
mendengar perkataan Dewangga begitu Armadjaya pun begitu emosi, "Maksud mu apa bilang keluargaku penipuh bukanya keluargamu yang yang suda menipuh keluargaku," ucap Armadjaya.
"Nga salah, Keluargaku yang menipu, haaaaaaa apa saya tidak salah dengar," ucap Dewangga.
Tegar dan Putri pun kebingungan melihat kedua orang tuanya terus mengadu mulut tidak ada yang mau mengalah. "Stop pa, sebenarya ada apa Tegar tidak mengerti," ucap Tegar sedikit emosi.
begitu juga Putri bertanya ke papanya. "Ada apa sebenarya pa ???" tanya Putri yang kebingungan.
kedua orang tua mereka masing-masing terdiam sejenak tidak menjawab pertanyaan anak mereka masing-masing. tiba-tiba Tegar bertanya kepada Dewangga orang tua Putri. "Sebenarya ada masalah apa om dengan keluarga saya ???" tanya Tegar sambil menatap Dewangga.
"Tanyakan kepada keluarga mu yang penipu itu," ucap Dewangga dengan nada tinggi.
mendengar perkataan Dewangga seperti itu Armadjaya pun tidak terimah dan emosi. "Kamu bilang keluarga ku penipu keluarga mu tuh yang penipu," ucap Armadjaya mengatai balik Dewangga dengan nada emosi.
Dewangga pun suda kelihatan sangat emosi dengan perkataan Armadjaya dan mengatakan. "Keluarga penipu tetaplah penipu," ucap Dewangga dan menarik tangan Putri.
"Ayo kita pulang tidak usa ladeni penipu itu," ucap Dewangga sambil menarik tangan Putri.
"Tunggu dulu pa, sebenarya ada masalah apa pa ???" tanya Putri, namun Dewangga tidak menjawab Pertanyaan Putri.
Armadjaya pun menarik tangan Tegar. "Ayo pulang nak, Papa suda muak dengan keluarga mereka itu," ucap Armadjaya memegang tangan Tegar.
"Tunggu dulu pa, Tegar mau bicara sama Putri," ucap Tegar dan melepaskan Tanganya Tegar merasa heran degan sikap papanya itu.
Tegar pun langsung berlari menemui Putri tiba-tiba Dewangga mencegahnya.
"Jagan pernah kamu dekati anak saya lagi, karena saya tidak akan pernah merestui hubungan kamu degan anak saya, ngerti kamu," ucap Dewangga dengan nada emosi dan menjuk-nunjuk Tegar.
__ADS_1
Putri pun kaget dengan perkataan papanya seperti itu. "Kok papa bilang begitu sama Tegar, emangnya Tegar salah apa sampai-sampai papa bilang seperti itu ke Tegar," ucap Putri menatap PapanyaPapanya namun Dewangga tidak menjawab pertanyaan Putri.
"Kamu dengar Tegar, papa tidak akan pernah merestui hubungan kamu, papan tidak mau kamu sampai dekatin anak Dewangga itu," ucap Armadjaya, yang merasa emosi degan perkataan Dewangga.
"Ayo kita pergi dari sini papa suda malas melihat muka mereka," ucap Dewangga sambil memegang tangan Putri dan menarik tangan Putri menuju parkiran sesampainya di mobil Putri pun di suru masuk ke dalam mobil di tegah perjalan Dewangga kelihatan sangat emosi dengan pertemuannya dengan keluarga Armadjaya.
tidak lama kemudian sekitaran 45 menit sampailah di rumah, Dewangga pun terlihat begitu sangat kecewa dengan Putri.
"Ada hubunga apa kamu sama keluarga penipu itu ???" tanya Dewangga merasa sangat kesal bertemu dengan Armadjaya.
Putri pun tidak menjawab pertanyaan papanya dan balik bertanya. "Siapa sih penipu itu pa ???" tanya Putri balik.
"Ya itu Armadjaya sama anaknya Armadjaya mereka itu penipu semua."
"Tegar itu bukan penipu pa, dia orangnya baik selama ini dia yang selalu membatu Putri menolong Putri saat susa, Tegar anaknya sangat baik dan suka menolong orang tampa balasan, nga mungkin Tegar itu penipu," ucap Putri mencoba menjelaskan dan meyakinkan papanya.
"Iya pa, Putri mengerti pa," ucap Putri dengan nada renda dan melemas.
Dewangga pun merasa sangat marah dengan kejadian tadi dan pergi dari ruang tamu menuju kamarnya, sedangkan mama Jamilah masi duduk di kursi bersama Putri, dan Putri pun bertanya ke mamanya. "Sebenarya ada masalah apa ma, dengan keluarga Armadjaya ???"
mama Jamilah pun mencoba menjelaskan. "Sebenarnya waktu kamu masi bayi kakek kamu, dan siapa nama cowo tadi itu" mama Jamilah bertanya ke Putri karna belum kenal nama Tegar dan tidak sempat berkenalan papa Dewangga suda adu mulut lebi dulu dengan Armadjaya.
"Tegar, ma, namanya Tegar."
mama Jamilah pun menjelaskan kepada Putri. "Waktu kamu masi bayi kakek kamu sama kakek Tegar itu mereka berteman dan kerja sama dalam bidang penjualan tanah, tetapi ada yang menipu surat tanah yang di beli ternya itu palsu membuat kakek kamu dan kakek Tegar pun berselisi dan mengatakan mereka adalah penipu sampai sekarang, waktu itu sangat kakek mu sangat marah.
papa mu juga begitu marah dan keluarga lain pun begitu marah dengan keluarga Armadjaya itu, sampai sekarang keluarga papa mu sama sekali tidak pernah akur dengan keluarga Armadjaya, jadi mama harap kamu jauhi pria yang bernama Tegar itu, mama mau kamu mendengarkan kata-kata orang tua, apa yang papa, mama bilang itu semua demi kebaikan mu ke depan."
__ADS_1
"Tapi ma, Putri sayang sama Tegar ma, Putri sudah jatuh cinta dengan Tegar ma."
"Apa kamu bilang, kamu sayang sama anak penipu itu," ucap Jamilah kaget mendegar perkataan Putri.
"lya ma Putri cinta sama Tegar ma, dia baik dan dia selalu menolong Putri saat Putri susah."
"Kamu mau membuat papa mu marah kepada mu, mama mau kamu mendengarkan perkataan orang tua mu nak, semua demi kebaikan mu sendiri jauhi Tegar, mengerti kamu."
Tapi ma, Putri sangat mencinta Tegar, tidak muda untuk melupakan apalagi menjauhinya"
"Pokonya mama tidsk mau tau kamu harus jauh laki-laki itu, mama tidak mau kamu menjalin hubungan dengan anak yang pernah menipu keluarga kita, apa kata keluarga nanti kalau kamu pacaran sama anak yang suda menipu keluarga kita, mama harap kamu bisa mengerti nak," ucap Jamilah menjelaskan kepada Putri.
"lya ma, Putri mengerti," ucap Putri pasrah walau di dalam hati Putri sangat sulit untuk menjauhi Tegar namun, apalah daya Putri hanya bisa berkata iya kepada orang tuanya namun hatinya berkata tidak akan pernah menjauhi Tegar.
tidak lama kemudian Jamilah pun menyuruh Putri untuk istirahat dan tidak boleh kemana-mana hari ini.
"Pokonya hanya di rumah saja kalau kamu ada ke perluan di luar nanti Riky yang akan temani kamu kemana pun kamu pergi," ucap Jamilah Tegas.
"Tapi ma."
"Tidak ada tapi-tapi kamu harus dengar perkataan mama mengerti kamu."
"Iya Ma," ucap Putri dengan nada terpaksa.
"Ma, jangan berlebihan begitu ma, kasihan Putri kalau di tekan," ucap Riky membelah Adiknya.
"Kamu ikut kata-kata mama saja tidak usah membantah kamu mau kalau papamu marah."
__ADS_1
"lya ma Riky tau tapi mama juga jangan terlalu keras menekan Putri, kasihan juga Putri ma," ucap Riky terus membelah Adiknya.