Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
86. Keputusan Kala.


__ADS_3

"Kamu dari mana Mas?"


Baru saja Kala melangkahkan kakinya di depan pintu, Dewi sudah menyambut dengan tangan yang terlipat di dada.


Jam baru saja menunjukan pukul sembilan pagi tetapi Kala sudah pulang daru rumah ibunya, karena disana ternyata ia hanya diceramahin.


"Dari rumah Mama."


"Loh kok aku nggak di ajak sih?"


Kala hanya diam, tidak berniat menjawab Dewi.


"Mas kamu mikir nggak sih kalau kamu kesana sendiri itu bakal bikin keluarga kamu mikir macem-macem loh, nanti dikiranya kita ada masalah jadinya kamu pergi ke rumah sendirian."


Kala menghela nafas panjang, justru tujuannya ke rumah sang mama adalah agar tidak berhadapan dengan Dewi, sudah ia pastikan mereka akan ribut jika duduk berhadapan.


"Mas kamu denger aku nggak sih?!"


Kali ini suara Dewi terdengar naik beberapa oktaf.


Kala sudah tidak bisa menahannya, ia tidak bisa jika harus terus-menerus mengalah agar keadaan rumah tangganya baik-baik saja.


Dewi sudah keterlaluan dan berbicara dengan nada setinggi itu pada suaminya tentu merupakan hal yang melukai harga diri Kala.


"Kamu bisa nggak sih sedikit aja hargain aku sebagai suami kamu!"


"Bukannya aku nggak hargain kamu Mas, tapi yang salah itu kamu, coba kamu sehari aja bikin aku tenang nggak mikir macem-macem aku juga bakal diam aja Mas!"


"Aku yang nggak hargain kamu? Kamu gila! Emang aku ngelakuin apa sampai kamu mikir macem-macem?"


"Kamu tiap weekend selalu pergi entah kemana, katanya ke rumah mama, tapi aku yakin bukan. Punya selingkuhan kan kamu, makanya kamu nggak betah dirumah!"


"Gimana kalau kenyataannya aku nggak betah dirumah itu karena kamu?"


Dewi menukkikan kedua alisnya, pernyataan Kala itu sama sekali tidak bisa ia terima sedikipun. Menurutunya ia sudah berusaha menjadi istri yang baik untuk Kala, mencintai lelaki itu dengan sepenuh hatinya.

__ADS_1


Namun, cinta milik Dewi itu salah, karena cintanya mengekang Kala dan dipenuhi oleh keegoisannya sendiri.


"Mas aku salah apa emangnya?"


"Kamu seharusnya bisa pikirin sendiri apa kesalahan kamu."


"Emang apa Mas? Aku nggak punya salah!"


"Terserah kamu, aku capek."


Bukan hanya tubuhnya yang lelah menghadapi Dewi tetapi juga pikiran dan hatinya yang sudah berada di ambang batas kesabaran.


"Oh aku tahu, kamu masih mempermasalahkan keinginan aku untuk liburan di kapal pesiar beberapa minggu lalu kan? Kamu terus-terusan bilang aku egois, padahal aku juga pengen kita liburan itu memiliki dampak positif ... Kita kan belum bulan madu dan siapa tahu pulang liburan aku hamil."


Selama menikah hubungan intim mereka mungkin masih bisa dihitung jari jumlahnya, yaitu saat awal-awal pernikahan saja. Dewi memang sangat pintar di ranjang, wanita itu akan menguasai permainan dan membuat Kala sangat puas.


Tetapi terlepas dari hal itu Kala enggan kembali menggauli Dewi karena sudah tahu bagaimana sifat asli dari Dewi, semua kenikmatan itu tidak seberapa dengan pandangan yang sudah terlanjur buruk pada Dewi.


"Itu yang aku sayangkan, kamu tuh egois banget, Wi."


"Kamu kenapa bilang kaya gitu? Jahat banget ya Mas udah nyakitin hatiku."


"Apa maksud dari kalimat nggak cocok itu Mas!"


Hati Dewi tentu terbakar, tapi mau bagaimana lagi Kala sudah muak untuk mengalah dan bertahan.


"Perpisahan yang terbaik buat kita."


"Kamu gila! Penikahan kita baru seumur jagung, kita belum punya anak juga. Gimana bisa semudah itu ngomong perpisahan?"


Kala sudah memikirkan hal ini matang-matang, karena tidak mungkin ia bisa bertahan lebih lama lagi dengan sifat Dewi yang seperti ini.


"Ini keputusanku!"


Kala hendak melangkahkan kakinya, tetapi Dewi mencekal lengan Kala. Tentu ia tidak rela jika harus berpisah dengan Dewi.

__ADS_1


"Aku cinta banget sama kamu Mas, kamu tega liat aku menderita?"


Dalam sebuah perpisahan tidak mungkin itu indah, pasti ada pihak yang akan terluka tetapi jika Kala tidak menceraikan Dewi, justru dirinya yang akan menjadi lelaki tidak tegas terus-menerus berada di belenggu Dewi.


"Ini udah keputusanku."


"Kamu nggak bisa mutusin hal sepihak kaya gitu! Kamu mikir nggak sih gimana nanti orang-orang menilai tentang kita."


"Nggak perlu mikirin tanggapan orang, mereka cuma menonton nggak ikut merasakan masalahnya."


"Emang apa masalahnya, kan kamu yang terus-menerus bikin aku curiga, terus menrus nggak mau turutin permintaan sederhana ku."


Permintaan sederhana katanya, apakah tidak salah? Itu lebih pantas disebut permintaan kekanakan.


"Sebagai seorang wanita aku lakuin semua ini untuk rumah tangga kita juga, aku perhatian sama kamu, pengen berduaan sama kamu. Ini itu pemintaan yang sederhana Mas."


"Bukan permintaan sederhana tapi itu bentuk keegosian kamu!"


"Jangan sembarangan ngomong kamu ya, Mas!"


"Semua manusia punya kesalahan, aku yakin aku juga punya kesalahan ke kamu. Jadi sebaiknya kamu berkaca apa saja sikap kamu yang bikin aku menyerah."


"Gila kamu Mas, aku istri yang sempurna buat kamu tapi kamu kenapa kaya gini? Jangan-jangan bener ya kalau kamu itu selingkuh. Mana selingkuhan kamu, aku mau lihat."


"Nggak ada orang ketiga, aku cum—"


"Pasti Mbak Raina kan? Kamu pasti selingkuh sama mbak Raina!"


"Terserah kamu mau ngomong apa!"


Kala beranjak dari rumah itu, bersamaan dengan teriakan Dewi yang terus menyuruh Kala untuk kembali.


...━━━━━ T O  B E  C O N T I N U E━━━━━...


SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.

__ADS_1


THANKS AND SEE YOU....


^^^Central java, 29 January 2022^^^


__ADS_2