
Kyai Abdulloh Umar dengan cara dan bahasa yang halus, menyampaikan penolakannya pada kyai Umar untuk menikah lagi dengan Dian Maulidia, beliau beralasan bahwa tidak siap untuk memiliki dua orang istri karena kawatir tidak akan bisa berlaku adil. di samping itu beliau juga sedang punya tugas ke Makkah yang membuatnya akan sering bepergian meninggalkan keluarga. Dan selain dua hal tersebut, kyai Abdullah Umar juga menegaskan bahwa ia tak sampai hati untuk menduakan nyai Syarifah dengan siapa pun.
Akan tetapi di luar dugaan, Nyai Syarifah--istri kyai Abdullah hadir ke tempat itu, dan menyampaikan restunya pada kyai Umar untuk menikahi Dian Maulidia. Meski sempat merasa kecewa dengan keputusan istrinya, akhirnya pernikahan antara kyai Abdullah Umar dan Dian pun terjadi, tepat di hari jumat, seminggu setelah kejadian.
Setelah menjadi istri kedua kyai Abdullah, dan tinggal di lingkungan keluarga dhelem, kehidupan Dian pun berubah total. dia menutup auratnya secara penuh dan mengikuti semua aturan yang telah baku di sana. Dan ternyata gadis itu mampu beradaptasi dengan baik, patuh dan mengabdi sebagai istri yang sepenuhnya kepada sang suami. rumah tangga mereka pun berjalan lancar dan baik-baik saja, meskipun sewaktu-waktu Dian bolak-balik antara Jakarta Alhasyimi. Hingga dua tahun kemudian lahirlah putra pertama kyai Abdullah dengan Dian Maulidia. Seorang putra berparas tampan rupawan yang diberi nama, Irfan Arafka Wafdan.
Badai kemudian terjadi saat Irfan Arafka berusia enam bulan. Sejak kelahiran putranya itu, Dian memang lebih sering menghabiskan waktunya di Jakarta, dari pada di Al-hasyimi, dengan alasan ingin fokus merawat putranya. Saat itulah, pengajuan Dian untuk memperoleh beasiswa S2 hukum di Universitas Harvard dikabulkan. Wanita itu langsung mendapat panggilan untuk melanjutkan studinya di sana.
Melanjutkan S2 di Harvard adalah impian Dian sejak lama. Namun impian itu kandas, saat ayah dan bundanya meninggal dunia. Kendati demikian, ia tak lantas berpatah arang, berkali-kali ia mencoba peruntungan untuk mendapatkan beasiswa di Harvard. Namun setelah diperistri oleh seorang kyai, Dian sudah melupakan impiannya itu. Siapa sangka, pengajuannya diterima saat kini ia telah berputra. Akankah Dian melepaskan begitu saja kesempatan itu, karena pasti ia akan sulit untuk mendapatkan restu dari sang suami untuk melanjutkan studi lagi.
Ternyata, kecintaan Dian pada dunia hukum, mengalahkan segalanya. Cita-cita yang telah terpupuk sejak lama, dan kini hanya tinggal mengeksekusinya, tak rela ia biarkan terlewat begitu saja. Dengan sepenuh tekad dan semangat ia meminta ijin sang suami untuk melanjutkan studi dan membawa serta putranya tinggal di luar negeri. Apa pun nanti konsekuensinya, Dian sudah bertekad untuk menghadapi.
__ADS_1
Dan seperti yang sudah diduga, kyai Abdullah Umar tak berkenan memberikan restunya. Ia menyampaikan alasan yang lengkap dari mulai yang syar'i sampai yang Qoth'i. Namun, dari berbagai alasan beliau tak sedikit pun menggugah hati Dian untuk merubah haluan keinginan. Wanita itu tetap tak bisa menerima keputusan suaminya, meski ia sadar, kalau semua itu adalah benar secara agama.
Perbedaan yang ada di antara keduanya pun semakin mengerucut dan meruncing tajam, hingga akhirnya sampai pada fase benar-benar tak bisa lagi disatukan. Keduanya lalu sepakat memilih jalan masing-masing. Dan Dian berhasil membawa sang putra bersamanya untuk mewujudkan cita-cita yang sudah lama diimpikannya.
4 tahun berlalu, selama itu pula, tak pernah ada komunikasi apa-apa antara Dian Maulidia dengan keluarga besar Alhasyimi. Dian seakan sengaja menutup akses dengan seluruh keluarga besar kyai Abdullah Umar, mantan suaminya. Hal ini sangat memberatkan bagi kyai teringat akan bagaimana kehidupan putranya di luar sana. Akan tetapi setiap usaha yang ditempuh oleh kyai Abdulloh untuk menemui Arafka, tak pernah membuahkan hasil. Sampai beliau memutuskan untuk mengambil alih legalitas hak asuh Arafka secara hukum negara.
Tapi ternyata, kyai Abdullah Umar kalah satu langkah. Karena saat itu, Dian datang ke Alhasyimi bersama seorang pengusaha muda kaya raya yang ternyata adalah suami barunya. Himawan, nama lelaki itu. Ia bersama Dian datang meminta restu dari Kyai untuk kepengasuhan Arafka. Ternyata, Dian dan suaminya telah mencatatkan hak asuh atas Arafka secara legalitas negara yang memiliki kekuatan hukum tetap. Mereka beralasan, bahwa sebelum menikah, Dian dan Himawan sudah sepakat untuk tidak akan pernah punya anak lagi. Hanya Irfan Arafka Wafdan saja sebagai putra mereka satu-satunya.
Sebelum berpulang, beliau sempat berpesan pada kyai Abdullah Umar, "Nak, jika kau mengikhlaskan putramu saat ini, karena Allah. Maka suatu saat pasti, Allah akan mengembalikannya kepadamu. Dalam diri Irfan Arafka Wafdan itu ada darahmu, ada darahku. Ada darah Alhasyimi. Dia pasti akan kembali lagi pada kita. Yang perlu kau lakukan sekarang adalah bersujud pada Allah, untuk putramu. Agar supaya dia selalu dijaga, dan pada saatnya nanti dikembalikan lagi pada kita."
Demikianlah, sepeninggal kyai Umar, maka kyai Abdullah Umar lah yang meneruskan tugas beliau sebagai pengasuh ketiga Alhasyimi. Selanjutnya, setelah itu ia pun fokus membenahi sistem pendidikan pesantren. Ia juga mengundurkan diri dari tugas mengajarnya di Makkah, demi agar bisa fokus pada Alhasyimi. Hingga di tangan beliau, lahirlah Alhasyimi yang sebesar saat ini. Namun se-sibuk apa pun kyai Abdullah Umar dengan tugas barunya, dalam setiap waktu, beliau tak pernah alpa untuk bersujud buat sang putra bungsu yang tidak pernah ada bersamanya.
__ADS_1
Hingga 16 tahun kemudian.
Pak Himawan--ayah sambung Irfan Arafka Wafdan--datang menemuinya seorang diri ke Alhasyimi. Pengusaha kaya raya yang memiliki beberapa perusahaan di Jakarta dan di Bali itu, memberitahukan, kalau sudah 3 tahun ia beserta keluarga menetap di Bali.
Pak Himawan juga menyatakan permohonan maaf yang sebesar-besarnya pada kyai, karena telah menjadi ayah yang tak sempurna untuk Arafka, putra kesayangannya yang saat itu sudah memasuki usia SMA. Ia juga menyatakan bahwa, ia sangat menyayangi puteranya tersebut dan ingin menjadikannya sebagai pewaris tunggal dari seluruh harta kekayaan yang ia punya.
Pak Himawan juga memohon, jika suatu saat nanti, Irfan Arafka Wafdan tahu kalau pak Himawan bukan ayah kandungnya, dia minta agar kyai membimbing putranya tersebut untuk tetap menganggap pak Himawan sebagai ayahnya sendiri.
Kyai pengasuh menanggapi semua itu dengan cukup bijak, kendati beliau punya rasa kecewa, karena ternyata sampai saat ini, baik Dian Maulidia maupun pak Himawan--suaminya--tak pernah memberitahukan pada Arafka kalau kyai Abdullah Umar Hasyim adalah ayah kandungnya.
Di samping itu kyai Abdullah juga merasa kalau di balik kedatangan pak Himawan kepadanya itu ada satu pesan rahasia yang tak bisa disampaikan, tapi hanya bisa dirasakan.
__ADS_1
Dan benar saja, tiga bulan sesudahnya, beliau mendengar kabar dari salah satu alumni yang ada di Bali, kalau ternyata pak Himawan dan bu Dian, sudah meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan pesawat.