Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku

Berbagi Cinta : Istri Kedua Suamiku
Bagian 107


__ADS_3

"Nih sekalian punya saya."


Mama menyerahkan satu keranjang penuh isi pakaian pada Erina.


Pagi ini Erina berniat untuk mencuci pakaian, tetapi siapa sangka mama menambahkan jumlah pakaian kotor itu sehingga mungkin itu harus dicuci dua kali karena mesin cucinya tidak mungkin muat.


"Iya, Ma."


Selanjutnya mama melangkahkan kakinya pergi dengan wajahnya yang datar.


"Kalau gini caranya aku harus cepet-cepet dapat kerjaan."


Dirumah tidaklah mudah, Mama sangatlah menuntutnya banyak hal. Mulai dari memasak, mengepel, mencuci dan menyapu semuanya Erina yang melakukan. Mama tidak jarang menyuruh Erina untuk memotong rumput di halaman.


Sungguh, padahal sebelumnya Erina tidak pernah mengerjakan semua itu. Meski sekarang juga tidak mengeluh, tapi lelahnya luar biasa, semua pekerjaan pembantu itu kini diserahkan padanya.


Erina mulai memindai satu persatu pakaian, memastikan tidak ada benda berharga atau elektronik ikut masuk ke mesin cuci. Namun, kegiatannya terhenti saat mendapati suatu bau tidak asing di pakaian milik Ditya.


Mengapa bisa tidak asing? Karena bau ini adalah bau parfum yang dahulu sangat ia sukai, tetapi itu dahulu sekarang Erina sudah tidak memakai parfum ini.


"Ini aroma parfum siapa? Masa Ditya pake parfum jenis ini?"


Erina membawa baju itu ke kamar, membuka tempat parfum milik Ditya. Semua parfum milik suaminya itu adalah parfum khusus lelaki yang aromnya lebih maskulin berbeda jauh dengan aroma yang menempel di baju itu.


"Ini aneh."


Tentu saja perasaan Erina menjadi tidak tenang, perasaan takut mulai menyelimuti dirinya. Mulai dari perlakuan Ditya yang jauh lebih berbeda setelah menikah hingga fakta jika lelaki itu juga jarang berada di rumah.


Drtt... Drtt...


Erina memeriksa ponselnya yang berdering, tertulis nama Sisca disana. Ia memang nanti memiliki janji dengan Sisca mengenai belajar memasak. Sudah banyak kemajuan dari belajar dengan Sisca dan nanti Erina akan meminta Sisca mencicipi masakannya dan berkomentar sudah sempurna atau belum.


Karena Erina tidak mungkin mengandalkan mama mertua yang jelas membencinya.


"Hallo, Mbak."


"Nanti kita ketemunya sorean aja ya, Mbak ada urusan siangnya soalnya."


"Oh iya Mbak, Mbak Sisca bisanya jam berapa?"


"Jam 5 Rin."


Erina mengangguk, tidak masalah jam segitu karena Ditya juga biasanya pulang dari kantor selalu saat hari sudah gelap.


***

__ADS_1


"Bu, ini hp ibu bunyi."


"Oh ketinggalan di dapur ya, Mbak."


"Iya, Bu."


"Makasih ya, Mbak."


Raina memeriksa nama yang menghubunginya dan ternyata itu adalah Rean.


"Hallo Mas."


"Kamu lagi apa sayang?"


"Lagi duduk aja nonton tv, Mas. Ada apa Mas telfon?"


Jam masih menunjukkan pukul setengah sebelas siang yang menandakan jika Rean belum berada di jam istirahatnya.


"Masa aku nggak boleh telfon kamu sih sayang."


"Nggak gitu, Mas. Tapi kan ini di jam kantor, kali aja kamu nelfon aku karena ada yang penting."


"Enggak sayang, aku cuma kangen aja sama kamu. Oh ya aku bisa minta tolong nggak?"


"Kamu bisa nggak pergi ke halaman depan?"


"Buat apa, Mas?"


"Aku minta tolong sesuatu sama kamu, kamu keluar ke halaman sekarang."


Raina mengangguk dan segera melangkahkan kakinya untuk keluar, meski merasa Rean sangat aneh tetapi Raina tetap melakukan itu.


Tetapi baru saja membuka pintu depan, Raina sudah mendapati Rean berdiri disana dengan sebuah buket bunga cantik di tanganya.


Raina hanya menggelengkan kepalanya, heran sekali dengan perilaku Rean. Ini adalah rumah mereka, mengapa tidak langsung masuk saja, mengapa harus menelpon jika jaraknya sedekat ini.


"Mas kok kamu ada disini?"


"Jadi nggak boleh? Yaudah aku balik ke kantor."


"Bukan itu maksud aku ihh."


Rean mengangguk, dia menyerahkan buket bunga itu pada Raina. Buket bunga yang sangat cantik, ada sepuluh buah mawar berwarna pink yang dipadukan dengan baby breath disana.


"Makasih Mas, cantik banget bunganya."

__ADS_1


"Tapi kamu lebih cantik, tau ... Eh kamu pasti lupa kan ini hari apa?"


Raina mengernyitkan dahinya, "ini hari senin kan?"


Senyuman Rean meluruh, bagaimana bisa istri tercintanya ini melupakan hari penting untuk mereka begitu saja. Tahun-tahun sebelumnya Raina selalu mengingatnya dan tidak pernah absen mengingatkan Rean jika hari itu mereka akan berkencan seharian tetapi saat ini wanita itu benar-benar melupakannya.


"Ini hari aniversery kita sayang, masa kamu lupa sih?"


Raina berhasil dibuat menganga, ia benar-benar melupakan hal itu.


"Eh ini tanggal tujuh ya, aku beneran lupa banget Mas."


"Nggak papa asal nggak lupain aku."


"Emang aku bisa lupain kamu? Berarti hari inu adalah hari milik kita berdua?"


"Iya, aku udah pesen tiket buat nonton film."


Rean mengeluarkan dua buah tiket menonton di hadapan Raina. Rean memang sudah menyiapkan berbagai agenda sampai nanti malam, agenda khusus mereka berdua saja.


"Yaudah aku ganti baju dulu."


"Nggak usah sayang kamu gitu aja udah cantik."


"Cantik darimananya! Udah tunggu bentar."


Akhirnya Rean hanya bisa pasrah untuk menunggu Raina bersiap, jangan lupakan jika Raina juga seorang wanita yang pasti akan membutuhkan waktu sangat lama untuk bersiap dan itu juga cukup membuat Rean bosan.


"Kamu juga ganti baju lah, Mas. Masa mau pake jas gitu."


"Gini aja."


"Nggak mau ah, kita tu mau jalan masa kamu kaya mau ketemu temen bisnis begitu. Ayo ganti!"


"Iya, iya aku ganti."


...━━━━━ P K M T M K━━━━━...


Jangan lupa berikan like dan juga sebuah kalimat di kolom komentar sebagai bentuk aparesiasi, setiap jejak kalian sangat dihargai!


Terimakasih and love you full.


With love,


Khalisa🌹

__ADS_1


__ADS_2