Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
67. Malas.


__ADS_3

"Suami mbak Tati kerja apa mbak?"


Saat ini Raina tengah membantu mbak Tati menaruh belanjaan di dalam kulkas, mbak Tati baru saja selesai belanja.


"Aduh buk, suami saya di kampung tuh pengangguran. Dulunya kerja di sawah sama saya juga, tapi karena himpitan ekonomi sawahnya kejual, jadinya suami saya nggak punya pekerjaan lagi."


Raina sedikit tersentuh, dirinya memang sedari kecil hidup bergelimang harta tanpa kekurangan apapun, bahkan setelah menikah pun masih sama, apapun maunya pasti bisa dituruti.


Namun, diluaran sana masih banyak orang yang hidupnya serba kekurangan, harus bekerja keras agar bisa memakan sesuap nasi.


"Jadi mbak Tati tulang punggung keluarga?"


"Iya bu, anak saya ada 3. Yang dua masih sekolah yang satunya putus sekolah dan jadi buruh."


"Suami mbak Tati, nggak cari kerja gitu?"


Tati menghela nafas, suaminya itu sebenarnya orangnya pemalas, sawahnya yang hanya sepetak terjual karena dari hasil sawah tidak mencukupi kebutuhan ekonomi.


Selanjutnya suaminya itu tidak berkenan mencari pekerjaan, menjadi buruh atau bekerja hal lainnya. Sehingga mau tidak mau harus Tati lah yang pergi ke ibu kota untuk menjadi pembantu.


Gajinya sebagai pembantu itu seluruhnya ia kirimkan ke kampung, untuk sekolah kedua anaknya dan juga biaya hidup keluarga kecilnya disana. Namun, gajinya itu masihlah tidak mencukupi untuk segala kebutuhan yang keluarga yang tiada habisnya, sehingga mengharuskan putra sulungnya ikut bekerja sebagai buruh serabutan.


"Saya sudah nggak berharap suami saya mau bekerja buk. Cari suami yang tanggung jawab itu nggak gampang buk, contohnya saya yang apes ini. Sawah kejual, anak sulung saya putus sekolah dan saya yang harus jadi tulang punggung." Mbak Tati menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Tapi saya sangat iklas Bu, saya bahagia dengan kehidupan saya yang seperti ini. Meski saya harus jadi tulang punggung, tapi kembali lagi ini juga untuk anak-anak saya sendiri."


"Saya salut sama mbak Tati."


"Terimakasih bu,"


Drtt... Drtt....


Raina mengambil ponselnya yang berada di saku, nama mama Kala tercetak di layar ponselnya.


"Hallo Tante, Apa kabar?"

__ADS_1


"Tante baik, gimana kabar kamu Na?"


"Baik juga dong Tan."


"Oh iya Raina, kamu inget nggak hari ini hari apa?"


Raina mengernyitkan dahinya, dengan segera mengecek tanggal di ponselnya. Tanggal 20 bulan april, ini adalah ulang tahun Kala!


"Aduh hari ini ulang tahunnya Kala ya, Raina lupa Tante."


"Ya wajarlah, Kala udah lama nggak disini. Jadi rencananya Tante sama Dewi mau kasih kejutan buat Kala, kamu ikut gabung ya."


Raina terdiam, sejujurnya dirinya sangat malas harus berhadapan dengan Dewi. Kejadian di minimarket waktu itu berhasil membuatnya kesal.


Ia tidak ingin bertemu Dewi dan kembali dibuat kesal seperti waktu itu, karena jujur saja Raina tidak mengerti dengan sikap Dewi yang benar-benar aneh.


Atau bahkan bisa dikatakan jika kelakuannya diluar nalar, memfitnah seenak hati dan mengatakan Raina akan merebut Kala, padahal niat sedikitpun untuk itu tidaklah ada.


"Gimana Raina mau kan?"


"Iya Na, kamu mau dong, kita rencananya mau masak-masak yang banyak banget sama bikin kue, kue warna abu-hitam kaya kue yang selalu kamu kasih ke Kala dulu."


"Oh kue nya buat sendiri? Gimana kalau Raina yang buat dirumah aja, terus nanti Raina kesitu kalau udah jadi. Kan nanti dapurnya disitu buat masak-masak Tan, biar enak gitu."


Dengan membuat kue dirumah, maka Raina tidak perlu berhadapan lama-lama dengan Dewi.


"Hm, ide bagus juga Na."


"Iya Tan, nanti Raina langsung kesitu kalau kue nya udah jadi."


"Iya, makasih banget loh Na."


"Aduh Tante kaya sama siapa aja."


"Yaudah Tante tutup dulu ya."

__ADS_1


Panggilan itu terputus, Raina segera menghampiri mbak Tati.


"Eh mbak saya minta bantuan buat beliin bahan kue ke minimarket ya, saya mau bikin kue."


"Baik bu, apa aja bahannya."


"Bentar saya catat."


Raina mengambil selembar kertas dan juga bolpoint untuk mencatat bahan apa saja yang perlu dibeli. Setelah selesai ia langsung menyerahkan catatan itu ke mbak Tati.


"Ini mbak."


"Mau buat kue ulang tahun ya buk?"


"Iya mbak, temen saya ada yang ulang tahun."


Mbak Tati mengangguk, "baik bu saya berangkat."


"Minta dianterin pak Mardi aja mbak."


"Boleh emangnya buk?"


"Kan saya sudah sering bilang, kalau mau belanja atau apa minta anter aja sama pak Mardi."


Pak Mardi ini supir yang yang berada di rumah mereka, sebenarnya tidak terlalu membutukan supir juga karena Rean setiap pagi pergi ke kantor mengendarai mobilnya sendiri. Tetapi semenjak Raina hamil ini, Rean bersikeras agar Raina duduk dirumah dan tidak perlu mengantar jemput Mikaila.


Sedikit lebay memang, tapi Rean hanya tidak mau Raina kelelahan.


"Baik bu."


...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...


SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.


THANKS AND SEE YOU....

__ADS_1


^^^Central java, 26 Desember 2021^^^


__ADS_2