Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
70.Pelabrakan yang pantas untuk pelakor.


__ADS_3

Suara heels yang berketuk dengan lantai itu terdengar nyaring, karena di lorong ini tidak banyak benda yang meredam suara. Senyuman di bibir Raina mengembang saat menjumpai beberapa anak tangga yang menghubungkan lantai dasar dengan lantai dua.


Saat ini Raina tengah berada di cafe luminue, yaitu cafe yang baru saja di buka. Cafe ini menyediakan balkon luas yang memperlihatkan pemandangan ibu kota.


Saat sampai di lantai dua yang berupa balkon luas dengan banyak meja dan kursi itu, Raina langsung bisa menemukan sosok Hanan dan Fifi yang duduk di meja nomor 12.


"Haii,"


"Biasanya gue yang telat, sekarang lo yang ngaret banget." celoteh Fifi yang selanjutnya mendapatkan tawaan dari Raina.


"Ya kali-kali lah gue yang telat, biar nggak lo terus."


"Agatha nggak ikut?"


Hanan menggelengkan kepalanya, "dia lagi kencan sama cowok, baru beberapa hari ini mereka jalan terus."


Senyuman di bibir Raina mengembang, "oh udah dapet lakinya."


"Iya dapet waktu pesta kemarin." sahut Fifi, yang juga ikut mencarikan jodoh di pesta itu.


Mengingat pesta itu, Fifi jadi mengingat ditinya dan Agatha yang sudah sempat mendekati Rean.


Fifi beralih ke Hanan, "oh iya Nan, lo pasti nggak tau kalau suami Raina kece badai."


Raina hanya terkekeh mendengarkan Fifi yang mulai menebar gosip.


"Serius lo?"


"Iyaa, beneran. Ganteng banget mana badannya bagus banget lagi. Pokoknya gue harus benci sama suami Raina biar anak gue nanti lahirnya bisa modelan Rean."


Raina menonyor pelan dahi Fifi, "kalo anak lo lahirnya mirip laki gue yang ada nanti kalian dikira kumpul kebo."


"Iya juga sih."


"Oh pantesan ya Na, ada pelakor, pasti pelakornya jatuh cinta juga sama laki lo."


"Ya gitu lah, namanya juga pelakor."

__ADS_1


Baru saja Raina menyelesaikan kalimat itu, seorang wanita yang lewat meja mereka mengalihkan perhatianya. Ada Erina seorang diri yang berjalan menuju kursi nomor 13, tepat di samping mereka.


"Noh, pelakornya."


Raina menunjuk tepat ke arah Erina, namun sepertinya Erina tidak menyadari itu karena begitu ia duduk langsung meraih ponselnya.


"Serius perempuan itu?"


Raina mengangguk, "iya, kebetulan banget ya ketemu disini."


Tanpa aba-aba lagi Fifi bangkit, "ayo kita labrak!"


Raina mencekal lengan Fifi, "gue aja, kalian nonton aja."


Raina melangkahkan kakinya dan duduk tepat disebelah Erina, tetapi Hanan dan Fifi juga ikut karena tidak mau jika hanya menjadi penonton.


"Apa kabar Erina?"


Erina yang merasa aneh dengan kedatangan Raina beserta kedua sahabanya itu tidak berniat menjawab kalimat Raina.


"Oh ini pelakornya!" kalimat itu berasal dari Fifi, tentu saja dengan nada bicara yang lumayan keras itu mampu membuat orang-orang di sekitar mereka memusatkan perhatian.


Erina tentu tidak mau kalah, "Apaan sih saya nggak kenal sama mbak jadinya, nggak usah sok kenal."


Brak,


Raina menggebrak meja, lalu menunjuk dirinya sendiri, "kalau sama saya kenal kan? Mereka berdua ini temen-temen saya, yang dengan senang hati mau berkenalan dengan kamu."


"Tapi bisa nggak sih, nggak usah nuduh-nuduh kaya gitu!"


Raina memincingkan matanya dan memandang remeh Erina, "perkataanya adalah fakta, sebuah fakta jika kamu adalah seorang pelakor tidak tau diri."


"Masalah aku sama Mas Rean udah selesai ya Mbak, nggak usah di ungkit-ungkit lagi!"


"Kamu pikir semudah itu, bahkan dengan kamu minta maaf berurai air mata pun aku tidak akan menganggapnya selesai ... Aku tidak akan pernah memaafkan seorang wanita yang sudah menjebak dan membuat suamiku mempunyai seorang anak dengannya." Raina menghela nafas pelan sebelum kembali melanjutkan kalimatnya.


"Kamu pikir saya terima suami saya disetubuhi wanita tidak bermoral kaya kamu?"

__ADS_1


Orang-orang yang tengah menikmati minuman atau makanan mereka mulai berbisik-bisik, menyangsikan Erina dan menatap aneh ke arahnya.


Tentu saja Erina sudah sangat malu di buatnya, ia benar-benar mati kutu berhadapan dengan Raina malam ini.


"Jaga bicara Mbak!"


"Eleh pelakor aja sok-sok an lihat aja sekarang udah di tinggalin, bisa apa kamu hah?" cibir Fifi.


Hanan mengambil satu gelas minuman yang dibawa waiters, menyiramkan ke wajah Erina yang tentu saja membuat wanita itu naik pitam.


"Jangan kurang ajar ya!"


Erina hendak menarik rambut Hanan tetapi Hanan dengan segera menghindar.


"Seharusnya air comberan yang pantas buat wajah menjijikan kamu!"


"Ini termasuk kasus bullying, aku bisa laporin kalian bertiga ke komnas perlindungan perempuan."


Raina tertawa keras sebelum mengeluarkan kalimatnya, "laporin aja, nanti aku bikin laporan balik tentang kamu yang udah merencakan pelecahan seksual dan membuat kebohongan selama satu tahun. Kira-kira hukumannya berapa tahun ya?"


"Yang penting bukan hukumannya sih Na, yang penting tuh dia viral karena kasus itu dan harus menanggung malu yang besar." tambah Fifi.


Erina menatap sekelilingnya, sekarang perhatian semua orang memang sudah sepenuhnya berada pada mereka. Tentu saja Erina sangat malu.


Dengan segera ia meraih tasnya dan hendak beranjak, namun lengannya dicekal oleh Raina.


"Kok pergi? Kamu baru sampai loh."


Erina tidak berkata apapun, ia hanya menghempaskan lengan Raina dan segera meninggalkan mereka bertiga.


Ia tidak sanggup jika harus menanggung malu lebih dari ini.


Melihat kepergian Erina, Raina dan kedua sahabatnya tertawa puas. Itulah sangki sosial yang harus diterima seorang perusak rumah tangga orang.


...━━━━━ T O  B E  C O N T I N U E━━━━━...


SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.

__ADS_1


THANKS AND SEE YOU....


^^^Central java, 28 Desember 2021^^^


__ADS_2