
"Sayang lihat ini deh."
Raina yang tadinya sedang fokus scroll pada aplikasi instagram langsung mengalihkan perhatiannya pada sang Mama mertua.
Dengan senyum terkembang mama menyerahkan dua buah tiket pesawat dan hotel pada Raina.
"Ini tiket pesawat dan hotelnya udah mama siapin, nanti begitu kalian turun pesawat udah ada orang yang jemput dan bawa ke hotel. Hotelnya bagus, mama sengaja pilihin yang depan pantai."
Raina membelalakan matanya begitu melihat tanggal yang tertera di tiket itu.
"Loh Ma, ini besok berangkatnya?"
"Iya dong sayang, lebih cepat kan lebih baik."
Mamanya baru mengatakan rencana ini kemarin dan hari ini tiket sudah tersedia. Raina benar-benar tidak menyangka mertuanya ini begitu semangat menyiapkan semuanya untuk Raina dan Rean.
Mereka memang jarang memiliki waktu hanya berdua semenjak Mikaila hadir, liburan tentu saja Mikaila harus ikut. Namun, sekarang masalahnya hubungan Raina dan Rean sedang tidak baik-baik saja. Untuk bertatap muka saja Raina enggan apalagi jika harus honeymoon.
"Tapi Ma, kerjaan Mas Rean gimana? Nanti aja bulan madunya kalau lagi musim liburan."
"Mama udah suruh Rean buat kosongin jadwalnya seminggu kedepan, jadi nggak ada yang perlu dikhawatirkan."
Raina hanya tersenyum tipis, ia sudah tidak memiliki akal lagi untuk menolak permintaan ini.
"Mama juga udah packingin buat kalian."
Mama menunjuk dua buah koper di ujung ruangan, ada juga satu paperbag yang entah apa isinya.
"Aduh Ma seharusnya enggak usah serepot itu."
"Nggak papa sayang, Mama tuh nggak pernah disini kan jadinya ini mumpung Mama disini."
__ADS_1
"Makasih ya Ma."
"Iyaa, pokoknya nanti kalau pulang harus udah isi loh."
Raina hanya tersenyum simpul.
***
"Mas Mbak Raina aja dikasih segalanya sama kamu, mulai dari rumah mewah, mobil, uang lah aku cuma dikasih apa Mas? Aku juga istri kamu, kamu bisa adil nggak sih?"
Rean hanya memijit pelipisnya pelan, melihat berkas-berkas di tangannya saj sudah membuatnya pusing tujuh keliling, sekarang di tambah dengan kedatangan Erina.
"Apa maksud kamu?"
"Ya Mas harusnya adil!"
Selama ini saja uang yang diberikan pada Erina sebenarnya adalah hak Raina sebagai istrinya, hal itu saja sudah membuat Rean merasa sangat berdosa.
"Apartemen itu bukan apartemen murah, kamu masih nggak nyaman tinggal disana?"
"Ya tapi kan nggak sebanding dengan rumah mewah mbak Raina."
"Kamu harusnya sadar apa posisi kamu!"
Sebenarnya apapun jawaban yang akan Rean berikan pada Erina, dia tidak pernah bermaksud untuk menyinggung apalagi membuat wanita itu kesal. Tapi, Erina ini kalimatnya selalu lewat batas dan jika Rean biarkan maka akan semakin menjadi.
"Mas, kamu—"
Rean bangkit dari duduknya membuat Erina menghentikkan kalimatnya.
"Sebenarnya aku udah nggak tahan kaya gini terus, rumah tangga aku udah hancur, aku udah kehilangan kepercayaan Raina. Dan kamu terus-menerus bersikap kaya gini, gimana kalau kita cerai, aku bawa Ethan dan kamu silahkan bersenang-senang sesuka kamu."
__ADS_1
Rean tidak ingin kalimat ini sampai keluar dari bibirnya, dia tentu tidak sejahat itu memisahkan Ethan dari ibu kandungnya. Seperti apapun sikap Erina pada Ethan, wanita itu adalah ibunya yang pasti memiliki ikatan batin kuat dengan Erina.
Namun, ia sudah menyerah tidak tahan lagi jika harus seperti ini. Rean sudah menerima konsekuensi dari kebohongannya ini, yaitu dijauhi dan hilangnya kepercayaan Raina. Rean menerima semua itu karena memang semuanya adalah salahnya.
"Kamu berani talak aku? Aku bakal bilang ke orang tua kamu sama orang tua Mbak Raina kalau kita udah nikah selama satu tahun."
Rean mengangguk, "nggak papa bilang aja."
Mau disembunyikan seperti apapun, yang namanya bangkai pasti akan tercium juga baunya. Ia sudah siap jika nantinya akan dihajar habis-habisan oleh papa mertuanya, dan akan dimarahi tidak henti oleh kedua orang tuanya.
Hal itu tidak masalah baginya, karena hal yang paling menakutkan sudah ia dapatkan, yaitu hilangnya kepercayaan Raina.
Air mata Erina menetes, tentu saja ia tidak ingin bercerai dengan Rean. Sekarang ia sudah kehilangan pekerjaan, lalu harus hidup bagaimana.
"Mas, aku udah nggak kerja, sekarang–"
"Aku cariin kerjaan yang bagus buat kamu."
Erina tidak kehilangan akal, dan terus mencari alasan. "Mas kamu udah ambil keperawananku, dan sekarang mau ceraian aku begitu saja? Dimana hati nurani kamu? Dimana Mas?"
"Aku udah tanggung jawab, kasih nafkah dan juga rawat anak kita. Aku terima kamu, meski rumah tanggaku hancur, kurang tanggung jawab apa aku?"
"Kamu jahat Mas!"
Setelahnya Erina melangkahkan kakinya pergi dari ruangan itu, hatinya berkecamuk karena pembahasan kali ini.
...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...
SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.
THANKS AND SEE YOU....
__ADS_1
^^^Central java, 14 November 2021^^^