
Mama Ditya jatuh terduduk mendengarkan kalimat itu, bibirnya kelu begitu juga dengan sendinya yang kaku.
Baru saja Ditya menjelaskan semuanya dengan sangat jelas, yaitu semua tentang kehidupan Erina.
Tadi setelah Erina pulang, mama tiada hentinya memaksa Ditya untuk bercerita semuanya, dan setelah mendengarkan itu menjadi menyesal sendiri telah meminta Ditya untuk bercerita.
"Bisa wanita yang sejahat itu, menghancurkan kebahagiaan wanita lain. Dan kabar buruknya wanita jahat itu yang akan kamu nikahi? Kamu punya otak buat apa sih Ditya?"
Tentu saja ibu mana yang mau menerima menantu dengan latar belakang seburuk itu. Bukan hanya keterlaluan tetapi itu bukanlah perilaku seorang manusia, menghancurkan kebahagiaan orang lain tentu sangat burik.
"Ma, Ditya kan tadi udah bilang. Masalalu Erina memang buruk, tetapi bukan berarti seseorang yang sudah berubah tidak berhak mendapatkan kebahagiaan untuk dirinya sendiri."
"Dia memang tidak berhak mendapatkan kebahagiaan setelah menghancurkan kebahagiaan orang lain."
"Erina sudah berubah, Ma."
"Kamu benar-benar buta jika mencintainya seperti ini."
Ditya menggeleng, "apalah arti cinta, komitmen antara dua orang bukan selalu tentang cinta."
"Mama sekarang tahu, kamu sedari awal tidak mencintainya, kamu hanya datang sebagai malaikat yang menolongnya karena rasa, bukan?"
Ditya mengangguk, membenarkan kalimat itu.
Sejak awal ia penasaran dengan Erina juga karena Raina, sosok wanita sempurna yang bisa-bisa nya diselingkuhi. Setelah menyelidiki lebih dalam, Ditya sadar masalah bukan berada di suami Raina melainkan pada Erina seseorang yang menghancurkan rumah tangga itu.
Erina yang malang dan jauh dari kasih sayang membuat Ditya semakin ingin masuk lebih dalam, dan menemukan fakta jika sebenarnya kehidupan Erina begitu menyedihkan.
Keadaan sekitarnya lah yang membuatnya menjadi wanita sekejam itu.
"Erina membutuhkan seseorang disampingnya, dia sudah tidak diakui oleh kakaknya, semuanya membenci Erina jika Ditya juga pergi maka dunia Erina akan seperti apa? Karena sekarang cuma Ditya orang satu-satunya yang berada di samping Erina."
"Kamu boleh membantu Erina, kamu boleh membuatnya menjadi perempuan yang baik. Tapi tidak perlu sampai seperti ini, sampai kamu harus menikahinya seperti ini, jangan mengorbankan diri kamu Ditya!"
"Ditya nggak mengorbankan apapun, Ma. Sekarang ini memangnya apa yang akan Ditya lalukan lagi? Ditya hanya perlu menikahi seseorang dan memberikan cucu untuk Mama ... Daripada Ditya harus mencari perempuan yang entah seperti apa, sudah ada Erina yang Ditya yakin bisa menjadi istri Ditya."
__ADS_1
Mama tenggelam dalam pikirannya, tentu ia tidak bisa menerima jika menantunya memiliki latar belakang seperti itu.
Putranya itu amat sempurna dan ia tidak rela jika perempun semacam Erina yang menjadi menantunya.
Seorang wanita bertittle janda yang sudah pernah merusak rumah tangga orang.
"Ditya udah dewasa, Ma. Udah memikirkan ini ribuan kali sebelum Ditya memutuskannya."
Bagi Ditya yang memang tidak memiliki perempuan lain yang akan ia jadikan kandidat istri tentu saja memilih Erina.
Selain untuk menemani wanita itu juga karena Ditya sudah percaya jika Erina sudah benar-benar berubah menjadi wanita baik.
"Mama tetap nggak setuju!"
"Ma, manusia itu nggak ada yang sempurna. Seburuk apapun masalalu Erina, dia sudah berubah."
"Terserah kamu! Mama bener-bener nggak ngerti sama jalan pikiran kamu."
Dengan amarah di dadanya, mama melangkahkan kakinya dari tempat itu, pergi menjauh untuk meredakan pening di kepalanya.
"Mikaila udah tidur?"
Raina yang tengah membuatkan secangkir teh untuk Rean hanya menjawab pertanyaan itu dengan anggukan.
Setelah teh itu jadi, dia langsung mengantarkannya di meja tempat Rean duduk.
Jam dinding menunjukan sudut sembilan puluh derajat dengan jarum pendek berada di angka sembilan.
"Tadi di sekolahan Mikaila katanya ikut lomba ngelukis terus menang deh, kamu harus kasih hadiah ya buat dia."
"Mikaila kok bisa pinter ngelukis ya, padahal aku nggak bisa ngelukis, apalagi kamu."
"Mas ih, aku bisa ngelukis ya nggak kaya kamu."
"Iya kamu bisa ngelukis, bukan ngelukis di kanvas tapi ngelukis senyuman di bibir aku."
__ADS_1
Melihat pipi Raina yang merona, Rean mulai mendekatkan dirinya dan mengecup pelan bibir istrinya. Selanjutnya ia membawa Raina ke pelukannya.
"Aku kangen banget sama kamu, maaf ya beberapa hari ini aku sibuk banget di kantor."
Selama Raina tidak pernah menuntut Rean untuk selalu ada dirumah karena ia tahu memang Rean tengah berada di kesibukan itu. Dimana untuk mempertahankan Atmaja group mengharuskan Rean bekerja terus menerus untuk mencari solusi.
Raina tidak ingin egois dan selalu berusaha memberikan pengertian pada Mikaila tentang kesibukan Rean. Mungkin jika dirinya banyak menuntut waktu Rean itu justru akan menambah pikiran Rean yang memang tengah kacau.
Untung saja Raina sangat pengertian.
"Aku punya sesuatu."
Rean menyodorkan tiga buah tiket pesawat dan juga tiga buah tiket taman hiburan.
Tentu saja senyuman di bibir Raina mereka melihatnya.
"Disneyland?"
"Iya, tahun lalu kan nggak jadi kita kesana."
"Masalah kantor gimana?"
"Udah beres sayang, aku udah selesain banyak pekerjaan biar minggu depan aku bisa ambil libur seminggu penuh. Aku mau menebus waktu yang kemarin aku hilangin."
"Mikaila pasti seneng banget, Mas."
...━━━━━ H E I S N O T A H U M A N━━━━━...
Suka dengan cerita ini?
Jangan lupa berikan like dan juga sebuah kalimat di kolom komentar sebagai bentuk aparesiasi, setiap jejak kalian sangat dihargai!
Terimakasih and love you full.
With love,
__ADS_1
Khalisa🌹