
tidak lama kemudian hp Putri pun berdering dan yang menelfon adalah Tegar Putri pun mengangkatnya "Haloy Tegar"
"Put, aku di terimah kerja dirumah sakit yang sama-sama degan kamu" ucap Tegar yang merasa gembira memberitahukan ke Putri.
Putri pun pura pura kaget karena dia suda tau kalau Tegar juga kerja di rumah sakit yang sama dengannya, "syukur de kalau gitu, aku senang banget mendengarnya supaya kita bisa kerja sama dan bisa bertemu setiap hari," ucap Putri degan suara bahagiah.
"lya sayang aku seneng banget bisa kerja bareng sama kamu bisa ketemu tiap hari," ucap Tegar, dan Tegar pun mengatakan sayang suda dulu ya, aku mau makan malam dulu dan langsung mematikan telfonya.
Putri pun menaro hpnya di meja nakas dan Putri pun berbaring di kasur dan tidak lama kemudian dia pun tertidur.
ke esok paginya Putri pun bagun mandi kemudian ia sarapan setelah sarapan dia pun siap-siap pergi ke rumah sakit untuk pertama kali kerja
Putri pun pamit ke kakaknya dan pergi meningalkan rumah sekitaran 40 menit Putri pun sampai di rumah sakit
disana ia suda di tunggui parah sahabatnya
saat Putri di tempat parkiran dia menarik nafas sejenak dan mengatakan, "muda muhan selama aku kerja disini tidak ada masalah apa pun, aku ingin kerja sepenuh hati megabdi di rumah sakit ini, aku pasti bisa semangat" seruh Putri dalam hati.
Putri pun berjalan masuk kedalam rumah sakit dan ia melihat kiri dan kanan baru satu-satu orang lewat, Putri pun menelfon Dinda hp Dinda berdering dan mengangkatnya, Haloy Put kamu di mana ???" tanya Dinda.
"Aku baru mau masuk kedalam kamu sendiri di mana, ??? tanya Putri balik.
"Aku suda di dalam teman-teman yang lain juga suda datang cepetan kesini, ucap Dinda
__ADS_1
Putri pun berjalan menuju ruangan dan dia melihat Dinda di depan ruagan di Rektur rumah sakit dan langsung mematikan hpnya dan menghampiri Dinda.
"Lama banget sih datangnya," ucap Dinda, yang sedikit ketus kepada Putri.
"Maaf macet di jalan" ucap Putri degan nada Renda kepada Dinda.
Tegar pun langsung menemui Putri "akhirnya kamu datang juga, aku takut kamu di halangi lagi sama keluargamu kerja di sini dan ahirya kita tidak bisa bertemu" ucap Tegar yang merasa hawatir Putri tidak jadi datang.
"Kalau masalah kerja orang tua ku tidak perna melarangku untuk kerja dimana pun asalkan aku bisa kerja profesional dan mandiri, "ucap Putri meyakinkan Tegar.
"Syukur deh kalau gitu dan aku lebi bersyukur lagi karna kak Riky nga perna melarang hubungan kita, dan malah mendukung kita" jawab Tegar yang merasa sangat lega degan perkataan Putri.
tiba tiba Doni memangil, "ayo masuk bentar lagi ngobrolnya menghadap dulu sama direktur rumah sakit"
Tegar dan Putri beserta teman yang lain pun ikut masuk kedalam ruangan Doni pun mengetuk pintu, dan direktur rumah sakit mempersilakan mereka masuk, mereka pun masuk bersama sama dan menyapa selamat pagi.
"lya Dokter, terimakasi Dokter kami mau permisi dulu," ucap Doni sambil memberi kode kepada Direktur Rumah sakit.
"lya silakan," ucap di Rektur rumah sakit.
saat teman-teman Doni keluar dari ruangan Direktur, Doni pun mengedipkan mata ke ayahnya seakan memberi kode ke ayahnya,
tiba tiba Doni mengatakan "Aku mau ke toilet dulu mau buang air kalian tunggu saja aku di ruangan depan yang ada tempat duduknya itu loh"
__ADS_1
"lya suda pergi sana" ucap Tegar menyuru Doni Pergi, Doni pun langsung masuk ke ruangan ayahnya dan mengatakan, "bagaimana ayah cewe yang pake baju pink tadi cantik nga ???" tanya Doni.
"Cantik, cantik ayah merestui hubungan kalian tapi ingat jangan cuman pacaran saja mengarti," ucap Dewantara.
"Siaaap ayah" jawab Doni begitu senang degan perkataan ayahnya yang merestui hubungan mereka.
"Tegar, itu anaknya Armandjaya kan ???" tanya Dewantara.
"lya yah, emang kenapa yah ???" tanya Doni balik
"Kakenya itu salah satu pendiri rumah sakit lama dan rumah sakit ini ayahnya salah satu donatur tetap di rumah sakit ini," ucap Dewantara.
"lya yah, dan ayah tau nga, Putri itu yang pake baju putih tadi, itu adalah anak dari Dokter Dewangga yang memilik beberapa rumah sakit dan klinik di berbagi daerah tapi Putri memilih kerja di rumah sakit ini entah apa alasannya yang pasti dia ingin megabdi di rumah sakit ini," jawab Doni memberitahukan ke ayahnya.
"Haaaaa masa dia anak Dokte Dewangga, Dokter Dewangga adalah senior ayah dulu waktu di kampus, kalau di pikir-pikir orang tuanya memiliki rumah sakit sendiri dan dia juga, memiliki beberapa kelinik sendiri tapi dia memilih kerja di rumah sakit baru di bagun ini,
ayah benar-benar tidak mengerti sama jalan pikiran anak-anak sekarang" ucap Dewantar yang kaget mendengar perkataan anaknya.
"Dan ayah tau nga mereka itu semuanya memiliki keluarga Dokter tapi mereka malah memilih, nga kerja bersama keluarga mereka, Dinda saja orang tuanya tingal di luar negri dan kerja di rumah sakit luar negri, sedangkan Dinda malah Memilih tingal di Indonesia kuliah di Indonesia dan kerja di Indonesia bahkan mereka punya beberapa perusahaan di Indonesia tapi tetap saja mereka memilih tinggal di luar negri" penjelasan Doni tentang Dinda kepada ayahnya.
"Ternyata teman-teman kamu semua dari keluarga yang ada, tapi mereka tidak memperlihatkan itu semua, ayah sangat bangga sama kumu nak, memiliki teman yang baik dan mandiri.
"lya yah, mereka hanya ingin mandiri yah sebenarya Doni juga nga mau kerja di rumah sakit ini krna Doni juga ingin mandiri seperti mereka, tapi semua sahabat Doni maunya kerja disini awalnya Doni menolak kerja di sini tapi karna Dinda yang mengatakan kalau aku harus
__ADS_1
menujukan kalau Doni juga bisa mandiri setelah Doni pikir-pikir ahirya Doni mengalah demi persahabatan dan Doni rasa juga ayah bisa mengenal Dinda lebi dekat setelah kerja di rumah sakit ini ayah bisa menilai bagai mana Dinda orangnya dan ayah bisa mengetaui sifat asli Dinda supaya ayah tidak ragu degan pilihan Doni."
"Ayah lebi senang kalau kamu kerja di rumah sakit ini dengan ayah, dan ayah bisa mengontrol kamu, suda temui suda teman-teman kamu kalau ada apa-apa kabari ayah secepatnya." ucap Dewantara.