
Saat tiba di rumah Raina sudah mendapati mama mertuanya alias ibu dari Rean sudah berada di dalam rumah, senyuman khas selalu wanita itu tampakkan memperlihatkan wajahnya yang masih cantik meski usianya sudah tidak muda lagi.
"Eh Mama, loh Mama kapan pulang?" Raina langsung menyalami mertuanya itu.
"Mama tuh dari bandara langsung kesini sayang, ini baru nyampe."
"Loh kok nggak bilang-bilang, kan Raina sama Mas Rean bisa jemput ke bandara."
Kedua orang tua Rean berada di Los Angles sejak dahulu, sibuk dengan bisnis mereka disana. Sangat jarang sekali mereka pulang, mungkin hanya saat lebaran saja pulangnya.
Kediaman keluarga besar Atmaja letaknya cukup jauh dari rumah Raina dan Rean ini, membutuhkan waktu sekitar 1 setengah jam untuk sampai. Kediamana itu ditempati oleh keluarga paman, bibi dan juga uti Rean. Kediaman yang besar karena di dalamnya ada 3 kepala keluarga yang tinggal.
Awalnya Rean menawarkan pada Raina untuk tinggal disana saja bersama anggota keluarga Atmaja yang lain karena ia mereka tentu diberi tempat disana, tapi Raina tentu menolaknya. Disana ramai, ada paman bibi sepupu juga jadi ia rasa tidak akan terlalu nyaman tinggal dengan banyak orang meski rumah itu sangat besar.
"Kan Mama mau kasih kejutan."
Raina tersenyum dan mengangguki mertuanya itu.
"Apa kabar nih menantu Mama paling cantik?"
Rean adalah anak tunggal dan kedua orang tuanya selalu di luar negeri, sehingga Rean dirawat oleh uti.
"Baik banget dong Ma, Mama sendiri gimana?"
"Baik sayang."
"Papa nggak ikut Ma?"
"Enggaklah, dia itu gila kerja mana mau ikut pulang, untung aja ya gila kerjanya nggak nurun ke Rean."
"Iyaa Ma."
"Mikaila belum pulang?"
"Belum Ma, nanti jam sebelas pulangnya."
"Oh, terus kamu yang jemput?"
__ADS_1
"Iya Mah, oh iya Mama istirahat dulu aja pasti capek kan, mau dibikinin minum apa?"
Mama mengernyitkan dahinya, "kamu yang bikin minuman? Pembantunya mana? Kok nggak kelihatan semenjak mama datang."
"Kita nggak ada pembantu Ma."
"Loh kok nggak ada, terus siapa yang kerjain kerjaan rumah?"
"Ya aku Ma."
"Masak?"
"Aku juga—"
"Kebangetan banget sih Rean itu, biarin menantu Mama capek masak dan bersihin rumah. Palingan seberapa sih bayar pembantu tuh, nggak mahal masa Rean pelit banget sih!"
"Enggak gitu Ma, tapi aku sendiri yang mau, lagian kan daripada nggak ada kerjaan dirumah jadinya nggak papa—"
"Nggak boleh! Menantu Mama nggak boleh capek."
"Nggak capek Ma, lagian daripada nggak ngapa-ngapain."
Raina hanya tersenyum pasrah, kata-kata dari ibu mertuanya ini sama sekali tidak dapat ia ganggu gugat.
***
Sang raja malam kini telah menggantikan tugas mentari untuk menerangi bumi, meski cahaya remang tapi tentu itu sudah lebih dari cukup karena bulan tidak akan pernah bisa bersinar seterang mentari.
Mungkin sebagian orang sudah bersiap-siap untuk beranjak ke ranjang dan terlelap tetapi berbeda dengan Mikaila yang tengah duduk di pangkuan neneknya sembari menonton kartun.
Raina datang dari dapur membawakan camilan hasil olahan tangannya sendiri.
"Eh iya, Rean kok belum pulang udah jam segini?"
Jam menunjukan pukul delapan malam, sedangkan jam pulang kantor Rean itu jam 16.30.
"Biasa Oma, ayah mah pulangnya malem terus kadang malah pulang pagi."
__ADS_1
"APA?!"
"Enggak gitu Ma, akhir-akhir ini Mas Rean emang lagi banyak banget kerjaannya, jadinya Mas Rean lembur terus. Terus Mas Rean pulangnya sering pas Mikaila udah tidur, tapi Mas Rean pulang terus kok tiap hari."
"Telfon suami kamu sekarang!"
Raina mengambil handphonenya, langsung mendial kontak sang suami.
"Aku ke deket jendela ya Ma, disini sinyalnya jelek."
Alasan Raina menjauh tentu karena takut jika saat ini Rean tengah dirumah Erina, ia masih sangat berbaik hati menyembunyikan perselingkuhan Rean di depan mertuanya itu. Karena jika terbongkar tentu akan terjadi masalah besar, ibu Rean itu pasti akan marah besar dan tidak tahu lagi yang akan terjadi kedepannya.
"Hallo, Mbak."
Untung feeling Raina tepat, bukan suara Rean melainkan Erina.
"Mas Rean mana?"
"Lagi nidurin anak kita tuh."
"Kasih handphonenya ke Mas Rean."
"Mbak mau ngomong apa? Bilang aja, nanti aku sampaiin ke Mas Rean."
"Kamu nggak punya hak buat bilang kaya gini, cepetan kasih handphonenya ke Mas Rean!"
Tidak ada sahutan dari Erina, tapi tidak lama kemudian terndegar suara Rean.
"Hallo sayang."
"Mama ada dirumah, cepetan pulang!"
Tanpa menunggu Rean menjawab Raina sudah menutup pamggilannya, jujur saja dia tidak baik-baik saja mendengar jika Erina yang menjawab panggilan itu bukannya Rean langsung.
...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...
SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.
__ADS_1
THANKS AND SEE YOU....
^^^Central java, 13 October 2021^^^