Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
95 Ayat 13


__ADS_3

الله نو ر ا السموات و الا رض مثل نو ره كمشكواة فيها مصبا ح ...


Jatuh lah kristal bening di wajah ayu Meidina, luruh menggelinding begitu saja, setelah cukup lama mengambang di kedua netra. Bergetar hatinya, bergetar jiwanya. Rasa haru menyeruak menembus sukma, menyelimuti jiwa dan merengkuhnya dengan sedemikian rupa, hingga rasanya tak ada ungkapan yang sepadan untuk mengisahkan.


Sementara suara indah Mas Rafka yang menyenandungkan kalam cinta ilahi dalam surat An-nur, terus menyeruak dalam pendengaran.


المصبا ح في زجا جة الز جا جة كانهاوكو كب ذري يو قد من شجر ة مبا ر كة ز يتو نة لا شر قية و لا غر بية، يكاد ز يتها يضىء و لو لم تمسسه نار. نور علا نو ر ...


Subhanallah...


Pembacaan kalam suci usai Al-fatihah, pada rakaat kedua itu, benar-benar melambungkan jiwa Meidina menembus surga. Surga terindah yang tak pernah terbayang sebelumnya. Segenap jiwanya memuji kebesaran tuhan. Dan segenap hatinya menyenandungkan cinta yang tiada bertepian untuk sang kekasih halal.


Seusai salam, tanpa menunggu Mas Rafka berbalik badan, bahkan pemuda itu masih tetap dalam posisi duduk tawarruk, atau duduk pada tasyahud akhir, Meidina mendekatinya, dengan jarak yang cukup dekat sekali, bahkan hingga kedua lutut mereka saling beradu, membuat Rafka yang semula tetap dengan posisi tertunduk karena masih menyenandungkan dzikir dengan khusyu, kini terdongak menatap wajah ayu yang terbalut mukenna itu.


Lembut tatapan Arafka, disambut Meidina dengan senyuman yang lembut pula. Gadis ayu itu lalu meraih tangan sang suami, di mana terdapat untaian tasbih putih di sela jarinya. Ia bawa tangan itu ke hadapan wajah dan dihadiahinya punggung tangan putih tersebut dengan ciuman penuh khidmat.


Segera, sebuah senyum indah terbit di bibir Arafka, dan satu tangannya yang lain pun segera terangkat untuk mengusap pucuk kepala Meidina yang masih tertutup mukena.


"Maafkan saya, Mas, lahir dan batin." Terdengar suara Meidina dengan tanpa melepas tangan Arafka dari penciumannya.


Mas Rafka hendak membuka mulutnya untuk menjawab permintaan gadis ayu itu. Permintaan maaf yang diucapkan Meidina. Namun, kembali suara Meidina menguar di ruang dengarnya.


"Saya minta maaf untuk semua masa lalu saya."


Rafka tersenyum, "Di mana tempat masa lalu itu, Ning?"


"Di belakang saya. Yang sudah tidak akan saya lihat lagi," putus Meidina dengan tegas, meski kepalanya tetap menunduk.


"Tidak apa-apa sedikit menoleh ke belakang. Tapi hanya untuk mengambil pelajaran, dan menyukuri bahwa nikmat Allah itu sangat besar." Arafka berkata bijak yang membuat perasaan Meidina sangat merasa sejuk. Lebih sejuk lagi kala satu kecupan lembut dari pemuda itu mendarat di keningnya, dengan durasi waktu cukup lama, bahkan terdengar lirih kalau Rafka sambil melantunkan doa.


Saat berikutnya, pemuda itu merengkuh tubuh Meidina dan dibawanya dalam pelukan. Demi apa pun, tak ada rasa yang lebih mendominasi selain rasa sejuk dan damai. Hingga hati harus bertanya, inikah bahagia yang sebenarnya? Inikah yang disebut dengan anugerah terindah? Anugerah yang sempat ditolak keberadaannya oleh Meidina. Namun, segala apa yang sudah menjadi bagian dan takdirnya, ia tetap sampai, walau sekuat apa pun, dan sejauh apa pun kita menghindar. Dan segala apa yang bukan menjadi takdir dan bagiannya, ia akan terlepas walaupun sudah digenggam dengan erat. Ia tetap pergi, kendati sudah ada di pangkuan diri.


Benar, apa yang dikatakan oleh Arafka, bahwa tidak akan pernah cukup kendati selalu kupinta dirimu dalam setiap sujud. Tidak akan pernah cukup, meski selalu kulangitkan namamu dalam setiap tahajud. Tanpa takdir yang menjadi pendukung, setiap usaha hanya sampai di tempat yang untuknya memperoleh pahala, tapi tak bisa mendapat apa yang dipinta.


Meidina dan Arafka adalah satu dari sekian garis takdir yang sudah ditentukan. Yang tak bisa dinafikan, dan tak terbantahkan. Tapi bukan garis takdir itu yang menjadi tujuan cerita ini dituangkan. Sebab takdir, hanya murni menjadi kuasa Sang Maha Rahman.


Proses antara dua orang dalam menerima garis takdirnya, itu adalah pelajaran yang ingin disampaikan. Bahwa hidup adalah proses. Untuk menjadi takwa juga proses. Untuk menuju bahagia juga proses. Proses yang tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Karena garis takdir yang juga tidak sama antara yang satu dengan yang lainnya.


Mengambil sebuah untaian kata yang saya dapat dari Ig, bahwa hidup itu adalah sebuah perjalanan (proses), bukan perbandingan. Maka jangan pernah bandingkan proses hidupmu dengan orang lain, karena kita memang hidup di bumi yang sama, tapi dengan takdir yang berbeda.


Maka inilah kisah cinta yang bertaruh di atas takdir. Dan pada akhirnya, yang ditakdirkan oleh-Nya, dia yang tampil sebagai pemenang.


Satu kecupan lembut kembali mendarat di kening Meidina Shafa, diserta lantunan surat Rahman yang dibacakan Arafka dengan bacaan yang fasih dan suara yang indah didengar.


ا الر حمن. علم ا لقر ا ن .


Meidina tersenyum menawan sembari menatap wajah tampan Mas Rafka yang rupawan. Dari bibir mungilnya, teruntai kalam suci juga dari surat Ar rahman, melanjutkan apa yang dibaca oleh Rafka barusan.


خلق ا لا نسا ن . علمه ا البيا ن .


Senyuman memesona pun terbit di bibir Arafka. Sayang, hanya sesaat saja Meidina menikmati senyum indah itu. Karena untuk selanjutnya, Rafka me-nge-cup bola mata Meidina kanan kiri secara berganti-ganti. Gadis itu menahan napasnya, karena adanya hentakan ge-mu-ruh dalam dada. Ge-mu-ruh yang berubah jadi landai, bahkan lalu menjelma menjadi angin sepoy yang membawa kesejukan, saat kalam suci kembali dilanjutkan oleh putra bungsu pengasuh Alhasyimi.

__ADS_1


ا لشمس و ا القمر بحسبا ن .


و ا لنجم و الشجر يسجدان .


و االسما ء ر فعها وو ضع االميزان.


Sampai pada kalam cinta yang indah itu, Meidina pun melanjutkan pada dua ayat berikutnya. Disusul kembali oleh Rafka pada ayat yang kesebelas dan ayat dua belas. Hingga pada ayat yang ketiga belas, yang diucapkan dengan fasih serta suara yang indah oleh Meidina ...


فباي ءالاء ربكما تكذ با ن .


Arafka menutup kalam suci itu dengan kalimat, shodaqollohul 'adziem. Jemarinya lalu menyentuh lembut bibir mungil sang istri. Yang mana dari bibir ranum tersebut telah terucap bacaan indah kalam Ilahi, yang sungguh indah di pendengaran, menggetarkan hati dan perasaan, serta memantik keinginan besar, dalam diri seorang Arafka untuk mencicipi manisnya.


"Ikhlaskah?" Lirih ia melafadzkan tanya.


"Ikhlas," jawab Meidina seraya menunduk. Dan dari dalam hatinya, terasa Ada tabuhan rebana yang mulai bersahut.


"Kulluhum?" tanya pemuda itu lagi.


"Iya," jawab Meidina dengan suara yang kian lirih.


"Karena Allah?" Rafka seperti masih ingin menjajaki kesungguhan hati istrinya.


"Mas." Meidina terdongak, ia memberanikan diri untuk menatap netra bening sang suami. "Saat ini, malam ini, dan untuk selamanya, hidup saya, adalah sepenuhnya hak, Mas Rafka."


"Subhanallah ... Allahu Akbar." Maka bertasbihlah segenap jiwa Arafka mendengar penuturan tulus sang istri tercinta. Segala keinginan serta harap dan impian untuk bisa memperoleh pendamping hidup yang shalihah dan patuh pada suami, sepertinya langsung dibayar tunai oleh Sang Maha Rahman.


Istri yang menyerahkan jiwa raganya atas nama kepatuhan pada sang imam dalam hidupnya.


Bab 58: Hidupmu Adalah Milikmu


Saat itu di rumah sakit.


"Makan lagi, biar cepat sehat." Arafka memberi isyarat pada piring buah di pangkuan gadis itu. Meidina mengangguk. Ia kembali meraih garpu untuk melanjutkan menyantap buah yang sempat tertunda, akibat insiden ponselnya yang jatuh dan pecah berantakan. Namun, gerakan tangannya seketika terhenti, saat terdengar Arafka kembali berkata, "Dan jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu."


Gadis ayu itu terhenyak, dan kemudian terdongak. "Maksudnya?"


"Kata dokter, kamu itu terlalu capek dan terlalu banyak pikiran," jawab Rafka.


Meidina diam. Karena memang apa yang dikatakan oleh Rafka itu benar. Pikirannya memang mulai kacau, setelah tahu tentang perjodohan Kanza Davina dan Rayyan Ali Fattan. Semakin bertambah kacau, saat tahu kalau dirinya sudah bertunangan dengan Irfan Arafka Wafdan. Dan bahkan akan segera menikah dalam jarak waktu yang tak sampai sebulan. Sementara di saat yang bersamaan, Kulliyatul muallimin sudah memasuki masa-masa ujian. Maka dalam diri gadis itu berlaku dua aliran. Bak dua aliran air yang sama-sama deras menghanyutkan.


Antara kepedihan akan masa depannya yang selalu menguras pikiran dan air mata tiap kali dikaji. Serta harus memusatkan konsentrasi pada ujian menjelang kelulusan di Alhasyimi. Akhirnya, Meidina mengambil jalan tengah, ia sibukkan diri se-sibuk-sibuknya, tanpa memberikan sedikit pun kesempatan untuk pikiran tentang masa depannya bertahta. Setiap pikiran itu datang, selalu ia alihkan dengan banyak kesibukan. Bahkan juga tak membiarkan tubuh fisiknya untuk beristirahat. Sedangkan dari segi psikologis memang sudah dipompa setiap saat. Walhasil, tubuh fisik itu pun kalah. Ia jatuh sakit. Sakit yang cukup parah, dan membawanya berakhir di ruang perawatan rumah sakit bunda Fatimah.


"Saya tidak akan mengatakan bahwa saya tau apa yang kamu pikirkan, tapi saya akan menegaskan, bahwa tidak ada siapa pun yang bisa memaksa kamu, Adin." Itu ucapan Arafka. Kalimat tegas yang menyeruak dengan cepat dan merampas lamunan Meidina Shafa. Gadis itu terdogak.


"Hidupmu saat ini adalah milikmu, hidupmu adalah hakmu. Kecuali nanti, setelah kamu menikah, maka hidupmu adalah milik suamimu. Demikian petuah dari syaikhona pada saya," lanjut pemuda itu lagi. Sebuah untaian kalimat yang membuat perasaan Meidina berdesir saat mendengarnya.


Demikian, ucapan Arafka pada waktu itu. Sebuah kalimat yang ia cetuskan seiring harap, akan memperoleh istri yang menyediakan hidupnya untuk mematuhi suami. Dalam tanda kutip, suami yang shalih pasti.


Dan baru saja, Meidina menegaskan sendiri, bahwa saat ini dan untuk selamanya, hidupnya adalah hak sang suami. Maka bagaimana seorang Arafka tak akan segera bertasbih memuji kebesaran Tuhan, atas nikmat karunia yang tak bisa didustakan.


Kemudian, atas Ridho ilahi, dalam label halal yang telah ia dapatkan, atas ridho dan keihlasan Meidina selaku istri yang akan ia semaikan cinta kasih seumur hidupnya. Maka, keindahan, kenikmatan surga dunia mereka reguk bersama, seiring untaian cinta di bawah lantunan doa, seiring puji dan puja pada Sang Maha Cinta.

__ADS_1


Satu untai doa, terlafazd bersama, di antara dua insan yang sedang berenang di laut asmara.


Ya Rab, Sang Maha Cinta. mi'rajkan kami dengan cinta, hingga pun tubuh kami hancur nanti, cinta kami akan tetap abadi.


SELESAI.


Demikian kisah kasih antara Irfan Arafka Wafdan dan Meidina Shafa. Semoga menjadi bacaan yang banyak membawa kemanfaatan, dan bukan hanya dosanya saja yang diwariskan.


Mungkin, dengan selesainya kisah ini sekarang, ada sebagian dari pembaca yang merasa kurang senang, karena belum rela berpisah dengan Mas Rafka dan Ning Adin.


Mohon dimaafkan, jika keputusan saya menamatkan cerita ini sekarang, kurang berkenan.


Ada banyak alasan dan pertimbangan, yang membuat saya harus mengambil keputusan tamat sekarang. Salah satunya, karena kesibukan pekerjaan saya sampai akhir bulan yang tak bisa ditangguhkan. Saya kawatir tidak akan bisa up teratur lagi, dan hal itu pasti mengecewakan para pembaca, dan juga mempengaruhi performa karya di lapak ini.


Sedangkan dalam bulan kemarin, saya rutip up tiap hari dan berusaha memenuhi jumlah kata 60k sebulan, pop karya Bertaruh Cinta Di atas Takdir ini jalan di tempat, gak bergerak naik. Tapi, setidaknya tidak bergerak mundur. Harus tetap disyukuri ya.


Sebenarnya saya kecewa dengan performa karya ini yang sangat minim sekali. Tapi, kekecewaan saya terobati dengan antusiame para pembaca yang selalu memberikan lika dan komentar positif di setiap babnya. Matur nuwwun sanget. Terima kasih banyak..sakalangkong se rajeh. Dengan adanya kalian semua, saya tersadarkan, bahwa tulisan sukses itu bukan hanya karena sudah dibaca oleh ribuan atau ratusan ribu orang. Tapi, kendati hanya dibaca oleh segelintir orang, namun, pesan dan kesan positif dalam tulisan tersampaikan, apalagi sampai mengena di hati dan menjadi pelajaran, itu sebagian dari definisi sukses yang tak terbantahkan.


Karena itulah, adanya kakak-kakak tercinta, para pembaca setia nan budiman, sangat saya syukuri dan terima kasih nan tak terhingga.


Dan alasan lainnya, saya menamatkan cerita ini, karena pesan dan kesan serta ibrah yang saya bidik untuk bisa didapatkan oleh pembaca memang sudah terselesaikan. Sudah tersampaikan. Bahwa banyak yang ingin saya share tentang hal itu, di bagian Arafka yang mulai terungkap sebagai putra bungsu syaikhona.( para pembaca pasti masih ingat) Maka, saya memilih untuk cerita ini selesai sampai di sini.


Sekadar pemberitahuan tentang kisah Meidina dan Arafka. Kisah ini saya tulis di buku, pada tahun 2010 lalu. Saat itu saya sering bolak balik ke pesantren salafiyah syafiiyah sukorejo situbondo--karena keponakan saya mengikuti jenjang pendidikan di sana--Dari sanalah, saya terinspirasi menulis kisah ini. Di pesantren itu ada grup shalawat bernama Albadar, yang memang pernah mendapat gemblengan langsung dari raja dangdut Rhoma Irama, pada saat kepengasuhan kHR Fawaid As'ad.


Tapi sejak beliau berpulang, dan diganti oleh menantu yang sekaligus keponakan beliau sendiri, KHR Azaim Ibrahimi, grup sholawat Albadar mengalami transformasi. Saya tak bisa banyak bercerita tentang hal itu, karena juga tidak didukung dengan pengetahuan yang utuh. Saya takut terjadi pengaburan informasi. Di sini, saya hanya ingin memberitahukan bahwa grup shalawat pesantren dengan nama Albadar itu memang nyata ada. Tapi kisah Arafka sebagai gitaris Albadar dengan ning Meidina itu hanya fiktif belaka.


Dari dulu, saya tak pernah berniat untuk publis kisah yang saya tulis lebih dari 10 tahun lalu itu di lapak ini. Namun, dengan niat ingin mendapat manfaat bersama-sama para pembaca, bismillah...saya rilis.


Hal yang tak kalah pentingnya, yang ingin saya sampaikan, adalah ribuan bahkan jutaan terima kasih untuk para pembaca, kakak-kakak tercinta. Semuanya, sekalian. Apalah saya ... Apalah artinya setiap untaian kata yang saya tulis, bahkan dengan keindahan bahasa yang seindah apapun, setinggi apa pun, tanpa kalian semua para pembaca, yang membaca dan menghayati tulisan saya, maka setiap untaian kata hanya akan menjadi tuna makna. Kosong dan hampa.


Terima kasih, dengan sepenuh hati saya. Terima kasih yang tak terhingga, untuk para pembaca yang tak bisa saya sebut satu per satu namanya.


Saya cinta kalian. Karena kalian, saya terus berusaha mengindahkan tulisan.


Ada yang memberikan penilaian, kalau tulisan saya berat, bahasanya tinggi, perlu fokus extra untuk dicermati. Pembaca yang tidak mau berpikir keras, tidak akan sudi untuk membaca tulisan saya. Tapi, kakak-kakak semua, para pembaca tetap setia di sini, mengikuti setiap cerita dalam rangkaian kata yang saya tuangkan ... masyaAllah, sungguh saya bersyukur pada Allah, dengan keberadaan para pembaca sekalian.


Doa terbaik dari saya untuk semua kakak tercinta. Semoga Allah, melimpahkan kebaikan dan kebahagiaan, untuk kita semuanya.


Terakhir, cerita ini jangan dihapus dulu dari library, karena insyaallah, saya masih akan menyajikan beberapa bab extra. Semoga berkenan.


Salam penuh cinta dari saya. Najwa Aini.


🌺🌺🌺🌺


PEMBERITAHUAN.


Para pembaca yang mungkin sebagian sudah pernah singgah pada karya terbaru BUKAN RAHIM KONTRAK.



Mohon maaf yang sebesar-besarnya, saya tidak bisa memenuhi ucapan saya sendiri untuk melanjutkan cerita itu di bulan ini. Bahkan BUKAN RAHIM KONTRAK sudah saya hapus secara keseluruhan, dan insyaallah akan hadir lagi bulan depan dengan tampilan baru. Semoga diijabah Allah. Tetap mohon dukungannya ya kakak semua. ikuti akun saya, biar mendapatkan notif pemberitahuan nanti bila karya terbaru sudah Rilis. Terima kasih..

__ADS_1


__ADS_2