
"Kenapa adiknya bisa diperut Bunda?"
Anak itu menatap intens perut Raina yang masih datar, pertanyaannya muncul begitu beberapa menit lalu setelah ayah dan bundanya mengatakan Mikaila akan memiliki adik.
Rean mengelus pelan perut Raina, "Iya adiknya ada disini, nanti kalau udah gede dikit keluar deh, terus main sama Mikaila."
"Nanti dong sayang."
"Lama nggak Yah?"
"7 bulan lagi."
"Lama dong Yah."
"Enggak dong, yang penting kan adiknya udah ada disini ... sekarang adiknya disapa dulu coba."
Anak itu mengangguk dan lekas mendekatkan dirinya ke perut sang bunda.
"Hai adik, ini kakak, jangan lama-lama ya keluarnya, nanti temenin kakak main."
"Iya kakak." jawab Raina.
"Bund adiknya cowok apa cewek?"
"Em Mikaila pengennya apa?"
"Cewe biar bisa diajakin main barbie, eh tapi cowok aja deh bun biar keren."
"Jadinya maunya apa?"
"Apa aja yang penting Mikaila punya adik."
Rean mengusak surai putrinya itu dengan gemas.
"Eh iya sayang, mau kasih tau mama papa kapan?"
"Tadi aku udah kasih tau mama, katanya bulan depan mau pulang kesini."
__ADS_1
"Mama papa kamu maksudnya sayang."
"Oh, gimana kalau besok sore, setelah kamu pulang kerja?"
Rean menggaruk kepalanya, "Besok aku ada acara sayang."
"Acara apa Mas?"
"Pesta ulang tahun nya anak rekan kerja aku, rekan kerja ini penting karena aku harus dapetin kepercayaannya biar dia mau menanam modal yang lebih banyak, karena dapet undangan jadinya ya aku harus dateng."
Acara sweetseventeen dari putri direktur Wirawan group ini sangatlah meriah, karena acara ini ulang tahun ke tujuh belas, banyak sekali yang diundang. Direktur Wirawan group ini orang yang terpandang, tentu para teman-temanya dan rekan kerjanya di undang ke acara yang sangat meriah itu.
"Aku nggak diajak Mas?"
"Kan pestanya sampai malem, kamu lagi hamil nanti masuk angin."
"Mas sekarang tuh beneran fit, nggak kaya waktu hamil pertama dulu. Aku ikut ya, nanti kamu ketemu cabe-cabean genit lagi kalau dateng sendiri."
"Yaudah iya sayang."
Semburat warna orange dan juga merah muda terhampar di ujung barat, langit yang tadinya biru kini sudah berubah menjadi kekuningan. Lelaki dengan kamera di tangannya itu tiada henti mengeker, mencari titik yang paling bagus untuk ia abadikan.
Mengabadikan senja, menjadikan senja itu dapat dinikmati memalui gambar, kapanpun dan dimanapun tanpa harus naik ke atap gedung tinggi seperti ini.
"Mau coba motret nggak?" pertanyaan Ditya itu ditujukan pada Erina yang berdiri di sampingnya.
"Aku nggak bisa Dit."
"Ya aku ajarin kamu."
"Boleh."
Erina mengambil alih kamera milik Ditya, mencoba memfokuskannya. Ditya memberikan banyak arahan pada Erina, wanita itu cepat sekali belajar sehingga langsung paham dengan apa yang Ditya ajarkan.
Senyuman merekah di bibir Erina saat ia berhasil mengabadikan sebuah foto berlatar senja.
"Yeay, lihat deh hasil potretanku."
__ADS_1
"Mana coba."
Ditya mengambil alih kamera itu, untuk ukuran amatiran hasil potretan Erina itu sudah cukup bagus.
"Bagus, kalo dikembangin kamu pasti berbakat di bidang fotografi."
"Iya besok aku belajar deh. Btw, kerjaan kamu fotografer ya? Tapi kok waktu itu kok kamu berangkat ke kantor."
Ditya menggeleng, "bukan Rin, aku bukan fotografer. Cuma ini itu hobby aku, kalau lagi pulang kantor, atau weekend ya kerjaan aku cuma cari spot foto aja."
"Cowo seganteng kamu nggak punya pacar?"
"Dulu ada, tapi hubungan kita nggak jelas karena aku telantarin dia. Dan kemarin aku kenal sama seseorang yang menarik perhatian aku, tapi selanjutnya aku tahu kalau ternyata dia udah ada yang punya, untung aku belun jatuh cinta terlalu dalam sehingga mudah untuk mundur."
"Kenapa mundur? Nggak dikejar aja?"
"Nggaklah, buat apa ngejar orang yang hatinya bukan untuk kita, sedangkan diluar sana masih banyak ribuan orang yang membutuhkan cinta."
Kalimat itu tentu benar-benar menusuk Erina, entah apapun yang dikatakan Ditya dirinya selalu merasa jika kalimat itu benar adanya.
"Kamu benar, Dit."
"Iya, siapa sih yang nggak pengen punya cinta, semua orang pengen Rin tapi ya kita nggak boleh sembarangan dalam mencintai."
'Apakah selama ini aku telah salah besar, mengejar cinta mas Rean?' batin Erina.
Jika dilihat dari mata luar, tentu perbuatan Erina itu bukanlah perbuatan yang baik, menghancurkan sebuah rumah tangga kokoh yang sangat bahagia, hingga tersisa air mata dan salah paham saja.
Namun, yang namanya manusia itu selalu egois, memikirkan dirinya sendiri baru orang lain. Tidak sadar jika jalan yang ia lalui salah, dan justru semakin terjerumus ke dalam kesalahan yang tiada berkesudahan.
...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...
SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.
THANKS AND SEE YOU....
^^^Central java, 22 Desember 2021^^^
__ADS_1