah kalimat di kolom komentar sebagai bentuk aparesiasi, setiap jejak kalian sangat dihargai!


Terimakasih and love you full.


With love,

__ADS_1


Khalisa🌹


__ADS_2