
Kesunyian begitu terasa, hanya suara deru ombak yang berlomba tergulung dan juga angin pantai yang lumayan kencang. Raina kembali merapakan outher rajut yang memeluknya melindungi dari terpaan angin malam.
Pantai di malam hari ini begitu sunyi berbanding terbalik dengan saat siang hari. Tetapi lima meter di sampingnya ada seorang lelaki yang duduk tepat di bibir pantai, setengah kakinya terus tersapu ujung ombak.
Meskipun celananya sudah terlihat basah kuyup tetapi lelaki itu tidak memiliki niatan untuk segera beranjak. Padahal air laut di malam hari seperti ini tentu sangat dingin, ditambah dengan angin kencang yang menerpa.
Pandangan mereka berdua bertemu sesaat, tetapi Raina langsung mengalihkan perhatiannya pada hal lain. Namun siapa sangka lelaki itu justru bangkit dan menghampiri Raina.
"Mbaknya mbak yang waktu itu kan?"
Raina mengernyitkan dahinya, lelaki dengan potongan rambut comma hair ala-ala korea ini tiba-tiba saja seakan mengenal dirinya.
"Maaf ya Mas, maksudnya Mas gimana ya?"
"Mbak yang waktu itu nemuin kotak cincin saya di taman kan?"
Raina mengangguk, sekarang dia ingat lelaki di depannya ini. Waktu itu ia tidak memastikan wajahnha tetapi jika mengingat kejadiannya tentu ia ingat dengan jelas.
"Oh iya Mas, kebetulan banget ya bisa ketemu disini."
Lelaki itu mengulurkan lengannya, "Saya Ditya, mbaknya?"
Raina menyambut uluran tangan Ditya disertai dengan seulas senyuman.
"Raina."
__ADS_1
Yang sedikit aneh adalah tadi Ditya yang justru berdiam diri di bibir pantai dengan pandangan kosong, seperti seorang yang tengah bersedih. Padahal beberapa hari lalu dia mengatakan akan melamar kekasihnya, tentu hal itu membuat Raina sedikit bertanya-tanya.
"Masnya-"
"Panggil Ditya aja."
"Ditya ngapain malem-malem gini disini sendirian? Bukannya kemaren baru mau lamar pacarnya?"
Bukan maksud Raina terlalu kepo dengan urusan orang, hanya saja ia rasa memiliki hubungan baik dengan orang ini akan menguntungkan untuknya. Pasalnya saat ini ia benar-benar tengah liburan seorang diri, jadi paling tidak ada orang yang dia kenal disini.
"Ceritanya sih panjang, mau dengerin kah?"
"Boleh."
Mereka berdua duduk berdampingan di tepi pantai, lalu Ditya mulai menceritakan kisahnya.
Meksi menceritakan kejadian pahit itu tetapi Ditya tidak terlihat begitu sedih, masih ada senyuman di bibirnya.
"Lalu hubungan kalian selesai?"
Ditya mengangguk,
"Kamu ngelapasin dia gitu aja?"
"Saya sadar jika ini bukan sepenuhnya salahnya, melainkan salah saya sendiri. Saya terlalu banyak menghabiskan waktu saya untuk berkarir dan terus mengurusi pekerjaan, sehingga menyampingkan kekasih saya sendiri. Selama beberapa tahun ini kami jarang sekali telefonan, hanya beberapa hari sekali bertukar kabar, memang sudah tidak jelas hubungan kami. Namun, bulan lalu keluarga saya meminta agar saya cepat menikah sehingga saya menemuinya dan berniat melamarnya ... Tapi malam itu lelaki itu datang, dia mengakui perselingkuhannya yang sudah lama ia lakukan, dia berkata itu karena saya tidak terlalu peduli padanya."
__ADS_1
Ditya ini sosok orang yang selalu berkaca terlebih dahulu, disaat ada masalah dia akan bertanya dulu pada dirinya. Ia akan mencari tahu dimana kesalahnnya dan karena apa dirinya diperlakukan seperti itu.
Saat tahu di selingkuhi seperti ini, Ditya tidak langsung marah dan berlagak menjadi orang paling tersakiti tetapi lelaki itu mendengarkan dahulu semua penjelasan kekasihnya hingga selesai. Lalu setelah itu baru berbalik bercermin dan mencari tahu letak kesalahn dirinya sendiri.
Ditya memang terlalu over pada kekasihnya, memberi kabar beberapa hari sekali karena terlalu sibuk dengan pekerjaan. Sebenarnya jujur saja dari awal Ditya sudah tidak terlalu nyaman dengan kekasihnya itu, dia tahu sifat asli wanita itu. Meski tidak terlalu nyaman Ditya tidak mengakhiri hubungan mereka tetapu justru bersikap sedikit abai terhadapnya.
Lalu saat orang tuanya menyuruhnya untuk menikah, tentu pilihan satu-satunya adalah kekasihnya itu karena Ditya juga tidak dekat dengan gadis lain.
"Yang sabar ya, Tuhan pasti laginyiapin seseorang yang lebih baik. Dan masalah seperti ini juga menjadi pelajaran, agar kedepannya dalam berbuhungan bisa lebih baik lagi." Ucap Raina dengan senyuman tipis.
"Benar sekali, dibalik kegagalan pasti ada keberhasilan yang menunggu."
Raina mengangguk, mengiyakan kalimat Ditya.
"Kalau kamu sendiri? Disini sendirian juga?"
Raina mengangguk, "Iyaa, belum pernah kesini, jadi coba liburan kesini."
Sebenarnya masalah Raina tidak kalah tragis dari perselingkuhan kekasih Ditya ini. Namun, Raina rasa ia tidak perlu mengingatnya lagi, ia akan mengosongkan pikirannya saja agar tidak pusing.
...━━━━━ T O B E C O N T I N U E━━━━━...
SELAMAT SIANG, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE DAN TULISKAN SEPATAH DUA PATAH KATA DI KOLOM KOMENTAR.
THANKS AND SEE YOU....
__ADS_1
^^^Central java, 19 November 2021^^^