
Layar lebar di depan sudah mulai menampilkan sebuah gambar, kali ini Erina bersama dengan Ditya tengah berada di di dalam bioskop untuk menonotn sebuah film. Setelah sedari tadi sore muter-muter di mall untuk membeli beberapa barang kini mereka sudah berakhir disini.
Karena ia terlalu kesal tadi siang dipermalukan oleh Raina dan kawan-kawan, Erina pun mengajak Ditya berjalan-jalan di mall. Untung saja lelaki itu bersedia sehingga bisa mengurangi sedikit kekesalan Erina.
Drt... Drt...
Erina merasakan jika ponselnya bergetar, ia langsung membukannya. Ternyata itu panggilan dari sang babysitter, sudah ada 7 panggilan tidak terjawab dari babysitternya dan Erina tidak menyadarinya.
Dengan wajah kesal Erina beranjak.
"Bentar ya Dit aku ngangkat telpon dulu."
Ditya mengangguk, membiarkan Erina beranjak tanpa memberikan pertanyaan sedikitpun.
Erina melangkahkan kakinya ke kamar mandi, guna menjauhi ruangan bioskop.
"Ada apa sih Mbak? Saya lagi pergi loh."
"I-ini Bu, Ethan nangis terus nggak mau diem, sampai kejer gini Bu." dari nada bicara babysitter itu terlihat sangat ketakutan.
Memang juga saat ini Erina mendengar suara Ethan yang tengah menangis. Tadi saat pergi ia sudah mengecek anak itu, Ethan memang tengah menangis, tetapi ia tidak menyangka sampai saat ini anak itu masih menangis.
Memang setelah Rean benar-benar pergi dari kehidupannya Erina menjadi sedikit lebih dekat dengan Ethan, ya meski hanya sedikit tapi jauh lebih baik daripada sebelumnya yang sama sekali tidak mau melihat atau menggendong anak itu.
Kini Erina sering mengajak main Ethan dan juga menidurkan Ethan.
"Bu ini gimana?"
"Kan biasa Ethan juga diemnya sama kamu, saya lagi pergi ini."
Erina tidak mungkin pulang saat ini, film baru dimulai dan paling tidak pulangnya nanti setelah film usai.
"Tapi beneran nggak mau diem Bu, tadi sudah saya kasih susu bahkan tidak mau, sudah saya ajak jalan-jalan tetapi—"
"Mbak, yang lebih bisa urus Ethan itu ya mbak."
"Tapi nangisnya nggak kaya biasanya Bu, saya takut kenapa-napa."
"Halah palingan juga lagi rewel, udah ya mbak saya pulangnya nanti jam sepuluh!"
Klik,
Erina menutup panggilan itu, tidak lupa ia juga mematikan ponselnya agar sang babysitter tidak lagi menganggunya menonton film.
"Dari siapa Rin?"
__ADS_1
"Itu—"
"Babysitter?"
Erina membolakan matanya. "kok kamu tau?"
"Kita kan sebelahan tinggalnya, tadi aku denger Ethan lagi nangis. Kalau emang lagi rewel kita pulang, kasian loh."
"Kamu tahu Ethan?"
Selama ini Erina tidak mengira Ditya tahu mengenai kehidupannya, Erina sama sekali tidak memberi tahu Ditya jika ia sudah memiliki seorang anak. Bahkan menyingung hal itu saja Erina tidak pernah.
Sedangkan Ditya sendiri, tanpa Erina tahu. Sudah mengetahui semuanya tentang Erina jauh sebelum Ditya pergi mendekati Erina.
Ditya tahu jika Erina adalah seorang perusah rumah tangga orang dan bahkan sudah memiliki seorang anak dari hasil kejahatannya itu.
Namun Ditya tidak langsung memberikan penilaian buruk, menurutnya seseorang akan berbeda jika dilihat dari sudut pandang berbeda.
Hari itu Ditya juga mendapatkan curhatan dari Sisca tentang kehidupan kelam Erina sebelumnya, wanita itu kekurangan kasih sayang dan begitu mendapatakn sebuah kenyamanan dari Rean dia menginginkan lebih.
Ditya tertarik untuk semakin masuk ke kehidupan Erina, berharap bisa mengubahnya menjadi sosok yang lebih baik.
Dan benar saja, setelah kedatangan Ditya Erina sudah sedikit demi sedikit berubah. Jika bukan karena kehadiran Ditya yang turut mengisi waktunya, sudah pasti saat ini Erina masih mengemis cinta Rean, masih mengejar Rean untuk menadapatkan lelaki itu dan masih ingin menghancurkan rumah tangga Rean dan Raina.
"Tentang aku? Semuanya?"
Ditya mengangguk.
"Itu nggak mungkin Dit, kamu tau darimana dan apa aja?"
Ditya mengulas sebuah senyuman, "semuanya, tentang kamu dan Rean aku juga tahu Rin."
"Kamu tahu darimana? Aku nggak pernah cerita apapun ke kamu."
"Nggak penting aku tahu darimana Rin."
"Kamu tahu aku seorang wanita jahat tapi kamu masih mau berteman sama aku?"
"Kamu sadar kalau kamu jahat?"
Erina mengangguk, "aku sadar aku jahat, aku egois tapi keadaan yang membuatku seperti ini."
"Iya aku tahu, memang keadaan yang membuat kamu seperti ini. Aku berada di samping kamu sekarang untuk membantu kamu keluar dari lubang hitam keadaan itu."
Erina menatap Ditya tidak percaya, ternyata di dunia ini masih ada orang sebaik Ditya.
__ADS_1
"Aku pengen bantu kamu jadi lebih baik, bukan jadi orang jahat lagi Rin."
"Kamu serius Dit?"
Ditya mengangguk, "Karena kamu memang butuh, kamu membutuhkan seseorang yang bisa membantu kamu keluar ... Tapi sebelumnya aku mau tanya, kamu bersedia berubah atau nggak?"
Erina mengangguk, sudah tidak artinya lagi pergi ke Rean karena ia juga akan mendapatkan penolakan yang sama.
"Aku bersedia Dit, buat aku berubah." ucap Erina penuh harap.
Senyuman melebar di bibir Ditya.
"Yang bisa merubah diri kamu adalah kamu sendiri, yang bisa aku lakuin cuma membantu Rin. Aku akan membantu kamu berubah."
"Makasih ya, Dit."
"Oh iya Ethan gimana? Pulang aja, kasian kalau dia lagi rewel." ucap Ditya yang tiba-tiba teringat Ethan.
"Aku pulang juga percuma sih Dit, soalnya aku juga nggak biasa bisa diemin Ethan. Mbaknya lebih jago dari aku."
"Rin, kamu harus lebih dekat sama Ethan, dia buah hati kamu, ciptain ikatan batin kalian ... Ethan sudah kekurangan kasih sayang seorang ayah, seharusnya kamu sebagai ibu memberikan kasih sayang melimpah untuknya."
Hati Erina seperti tertusuk paku, kalimat dari Ditya ini benar-benar menamparnya. Ia juga sangat malu karena sampai Ditya bisa berkata kalimat seperti ini.
Apakah ia terlalu buruk sebagai seorang ibu?
"Kalau kamu nggak bisa urusnya, kamu bisa loh pelan-pelan belajar. Bagaimanapun masa emas perkembangan Ethan ini harusnya menjadi sumber kebahagiaan kamu. Sebuah kebahagiaan itu bukan hanya berasal dari pasangan, ada sebuah permata yang ada di dekapan kamu tapi kamu tidak menyadarinya ... Kamu tidak mau mendekap Ethan dan menjadikan anak itu sebagai sumber kebahagiaan kamu."
Entah bagaimana saat kalimat Ditya itu berakhir Erina sudah banjir air mata. Ia lupa jika Ethan adalah buah hatinya.
Seharusnya ia membuka mata sedari dulu dan menjadikan Ethan sumber kebahagiaannya bukan menjadikan Ethan sebagai gembok untuk menahan Rean.
Ia benar-benar bersalah.
Ditya membawa Erina ke dekapannya, "jangan nangis, yang perlu kamu lakukan hanyalah mengubah sikap kamu terhadap Ethan. Dia adalah orang pertama yang wajib menerima perubahan kamu."
"Makasih ya Dit."
...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...
SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.
THANKS AND SEE YOU....
^^^Central java, 30 Desember 2021^^^
__ADS_1