
"Ning capek?" Arafka bertanya hal itu karena dilihatnya Meidina diam bagai termangu. Dari raut wajah ayu itu, Rafka dapat menebak kalau pikiran Meidina sedang berkelana, entah pergi kemana.
"Boten, Mas." Meidina menatapnya dan tersenyum lembut.
"Kalau capek, kasih tau ya." Arafka mengatakan hal itu seraya mengusap pelan bagian dada sebelah kiri.
"Inggih, Mas." Kembali Meidina menjawab dengan santun. Terlihat Arafka mengusap lagi bagian dadanya sebelah kiri seraya menghela napas pelan.
"Jennengan kenapa?" Meidina menatap raut wajah tampan itu seksama. Bahkan kekawatiran juga terlihat dari sana.
"Terasa dingin, Ning di sini." Arafka kembali mengusap tempat yang sama dari bagian tubuhnya.
Deg.
Meidina langsung terhenyak, pikirannya segera melanting, dan tergiring ke area Neting (negatif thingking)
Sekelumit, ia pernah mendengar tentang angin duduk, sebuah istilah untuk orang yang mendapat serangan jantung secara mendadak. Hanya sekilas itu yang dia dengar, dan tak ada penjabaran yang lebih jelas dan dalam.
Melihat mas Rafkanya mengeluh demikian, pikirannya pun berkelana tak karuan. Kawatir apa yang ada dalam perkiraan itu benar. Sebuah perkiraan yang tak didukung dengan ilmu pengetahuan yang akurat dan tepat, yang telah mencampakkannya dalam sebuah kekawatiran yang kuat.
"Dingin, maksudnya, Mas?" Gadis ayu itu bertanya dengan rasa was-was.
"Terasa sejuk mendengar jawabanmu barusan," jawab Rafka sambil mengulum senyuman.
"Jawaban saya ..." Meidina masih gagal paham.
"Iya, caramu menjawab, melambungkan saya ke tempat yang tinggi, dan terasa sejuk sekali."
Barulah kini Meidina mengerti, kalau tutur santun yang telah ia lafadzkan pada sang suami membuat mas Rafka sangat merasakan begitu sejuk dalam sanubari.
Jadi, bukan karena kena angin duduk, ya Meidina.
Kekawatiran yang sempat menggelayut, rasa cemas yang bercampur takut, nan telah membawa pemikiran campur aduk, kini hengkang begitu saja, digantikan dengan senyuman dan rasa bahagia yang terwujud.
__ADS_1
Aslinya, Meidina ingin sekali memberikan cubitan kecil pada mas Rafka, bisa-bisanya pemuda tampan itu memberinya rasa cemas, seusai akad terucap. Tapi, banyak sekali kata tapi yang hadir dalam dirinya, yang akhirnya ia hanya memutuskan untuk menunduk saja, sembari mengulum senyum tentunya.
Saat berikutnya, kedua pengantin diminta untuk berdiri, karena akan mendapatkan ucapan selamat dari beberapa kerabat dan famili, juga teman akrab yang ikut hadir di acara sakral mereka ini.
"Masyaallah."
"Subhanallah."
Zaskia, dan Nabila juga Davina berebut ingin memeluk Meidina yang menghampiri mereka, usai berbincang kecil dengan keluarga inti darinya.
Sikap antusias para sahabatnya itu, membuat Meidina menatap terharu, dan sepasang matanya terlihat ber-embun karena hal itu.
"Jangan ada air mata! Ungkapkan bahagiamu dengan senyum dan tawa. Itu ekpresi yang umum untuk memperlihatkan rasa bahagia. Lagian biar malaikat gak bingung mau mencatat bagaimana," cetus Davina. Yang membuat teman-temannya melongo dengan istilah baru yang dicetuskan oleh gadis manis itu.
"Ada ya, Mbak, malaikat bingung," sergah Zaskia cepat.
"Anggap saja begitu, Ning." Davina menjawab sekenanya.
"Terima kasih juga, karena sudah berbahagia di hari ini, Ning Adin. Kebahagiaanmu itu, adalah kebahagiaan kami semua," sambut Nabila, yang disetujui tanpa sanggahan sedikitpun dari mereka semua.
"Jangan lupa, doakan kami juga agar segera menyusul," tambah Nabila lagi.
"Pasti kudoakan."
"Ampun nih ya, bertunangan belakangan, tapi menikah duluan," gerutu Nabila sambil tersenyum. "Harusnya aku lho, aku yang bertunangan duluan," tambahnya lagi yang segera dapat tepukan kompak di pundaknya dari mereka semua.
"Makanya cepat kasih kode ke ustadz Widad, atau aku yang bantu," usul Davina.
"Gak usah, terima kasih. Pikirkan saja gimana caramu ngasih kode ke Ra Fattan," sahut Nabila.
"Untuk kami, tanggal sudah ditentukan," kata Davina, dan sepertinya ia sedang keceplosan, karena setelah bicara itu, tapak tangannya segera terangkat untuk menutup mulutnya sendiri.
"Ayo, kapan?!" Segera ketiga temannya menyerang gadis manis itu dengan pertanyaan.
__ADS_1
Keempat gadis itu terus bercanda, dalam tanda kutip, dengan tetap mengedepankan kesopanan, karena tempat ini adalah kawasan kediaman keluarga kyai, di mana bersopan santun sangat diterapkan bagi seorang santri.
Sampai kemudian.
"Sudah, Ning?" Terdengar suara Mas Rafka, diikuti dengan hadirnya sosok tampan itu, meski dalam jarak yang tak begitu dekat.
"Sampun, Mas." Meidina sigap berdiri dari duduknya, posisi siap untuk menerima segala perintah.
"Mau sholat ashar bersama?" Arafka menawarkan. Memang dari masjid raya Alhasyimi tengah berkumandang adzan ashar.
"Engghi, ngireng," jawab Meidina.
(Iya, ayo)
"Atau mau sholat bersama dengan teman-teman kita semua?" Rafka memberikan penawaran yang lain.
Dan jawab Meidina. "Ngireng ajunan, Mas."
(Saya ikuti kamu, Mas) artinya apa pun keputusanmu, saya patuh.
Rafka terlihat menatap lembut istri ayunya itu.
"Mas, boleh saya usul." Zaskia sedikit mengangkat telunjuk jari tangan.
"Boleh." Sahut Rafka singkat.
"Mas Rafka, sholat berdua saja sama Ning Adin, sholat berjamaah pertama bagi pasangan suami istri itu sangat afdhol. Mohon maaf, Mas, tak bermaksud menggurui." Zaskia segera tertunduk.
Rafka pastinya juga bukan tidak tahu hal itu, ia sengaja memberi penawaran begitu pada Meidina karena tak ingin mengusik keasyikan istrinya itu bersama dengan teman-temannya.
Pada akhirnya pasangan pengantin baru itu memilih sholat berdua saja di dalam kamar.
Lalu bagaimana, setelah mendirikan sholat ashar bersama itu?
__ADS_1