Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
9 Tuhanmu Dan Sahabatmu Tidak Bisa Kau Bohongi


__ADS_3

Zaskia dan Madina segera memasuki ruang yang ditunjuk Nizam. Dalam ruang itu, Davina terbaring di atas ranjang putih dengan tangan diinfus serta beberapa perban luka di bagian dahi dan lengan. Ada memar juga di pipi kanannya. Kendati pun begitu, gadis manis itu tersenyum, menyambut hadirnya Madina Shafa dan Zaskia.


"Aku gak papa," ujarnya langsung, di saat keduanya belum mengangajukan tanya. Karena Davina sudah dapat melihat tatapan kawatir yang terpancar pada sepasang netra Zaskia dan Madina.


"Iya, kau akan baik-baik saja, Davina. Seberapa pun berat beban yang tengah kau pendam, kau akan baik-baik saja," ujar Meidina segera. Sekilas ucapan gadis itu terkesan tidak 'nyambung' dengan kondisi Davina saat ini yang harus terbaring di rumah sakit karena ditabrak. Madina seperti berbicara lain, dan tentang hal lain. Tapi Davina paham dengan maksud ucapan sahabatnya itu.


"Jangan berprasangka lain, Meidina. Aku tadi memang salah pulang lebih dulu tanpa pamit pada kalian," sesal Davina dengan suara pelan.


Beberapa jam sebelumnya, mereka berempat, memang pergi ke perpustakaan pesantren di Al-Hasyimi pusat bersama-sama. Tapi Davina memutuskan kembali ke asrama lebih dulu setelah memberitahukan pada meidina kalau ada pesan masuk dari Rayyan Ali Fattan. bahkan Davina pergi tanpa pamit pada ketiga rekannya yang lain.


Sementara Zaskia yang menangkap adanya sesuatu yang sepertinya bukan ranahnya, hanya terdiam, dan tak menginterupsi dengan pertanyaan.


"Jika saat ini kau belum ingin bicara apa-apa, aku hargai keputusanmu. Tapi, ingatlah, kapan pun kau ingin berbagi, aku selalu ada." Madina menepuk lembut punggung tangan Davina, membuat sahabatnya yang berwajah manis itu hanya bisa menatap dengan sepasang mata berkaca-kaca.


"Din, aku minta maaf. Tapi memang tidak ada apa-apa," kata Davina. Ia baru bisa berucap demikian setelah berhasil menetralisir perasaannya.


"Iya." Meidina mengangguk dan tak mengatakan apa-apa lagi. Mungkin saat ini Davina terlupa dengan ucapannya sendiri beberapa saat lalu waktu masih di Darul Ulum, terhadap Madina. Ia bilang, kau boleh menyembunyikan apa pun pada orang lain, tapi ingatlah, bahwa Tuhanmu, dan sahabatmu, tidak akan bisa kau bohongi.


Akan tetapi untuk saat ini, Meidina sangat menghargai keputusan Davina, jika memang ia ingin menyimpan semuanya sendiri.


Sementara itu di luar ruangan.


"Jadi itu, yang bernama Meidina Shafa?" Tanya Adli setelah beberapa kali menengok ke dalam ruang perawatan melalui pintu yang dibiarkan terbuka.


"Iya, kenapa?" Nizam balik tanya.

__ADS_1


"Hemmm" dengung Adli.


"Apanya yang hemm?" Nizam menatap Adli dengan memicingkan mata.


Adli pasti salah satu dari sekian santri yang sudah mendengar kabar tentang 4 orang bintang kelas Kulliyatul Muallimin. Mereka yang memang memiliki kecantikan dan kecerdasan tak biasa. Dan kiprahnya dalam bidang akademik sudah diketahui oleh banyak santri yang lainnya.


Akan tetapi, dari ke empat siswi berprestasi di KM itu, Adli begitu terpana pada Meydina Shafa yang ayu, bermata sayu yang selalu terlihat anggun itu.


"Ini, nih. Bakal ada cerita tentang aku yang naksir pada wanita yang usianya di atasku," gumam Adli sambil memahat senyum manis penuh harap di wajahnya. Diketahui kalau Adli itu se-umuran dengan Arafka. Dan usia mereka masih berada di bawah Meidina dan Davina, juga Nabila.


Dengan ucapan Adli itu, Azmi dan Nizam langsung tergelak. Beda dengan Rafka yang hanya melihat sejenak. Rupanya topik pembicaraan teman-temannya itu belum mampu mengalihkan pikirannya dari beban berat yang seakan menggelayut di pundak.


"Kalau mau naksir-naksiran, aku yang lebih pas untuk itu," kata Nizam menjawab ucapan Adli. "Kami seumuran," imbuhnya lagi.


"Memang gak boleh ya, Mas, suka pada yang lebih tua?" Tanya Adli cengengesan.


"Gak tentu juga, Mas. Siapa tau, yang lebih muda ini justru lebih tau cara mencintainya. Iya 'kan Rafka?" Adli mencoba mengajak Arafka untuk bergabung dalam obrolan itu. Namun, sang empunya nama, yang dari semula diam saja itu hanya memberikan senyuman singkatnya.


"Buat kempetisi aja dah, yang sehat." Azmi menengahi perdebatan tak resmi di antara Nizam dan Adli itu.


"Nah betul begitu. Mas Nizam siap?" Adli menegakkan tubuh menatap Nizam. Belum bisa dipastikan sekarang, apakah ucapan mereka itu serius atau hanya sekedar gurauan. Namun, Tiba-tiba saja.


"Mas Rafka!"


Itu suara dari Zaskia yang menyapa Arafka, entah sejak kapan gadis cantik tersebut sudah berdiri di tengah pintu yang terbuka. Tatapannya lembut mengarah pada pemuda tampan yang memilih diam saja, dari pada bergabung dengan obrolan teman-temannya.

__ADS_1


"Iya." Pemuda tampan itu menjawab singkat saja.


"Boleh, saya tanya sesuatu, Mas?" tanya Zaskia dengan tata bahasa yang santun.


"Silakan!"


"Maaf sebelumnya, Mas Rafka jangan tersinggung ... ini mengenai pemberitaan tentang smean kemarin." Zaskia berucap dengan hati-hati, serta dengan suara yang selembut dan seramah mungkin. Ia seakan tak ingin membuat pemuda tampan itu merasa tersinggung. Mungkin karena apa yang akan ditanyakannya adalah hal yang amat sensitif, atau mungkin karena posisi Irfan Arafka Wafdan yang sangat indah bertahta di hatinya.


Arafka terdiam, ia hanya menatap putri kyai Fadholi itu dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Entah merasa marah atau tidak senang. Tapi Zaskia merasa tak bisa balik kanan. Sudah menjadi tekadnya untuk menanyakan. "Apakah semua itu memang benar? Ee, maksud saya, apakah peristiwa itu memang benar terjadi, atau hanya tuduhan?" Kali ini suara gadis cantik itu terdengar bergetar kala menanyakan. Menandakan keikut sertaan segenap emosinya dalam rasa penasaran.


Meski tahu kalau pertanyaan Zaskia telah selesai. Tapi Arafka masih tetap diam. Hanya terlihat ia menghela napas samar.


"Kalau, Mas Rafka gak bersedia menjawab, gak papa, saya paham," ucap Zaskia pelan. Meski dalam hati sangat membutuhkan jawaban. Tapi memaksakan sesuatu pada orang yang tak berkenan, adalah hal yang pantang ia lakukan.


"Bukan gak bersedia menjawab, Ning. Tapi saya juga gak tau, apa peristiwa itu betul-betul terjadi atau tidak, " sahut Arafka.


"Ja-jadi?"


Pemuda tampan itu menggeleng, memberikan tanda bahwa sebatas itu saja yang bisa ia sampaikan. Zaskia tertunduk, pupus sudah harapannya untuk tahu pada hal yang sebenarnya. Pun keyakinannya yang begitu kokoh, bahwa Arafka tidak bersalah dan ia hanya difitnah, juga tak bisa menemukan pembuktian apa-apa sekarang. Karena pemuda rupawan itu sendiri bahkan tak bisa memastikan.


Lalu hal apa yang sebenarnya yang telah terjadi pada Irfan Arafka Wafdan? Mengapa Zaskia merasa sangat ingin tahu hal yang sebenarnya, sampai dengan berurai air mata. Gadis cantik itu bahkan selalu mempersembahkan doa dalam sujud untuk nama Arafka agar semua kebenaran terungkap, agar pemuda pujaan itu terlepas dari segala tuntutan.


Irfan Arafka Wafdan menghadapi sebuah masalah besar, yang lagi-lagi melibatkan nama Masayu di dalamnya. Empat hari setelah kejadian Masayu ingin menabrakkan diri pada motor Arafka yang sedang melaju, seperti diketahui bersama digelarlah acara harlah Al-Hasyimi yang ke 67 dan bertempat di area studio alam Al-Badar itu.


Sekitar dua jam setelah acara itu usai, dan keadaan studio alam tempat bergelarnya acara sudah kembali normal. Riuh keramaian itu sudah tak lagi didapatkan. Karena semua sudah pergi meninggalkan. Hanya tinggal beberapa panitia acara dan kru Al-Badar yang masih di sana. Mereka melakukan rapat pasca acara dan sekaligus pembubaran panitia. Semua baru selesai ketika hampir masuk jam dua. Jam dua dini hari tentunya.

__ADS_1


Next episode saja.


__ADS_2