
Baik Kanza Davina yang sedang terbaring di atas ranjang pasien, maupun Meidina Shafa yang sedang duduk tak jauh di samping gadis manis tersebut, sama-sama tersenyum dengan kemunculan Nabila Alia dan Zaskia Arifa dari pintu balik pintu ruang perawatan. Lalu, secara bersamaan keduanya segera berkata, "Selamat ya, calon Nyonya Ustadz Widad."
"Terima kasih," sahut Nabila dengan pipi yang merona. Bukti kalau ia merasa bahagia. Semalam, Nabila resmi dikhitbah oleh ustadz Widad, salah satu pengajar mereka di kulliyatul muallimin 3.
"Aku rencananya mau kesini kemarin, pas dengar kabarnya dari Ning Zaskia, tapi ..." Nabila memangkas ucapannya. Karena pada saat peristiwa itu terjadi, ia tengah pulang dari pesantren untuk menyambut kedatangan keluarga ustadz Widad di rumahnya.
"Iya, gak papa. Kami mengerti," ujar Meidina. Ke empat gadis cantik berhijab itu pun duduk bersama-sama.
"Nabila sekarang sudah punya tiket ya," celetuk Davina.
"Tiket apa?" tanya Nabila dan Zaskia hampir bersamaan.
"Tiket untuk berbahagia," sahut Davina.
"Tiket bahagia apa itu maksudnya? Semua orang kan berhak dan pantas untuk berbahagia," kata Nabila yang belum paham kemana arah pembicaraan Davina.
"Iya, tapi kebahagiaan itu tidak mudah didapat. Tidak mungkin dibeli dengan harta. Tidak dapat dipaksakan dengan kekuasaan, dan tidak bisa diraih dengan ilmu pengetahuan," kata Davina lagi. Meidina menatap sahabatnya itu dengan senyum.
"Betul, Mbak. Karena kebahagiaan itu letaknya di hati," sahut Zaskia. "Jadi bukan karena ini atau itu, bukan karena begini atau begitu. Tapi, jika hati mampu merasa bahagia, apa pun yang sampai pada kita, maka kita tetap merasa bahagia," tambahnya lagi dengan penuh semangat.
"Menurut sebuah pendapat, ketenangan hati adalah modal utama bahagia. Sedangkan di luar itu, menjadi faktor penyerta bahagia." Madina juga ikut andil dalam pembahasan tersebut.
"Dan salah satu faktor penyerta untuk bahagia itu, adalah bila punya pendamping hidup yang shalih. Beriman dan berpengetahuan, seperti ustadz Widad, contohnya. Karenanya kenapa aku bilang kalau Nabila itu sudah punya tiket untuk bahagia," ujar Davina.
"Alhamdulillah. Amin Ya Rab," sambut Nabila dengan wajah yang sumringah. "Tapi, bukan hanya aku saja kok pemegang tiket bahagia itu," lanjutnya kemudian.
"Lalu siapa lagi, Mbak?" tanya Zaskia.
"Madina Shafa."
"Aku?" Yang empunya nama malah jadi kebingungan sendiri ketika namanya disebut.
__ADS_1
"Iya, Rayyan Ali Fattan. Dia pun pria yang insyaallah, Sholih, dan taat pada Tuhan. Berilmu, dan nasabnya juga bagus, putra seorang kyai pengasuh pesantren. Sebentar lagi, kalian pasti akan menuju ke pelaminan untuk membina sebuah keluarga yang bahagia," urai Nabila panjang lebar.
Madina tersenyum, dan tidak menanggapi dengan ucapan, kendati pun ia merasa senang. Dan tiba-tiba saja perasaannya berdesir. Sebuah rasa aneh dan tak biasa menyeruak dari sana.
"Iya, itu betul," sahut Davina. "Kalian doakan aku juga dan ning Zaskia ya agar segera menyusul kalian. Karena mendapatkan pasangan yang beriman dan berilmu itu menjadi standarisasi wajib jika ingin berbahagia," lanjutnya lagi dengan sepenuh hati.
"Pasti, kami doakan," sahut Nabila.
"Kalau Nabila 'kan sudah pasti, tapi kalau aku belum," kata Madina tiba-tiba.
"Kenapa berkata begitu, memang kau tidak ingin?" Nabila menatap sahabatnya itu dengan pandangan menyayangkan.
"Apa pun bisa terjadi," sahut Madina. Dan entahlah kenapa ia jadi berkata demikian. Jika ditanya apa alasan dari ucapannya itu, Madina sendiri, pasti juga tidak tahu.
"Madina, jangan begitu. setiap kata itu adalah doa. Dan aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu dengan Ra Fattan," kata Davina diiring senyum tulus.
Akan tetapi, pembicaraan mengenai kebahagiaan itupun harus berakhir, dengan hadirnya Nizam dan Azmi, lalu tak lama Adli menyusul pula .
"Bagaimana kondisinya, Davina?" Azmi yang bertanya.
"Syukurlah. Ee, dek Rafka, tidak kesini lagi?" tanya pemuda itu lagi seraya melayangkan tatap pada semuanya. Memang itu tujuan ketiga pemuda yang sama-sama berpeci dan berkain sarung itu datang. Mdreka mencari Arafka, yang sejak semalam tidak dapat mereka temui. Tepatnya setelah pemuda tampan itu pamit mau sowan pada Sayikhona di dhelem beliau yang ada di Alhasyimi pusat.
Mereka semua mengira kalau Arafka ada di sana, karena semua biaya perawatan Davina di rumah sakit itu ada di bawah tanggung jawab Rafka yang telah menabraknya. Maka sangat mungkin kalau pemuda tampan itu bolak balik ke rumah sakit untuk mengetahui perkembangan Davina.
"Sepertinya, mas Rafka dari kemarin gak kesini lagi ya, Mbak?" Zaskia yang menjawab seraya menatap Meidina. Karena gadis itulah yang tetap di rumah sakit mulai kemarin menunggui Davina.
"Iya," sahut Meidina.
Azmi dan Nizam saling pandang.
"Nomornya juga belum bisa dihubungi," kata adli, pemuda itu dari sejak masuk ke dalam ruang memang terlihat beberapa kali menelepon seseorang. "Apa saya susul ke rumahnya saja ya, Mas," tanya Adli, di wajahnya tampak kawatir sekali.
__ADS_1
"Kita tunggu aja sebentar lagi," putus Nizam.
"Saya kawatir," kata Adli singkat.
"Jangan terlalu kawatir. Dek Irfan itu pemikirannya udah dewasa meski umurnya masih muda. Dia gak akan berbuat hal yang di luar batas," kata azmi. Ia paham arti kekawatiran Adli itu bagaimana.
Dan kemudian masuk dua orang perawat ke dalam ruangan. Ia memberitahukan kalau sudah waktunya pemeriksaan dokter, jadi ruangan pasien harus dalam keadaan steril. Maka semua pun berpindah ke luar ruangan.
"Itu mas Rafka." Zaskia yang pertama kali melihat kedatangan Arafka, saat mereka semua telah berpindah keluar ruangan.
Benar saja pemuda tampan itu menghampiri mereka semua seraya melempar senyuman kecil.
"Rafka, kau baik-baik saja?" Adli segera bertanya, bahkan saat pemuda tampan itu masih berada dalam jarak beberapa langkah dari mereka semua.
"Iya, seperti yang kau lihat," jawabnya, lalu bersalaman pada Nizam dan Azmi. Begitu memang akhlak santun pemuda ini terhadap seniornya.
"Karena sejak semalam kau gak bisa dihubungi, jadi aku kawatir," lanjut Adli.
"Kawatir aku bunuh diri?" Sahut Arafka langsung diiring tertawa renyah. Adli pun jadi tertawa, teringat dengan semua pikiran konyolnya itu.
Kendati duduk terpisah dengan tiga siswi KM itu, Arafka sempat melempar senyum ramah pada semuanya, meski hanya singkat saja, sebagai tanda menyapa, walau tanpa bahasa.
"Rafka, tadi Masayu menanyakanmu padaku. Dia maksa minta nomor ponselmu, atau ngasih tahu kamu ada di mana sekarang. Ya aku pilih ngasih tau kalau kamu ada di sini," kata Adli.
Rafka hanya menarik napas pelan mendengarnya.
"Kalau kamu ngasih tau pada Masayu dek Rafka ada di sini, sebentar lagi dia pasti datang," kata Nizam terkesan sedikit menyalahkan Adli.
"Rafka, jika kau ingin menghindar, masih ada waktu," saran Adli pada Arafka.
"Tidak. Kenapa aku harus menghindar?" sahut pemuda tampan itu dalam sebentuk pertanyaan.
__ADS_1
"Sebenarnya untuk apa Masayu bertemu dengan dek Rafka. Dan apa dia boleh datang ke rumah sakit ini, bila tidak berkepentingan?" Itu ucapan Azmi dengan tatap mata heran.
"Orang seperti Masayu itu bisa memanipulasi peraturan," sahut Nizam. Dan semua diam tak ada yang memberi sanggahan. Karena apa yang dikatakan oleh Nizam, memang benar.