Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
57. Masih ingat.


__ADS_3

Tiada hentinya senyuman itu terkembang, penyebabnya tidak lain tidak bukan adalah bulatan kecil yang nampak di layar monitor USG itu. Rean menganggam tangan Raina dengan erat tanpa niatan sedikitpun untuk melepaskannya.


"Berapa minggu usianya dok?" tanya Raina.


"Usianya 7 minggu, masih sangat kecil dan masih mulai membentuk bentuk bayi."


"Tapi anak saya sehat-sehat aja kan dok?"


"Sehat Pak, kebetulan kondisi ibunya juga baik sehingga bayinya baik juga. Tapi usia kehamilan ini masih sangat rentan, tolong benar-benar dijaga ya...." dokter beralih memandang Raina, "Ibunya jangan terlalu banyak fikiran dan makanannya juga harus yang sehat ya, Bu."


"Pasti dok."


Setelah dari rumah sakit, Rean langsung mengajak Raina pulang tetapi ia berhenti dahulu di minimarket.


"Mau beli apa Mas?"


"Susu."


"Yaudah aku aja yang turun mau sekalian beli cemilan, kamu tunggu disini."


Rean menggeleng, "nggak, kamu nggak boleh capek, kamu mau cemilan apa? Biar—"


"Ih Mas, apaan sih orang cuma masuk kesitu masa aku capek."


"Udah kamu tunggu disini aja."


"Kalau kamu yang beli cemilan, nanti belinya yang nggak sehat semua."


Rean menghela nafas, "yaudah yuk aku anterin kamu."


"Ayok."


"Aku kesana beli cemilan, kamu ambilin susu, inget jangan—"

__ADS_1


"Jangan susu coklat kan soalnya bikin kamu enek, aku masih inget sayang."


Raina tidak bisa menyembunyikan senyumannya, mendengarkan kalimat Rean itu. Bagaimana suaminya masih ingat jika ia tidak menyukai susu choklat, sedangkan itu ia ucapkan bertahun-tahun lalu saat ia mengandung Mikaila.


Saat itu Rean membelikannya susu choklat, dan Raina marah-marah karena susu itu justru membuatnya mual.


Kenangan itu membuat Raina menggelengkan kepala jika mengingatnya, dengan segera langkahnya terbawa menuju ke area rak-rak snack.


"Mbak Raina,"


Raina mengembangkan senyumannya saat melihat ada Dewi di depannya, meski saat hari pernikahan Kala dan Dewi, wanita itu mengatakan kalimat yang tidak pantas untuknya, Raina sama sekali tidak menaruh dendam pada Dewi, menurutnya itu wajah saja karena Dewi mencintai Kala dan tidak ingin suaminya itu ada yang merebut.


"Eh Dewi kebetulan banget ya ketemu disini."


"Iya mbak, mbak Raina beli apa?"


"Ini beli cuma beli snack aja."


"Ohh,"


"Kamu mau masak daging?"


"Iya Mbak tumis daging ditambah sayur hijau, pasti enak kan tuh, Mas Kala pasti suka kan soalnya ini masakan aku sendiri."


"Tapi Wi, Kala tuh nggak suka daging, mendingan kamu ganti ayam deh, em sama jamur, Kala suka banget jamur."


Dewi menatap wajah Raina penuh selidik, "mbak pasti bohong kan?"


"Maksud kamu?"


Raina mengatakan itu tentu karena sudah hafal betul dengan makanan kesukaan Kala, Kala tidak akan memakan daging sapi dengan olahan seperti apapun karena Kala tidak menyukainya. Bahkan dalam bentuk bakso saja, jika itu bakso sapi Kala tidak akan memakannya.


"Ya Mbak bohongin aku, nanti nanti aku pulang ke rumah dan masak seperti yang mbak bilang, tahu-tahunya mas Kala malah nggak suka, terus kita jadi ribut. Itu kan yang Mbak Raina mau?"

__ADS_1


"Yaampun Dewi, prasangka macam apa itu?"


"Bilang aja Mbak Raina iri sama rumah tangga aku dan mas Kala, karena aku denger dari Mas Kala kalau suami Mbak itu main cewek ... karena suami Mbak main cewek, bukan berarti Mbak dengan mudah bisa bikin kita ribut juga."


Raina memutar bola matanya malas, istri dari sahabatnya ini adalah orang yang sama sekali tidak bisa diajak berteman. Bagaimana bisa orang sesabar Kala mendapatkan istri semacam Dewi.


"Terserah kamu aja Wi."


"Tapi aku mau ingetin ke Mbak sekali lagi, Mbak jangan godain Mas Kala."


"Jaga mulut kamu, saya bukan perempuan murahan!"


"Ya tapi kan Mbak bisa aja iri, karena suami Mbak itu nggak setia sama Mbak, sedangkan rumah tangga aku sama Mas Kala super romantis."


Raina yang sudah tidak ingin meladeni Dewi langsung melangkahkan kakinya dari tempat itu, namun dengan segera Dewi mencekal lengan Raina. Raina langsung menghempaskan tangan Dewi yang bertengger di tangannya.


"Kamu jangan kurang ajar ya, fitnah orang seenak jidat kamu!"


"Suami Mbak kan selingkuh, pasti sebentar lagi mau ditinggalin suaminya, jadi belagu Mbak, nanti kalau nangis-nangis jangan dateng ke mas Kala ya!"


"Kamu nggak perlu urusin rumah tangga orang, dan doa buruk kamu itu semoga balik ke kamu." bukan suara Raina melainkan Rean yang sudah berdiri di samping Raina.


Lelaki itu mengenggam tangan Raina dengan erat, dan membawa Raina melangkah pergi.


"Orang gila kaya dia, nggak usah di urusin sayang."


Dewi hanya bisa mengepalkan lengannya saat melihat dua orang itu melangkahkan kakinya menjauh.


...━━━━━ T O  B E  C O N T I N U E━━━━━...


SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.


THANKS AND SEE YOU....

__ADS_1


^^^Central java, 22 Desember 2021^^^


__ADS_2