Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
85. Mana tega.


__ADS_3

Maaf baru update, kemaren sibuk banget beberapa hari. makasih ya yang udah nunggu. selamat membaca.


"Loh kok belum tidur?"


Saat Raina memasuki kamar, didapatinya Mikaila yang masih saja membuka matanya. Anak itu masih asyik menatap langit-langit kamar yang pasti menurutnya asing.


Namun jam sudah menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam, sudah seharusnya Mikaila tertidur pulas.


Raina menghamipiri anak itu duduk disebelahnya dan merapikan surai rambutnya.


"Kok wajahnya kusut gitu, kenapa?"


"Ayah janji malem ini mau pulang, tapi sekarang Mikaila malah dirumah nenek."


"Mikaila pengen ketemu ayah?"


Bukan ingin lagi, tetapi Mikaila sudah benar-benar merindukan ayahnya. Janji yang ayahnya katakan bahwa ia akan pulang sudah tepantri jelas di ingatan anak itu.


"Iya Bun, tapi nenek nggak bolehin Mikaila ketemu sama ayah kata hiks... kata nenek ayah orang jahat jadi Mikaila nggak boleh ketemu ayah."


Anak mulai itu menangis dan beranjak ke pelukan Raina, menumpahkan kesedihannya.


Tadi neneknya berbicara macam-macam setelah ia bangun tidur, mulai dari menjelekkan Rean hingga menyuruh Mikaila untuk tidak bertemu ayahnya.


Padahal Mikaila hanyalah seorang anak kecil yang sama sekali tidak memahami masalah orang dewasa. Dunia Mikaila masih dipenuhi warna dan hanya boleh merasakan kebahagiaan, begitulah baru masa kecilnya indah.


Tentu saja ucapan nenek yang secara tidak langsung memberitahukan masalah kedua orang tuanya adalah salah besar.


"Nenek nggak bener Bun, ayah Mikaila bukan orang jahat. Ayah baik sama Mikaila dan bunda kan Bun."


"Iya ayah bukan orang jahat."


"Tapi tadi nenek bilang ayah jahat, sambil matah gitu Bun."


Raina juga tidak membenarkan ibunya yang mengatakan itu pada Mikaila.


Mikaila sangat lengket dengan Rean, sehari tidak bertemu saja sudah rewel, anak itu pasti juga tidak akan menerima jika ada yang mengatakan hal buruk tentang ayahnya.

__ADS_1


"Nenek kan cuma bercanda sayang."


"Tapi nenek sambil marah-marah ngomongnya."


Air mata kembali menetes, anak itu semakin terisak lagi.


"Bun bilangin ke nenek, kalau ayah nggak jahat, ayah itu baik."


"Iya nanti bunda bilangin."


"Ayo kita pulang, Mikaila mau ketemu ayah."


"Kan udah malem sayang, besok ya kita pulangnya."


"Maunya sekarang Bun."


"Udah malem Bunda ngantuk nyetirnya, emang Mikaila tega liat Bunda nyetir sambil ngantuk."


"Tapi kalau besok, ayah udah berangkat kerja, nanti nggak ketemu ayah."


"Beneran Bun?"


Senyum merekah kini tersunging di bibir Mikaila, anak itu begitu gembira.


"Iya sekarang tidur ya, biar cepet ketemu ayahnya."


Meskipun dalam kondisi sekarang mungkin akan sangat sulit untuk bertemu Rean, Raina akan berusaha agar putrinya bisa bertemu Rean.


Ia tidak mungkin tega membiarkan Mikaila bersedih seperti itu.


***


"Kamu baik-baik aja kan sama Dewi? Kemarin Dewi curhat ke mama kalau kamu nggak bisa ngertiin dia."


Kala yang baru saja akan menyuapkan nasi ke dalam mulutnya pun menghentikan kegiatannya.


Saat ini di hari minggu Kala tengah berada di rumah ibunya, setiap hari libur seperti ini Kala selalu saja malas berada di rumah. Pertengkaran dengan Dewi yang hampir setiap hari terjadi berhasil membuatnya sangat jengah.

__ADS_1


Lalu apa sekarang, Dewi justru yang mengatakan jika Kala yang tidak bisa mengerti dirinya.


"Aku lagi makan, Ma."


"Mama kan cuma kasih nasihat, kamu itu harus ngertiin istri kamu, buat dia nyaman dong."


Seharusnya yang diberi nasihat adalah Dewi bukan justru Kala.


"Mama nggak tahu keadaan rumah tangga kita yang sebenarnya."


Keadaan dimana Kala yang selalu mengalah agar rumah tangga mereka terlihat baik-baik saja. Kala tidak lemah dan jika hanya mengurusi perdebatan dengan Dewi ia tentu bisa menang, tetapi Kala lebih memilih untuk diam.


Sebenarnya diam itu bukanlah pilihan yang tepat, jika sedari awal Kala melawan dan Dewi kalah maka Dewi tidak akan pernah berani berargumen macam-macam. Kecuali hanya menahan kenegatif thingkingannya di dalam hati.


"Maksud kamu apa?"


"Ya Mama kapan-kapan liat aja sendiri gimana Dewi yang sebenarnya."


"Memang apa masalahnya dengan Dewi? Dia putri dari teman dekat mama, makanya mama mantap mengangkat dia jadi menantu."


"Tapi mama juga pasti baru mengenal teman mama, belum mengenal jelas Dewi."


"Jangan sembarangan bicara Kala, Dewi itu istru kamu!"


"Iya suatu saat mama bakal tau, kelakuan menantu mama yang sebenarnya."


Pernikahan adalah suatu hal yang sakral, Kala juga hanya ingin menikah satu kali dalambhidupnya. Berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankan rumah tangganya, dan memberikan rasa percaya pada Dewi.


Namun, nihil. Dewi tidak bisa mempercayainya sama sekali, Dewi selalu menaruh banyak kecurigaan. Dan yang paling membuat Kala jengah adalah Dewi yang selalu berdiri dengan keegoisannya, ia baru sempat akan belajar mencintai tetapi melihat sikap Dewi, bukan cinta tetapi justru benci yang menguasai hatinya.


...━━━━━ T O  B E  C O N T I N U E━━━━━...


SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.


THANKS AND SEE YOU....


^^^Central java, 27 January 2022^^^

__ADS_1


__ADS_2