
"Aku nggak mau!"
Erina menundukkan pandangannya, saat ini sedang ada Rean di apartemennya. Lelaki itu meminta pada Erina untuk menjelaskan semuanya ke papa agar semuanya lebih jelas. Jika Erina yang mengatakan semua yang terjadi kemungkinannya lebih besar untuk papa percaya.
Namun, Erina tentu tidak bersedia. Dirinya memang sudah berubah, dan tengah berbenah diri menjadi lebih baik lagi.
Menjelaskan semua kesalahan bodoh dan memalukannya itu tentu melukai harga dirinya sangat dalam. Hal yang menjadi sumber luka masalalunya itu ingin ia tutupi.
"Kamu yang menyebabkan semua masalah ini, kamu nggak bisa lepas tangan begitu saja."
"Mas aku punya harga diri, aku nggak serendah itu untuk mengatakan semuanya di depan orang lain."
"Kenapa baru sekarang kamu membicarakan tentang harga diri? Kenapa nggak dari dulu aja pas kamu belum hancurin rumah tanggaku?"
Erina mengepalkan kedua lengannya, dia tahu jika dirinya salah dan saat ini ia tengah berproses menjadi seseorang yang lebih baik lagi.
"Kamu harusnya tau, semenjak perbuatan menjijikan itu, kamu udah nggak punya harga diri. Saat itu kamu pasti sudah kehilangan martabat dan harga diri sebagai seorang wanita."
"Jaga kamu bicara Mas!"
Rean tidak sadar jika kalimat tiu begitu menyakitkan untuk Erina yang abru saja ingin berubah.
Tetapi tetap saja, perbuat Erina kemarin tidak bisa dengan mudah dilupakan. Bukan hanya rumah tangganya yang hampir hancur tetapi Rean juga tidak mendapatkan kepercayaan dari papa mertua.
"Perbuatan kamu tidak akan termaafkan, baik olehku ataupun Raina."
"Mas jangan berlagak seperti kamu yang paling tersakiti, aku juga selama ini menderita karena selama ini kamu nggak kasih perhatian ke aku."
Rean terkekeh.
Erina tetap tidak bisa jika menyebut dirinta juga korban, karena kenyataannya dia adalah pelaku.
Erina yang mensetting semua hal yang kemarin terjadi, dia yang salah karena terjerembab dengan keinginan naifnya.
"Kamu pikir gimana rasanya saat ada seseorang yang menghancurkan sebuah rumah tangga yang harmonis, bukan hanya aku dan Raina tetapi anak-anak dan keluarga kami yang mendapatkan dampaknya. Setelah semua itu begitu mudahnya kamu bilang kamu juga menderita."
Erina terdiam, memang sekuat apapun ia membantah tidak akan bisa karena yang menyebabkan semua masalah itu ya dirinya sendiri. Ia adalah titik awal masalah.
Terkadang penyesalan juga hinggap dalam dirinya yang telah melakukan hal bodoh itu.
"Sekarang pertanggungjawabkan semua dengan menjelaskan ke orang tua Raina."
__ADS_1
"Aku udah bilang nggak mau, Mas. Kurang jelas apa lagi."
Erina tidak bersedia jika harus menanggung malu di depan orang tua Raina dengan mengakui semua perbuatannya.
"Apartemen ini masih atas namaku, kamu bisa pergi darisini kalau tetap tidak ingin mengatakannya."
Sampai saat ini Erina masih menepati apartemen yang Rean berikan, Erina tidak bekerja dan hanya makan dengan uang yang masih tersisa di rekeningnya. Erina juga menjual beberapa koleksi tas miliknya karena tidak memiliki pemasukan sama sekali.
Jika ia juga diusir dari apartemnnya maka Erina sudah tidak memiliki tempat lain, kakaknya ikut bersama suami tidak mungkin akan bersedia menampungnya setelah peristiwa kematian Ethan.
"Mas kok kamu jadi kaya gini, gimanapun kita pernah nikah loh."
"Nggak tau malu ya kamu!"
"Mas emang setahun itu nggak berarti sama sekali buat kamu."
"Berarti? Apanya yang berarti? Dengan kehadiran kamu yang menghancurkan kehidupanku, emang ada artinya?"
Erina kalah telak, pada dasarnya memang dia yang salah jadi mau dikatakan bagaimanapun tetap tidak akan menjadi benar.
"Terserah kamu, Mas."
"Kamu tetep milih nggak mau mengakuinya dan bersedia pergi darisini, emangnya kamu mau kemana?"
"Masih ada Ditya, lelaki yang bersedia dengan tangan terbuka nerima aku."
Rean terkekeh, bagaimana bisa nasibnya seburuk ini, sedangkan Erina yang notabennya sudah menghancurkan semuanya justru tidak mendapatkan petaka, justru sosok lelaki sempurna seperti Ditya menghampiri dirinya.
"Bisa-bisanya orang nggak punya hati kaya kamu, bisa mendapatkan kebahagiaan, setelah menghancurleburkan rumah tangga orang. Aku iri sekali Erina."
***
Ting... Tong...
"Ya sebentar."
Ditya yang tadinya tengah sibuk dengan laptopnya lekas beranjak ke arah pintu, dibukanya pintu itu dan nampaklah sosok Erina dengan wajah murungnya.
"Eh Rin, masuk."
Erina mengangguk dan lekas memasuki apartemen Ditya, tak lupa dua buah koper besar berada di lengan wanita itu.
__ADS_1
"Loh kamu mau kemana kok bawa koper?"
"Tadi Mas Rean dateng dan ngusir aku, aku harus gimana Dit, aku nggak punya lagi tempat tinggal Dit, tolong aku."
Ditya tahu seperti apa tabiat Rean, meskipun sekarang perusahaannya tengah dalam masalah ia tidak akan mengambil apartmen yang sudah ia berikan pada Erina.
"Bukannya kalian udah nggak saling berhubungan?"
"Mas Rean maksa aku buat mengakui semuanya di depan orang tua Mbak Raina. Aku nggak bisa Dit, seharusnya Mas Rean tahu jika itu sangat memalukan. Hal itu adalah luka terberat yang berusaha aku lupakan, bukan hal yang bakal aku umbar-umbar lagi."
Ditya mengangguk, kini ia tahu titik permasalahannya.
Meski Erina juga bersalah, tetapi kali ini Ditya tengah mencoba membantu Erina keluar dari keburukkannya itu.
"Benar, itu juga luka buat kamu, karena Erina yang sekarang bukanlah Erina yang dulu. Tapi, masalah ini juga kamu yang harus membantu menyelesaikan."
"Kamu nyuruh aku untuk mempermalukan diriku di depan orang tua mbak Raina."
"Bukan mempermalukan diri tetapi menebus semuanya, kamu harus membuka lembaran baru tetapi ada satu hal yang harus kamu tebus dari kesalahan kamu sebelumnya."
"Tapi, Dit."
Tentu Erina tidak setuju, pertemuan terakhirnya dengan Raina saja ia sudah dipermalukan habis-habisan, lalu bagaimana dengan nanti.
Jujur, Erina takut jika harus mengakui semuanya di depan orang tua Raina.
"Bagaimana saat kamu sudah berubah, satu keluarga yang kamu hancurkan tengah berada dalam ketidak jelasan. Dua orang yang saling mencintai harus terpisah, begitu juga seorang anak yang harus kehilangan kasih sayang ayahnya ... memangnya kamu bisa bahagia, melihat ada keluarga yang seperti itu karena kamu tidak ingin menjelaskan semuanya?"
Entah seperti maghnet, kalimat dari Ditya itu mampu membuat Erina tergerak, perkataan yang merupakan fakta itu membuka hatinya.
"Kamu bener, tapi gimana nanti kalau aku dianiyaya sama keluarga mbak Raina?"
"Aku bakal berdiri di belakang kamu dan melindungi kamu."
"Makasih Dit."
...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...
Hmm, kira-kira Raina dan Rean jadi pisah nggak yaa, yuk tebak.
Jangan lupa pencet tombol vote dan tuliskan sepatah kata di kolom komentar.
__ADS_1
THANKS AND SEE YOU....
^^^Central java, 30 January 2022^^^