
Pada bab ini masih mengisahkan cerita dari Arafka.
Sore menjelang, ketika Rayyan Ali Fattan memilih duduk sendiri di teras bangunan Madrasah Aliyah unggulan Alhasyimi yang berhadapan dengan teras masjid raya samping kanan. Halaman yang luas dengan dua pohon besar di tengahnya, menjadi pembatas antara dua bangunan paling fenomenal di Alhasyimi. Sore begini, ditambah lagi hari libur, gedung sekolah ini cenderung sepi. Hanya sesekali terlihat beberapa orang berlalu lalang hendak berziarah ke makam para kyai sepuh. Para peziarah itu ada yang dari kalangan wali santri, mau pun simpatisan.
Sebagaimana mereka,
Pemuda tampan itu juga baru saja melakukan ziarah ke makam Almarhum Almaghfur lahum, para masyayikh Alhasyimi yang terletak di halaman belakang masjid, sesuai sholat ashar berjamaah tadi.
21 kali bacaan surah Yasin ia lantunkan tadi di hadapan pusara kyai Hasyim, dan kyai Umar Hasyim--pendiri dan pengasuh Alhasyimi satu dan dua--kendati demikian tak mampu membabat habis kerisauan yang telah melanda, walau hanya sedikit saja.
Sejak dua hari belakangan ini, kegelisahan berpalun risau telah memeluk jiwanya dengan erat hingga sekarang. Apa pun yang coba dilakukan tak mampu melepas pelukan erat rasa yang telah mencampakkannya dalam kegelisahan nan tak bertepian.
Tak pernah ia duga sebelumnya, harapannya untuk bisa mempersunting gadis yang dicintainya itu akan kandas begitu saja. Niatnya untuk memberi kejutan pada gadis itu, dengan kedatangannya ke Alhasyimi--setelah ia mendapat tugas untuk mendampingi gurunya yang akan memberi kuliah umum di sana--dengan tanpa mengabari Meidina lebih dulu, ternyata malah ia yang mendapat kejutan yang tak terduga dari gadis ayu itu.
Sebuah kejutan yang tak pernah disangka, kalau gadis impiannya itu akan segera menikah. Lebih terkejut lagi ketika tadi siang ia baru dapat tahu dari kyai Mushtofa Tamimi, tentang siapa sebenarnya calon suami Meidina Shafa.
Ini pasti teguran dari Allah untukku. Karena aku telah bersikap tidak adil pada seorang gadis yang diinginkan oleh keluargaku untuk menjadi pendamping hidupku, dimana rupanya ia menyimpan perasaan istimewa untukku. Ya Allah.
Berkali-kali pikiran itu hinggap dalam benak, yang membuat Ra Fattan berkali-kali menarik napas seraya menggemakan asma Tuhan. Dan sesaat kemudian, dua wajah wanita secara bergantian menari-nari di cermin matanya. Wajah ayu Meidina Shafa dan wajah manis Kanza Davina.
Ya Allah, berikan hamba petunjuk, jalan apa yang harus hamba tempuh. Dan berikan hamba kekuatan, untuk bisa mengikuti petunjukMu itu.
Rintih pemuda itu berkali-kali di dasar hati.
Tiba-tiba saja.
"Assalamualaikum."
Seorang pemuda berwajah tampan rupawan sudah berdiri tak jauh di depannya. Rayyan Ali Fattan kaget, namun segera ia menjawab salam dari pemuda itu seraya berdiri.
__ADS_1
"Waalaikumsalam warahmatullah."
"Mas Rayyan Ali Fattan ya?" Pemuda tampan itu bertanya lembut seraya tersenyum ramah.
"Iya, benar," jawab Ra Fattan dengan ramah pula.
"Saya, Irfan Arafka Wafdan." Pemuda itu mengulurkan tangannya.
"Ooh." Keduanya pun bersalaman, sama-sama saling menunjukkan kesopanan.
Siapa yang tak kenal nama ini. Rayyan Ali Fattan pun mendengarnya. Pemilik nama itu adalah seorang gitaris melodi Albadar yang kepiawaiannya bermain gitar juga membuat Rayyan Ali Fattan merasa kagum. Meski sudah hampir dua tahun berada di Al-azhar, tapi Fattan tak pernah absen untuk selalu mengupdate kabar terkini tentang Alhasyimi. Di antaranya tentang grup shalawat besutan pesantren itu, Albadar. Dan ia juga tahu betapa banyak santri putri Alhasyimi bahkan termasuk putri-putri kyai yang jatuh terpesona pada pemuda tampan yang ada di depannya saat ini.
"Boleh saya duduk, Mas?"
"Oya, silakan, Dik," sahut Fattan segera. "Kebetulan saya memang sendirian dari tadi. Pasti menyenangkan bisa dapat teman ngobrol, seorang gitaris terkenal," lanjut Ra Fattan yang diselingi bercanda.
"Mas Fattan bisa saja."
Arafka sendiri juga terlihat menikmati obrolan yang ada. Ia tidak terburu hendak sampai pada maksud yang sebenarnya. Pemuda tampan itu percaya tentang adanya proses yang wajib ada. Dan pada saatnya juga akan tiba jua ke tujuan yang dimaksudkannya.
Pembicaraan yang terus mengalir santai itu akhirnya tiba pada masalah Fans. Fans Albadar baik yang dari kalangan santri Alhasyimi, mau pun yang dari luar. Tak luput pula, perihal fans dari Arafka Wafdan, yang belakangan ini banyak diberitakan.
"Hanya ada satu jalan, Dek Rafka untuk menghindari kejaran para Fans itu," usul Ra Fattan. Setelah sebelumnya sempat tergelak, kala mendengar cerita tingkah polah fans Arafka yang ingin mendapatkan perhatian dari pemuda tampan itu.
"Apa itu, Mas Fattan?"
"Mungkin mereka akan berhenti bila, Dek Rafka sudah punya istri, atau calon istri," ujar Ra Fattan seraya diiringi senyuman.
"Jadi hanya dengan itu ya, Mas." Arafka pun ikut tersenyum.
__ADS_1
"Rasanya, Iya. Gimana, Dek, apa sudah ada? Atau setidak-tidaknya sudah ada rencana ke,arah sana?" tanya Ra Fattan lebih lanjut.
"Iya. Sekarang, saya memang sudah bertunangan, Mas Fattan."
"Oh Alhamdulillah," seloroh Rayyan Ali Fattan. "Sudah lama?" tanya pemuda tampan itu lebih lanjut.
"Baru beberapa hari yang lalu."
"Masih baru. Para fansnya mungkin belum dengar ya, Dek berita itu?"
"Kurang tahu, Mas." Arafka tersenyum. Baginya saat itu, tak penting para fansnya--kalau sudah memenuhi syarat untuk bisa disebut fans--itu tahu atau tidak, perihal dirinya yang sudah punya calon istri.
"Dari Alhasyimi juga?" Ra Fattan kelihatannya mulai penasaran.
"Sedang belajar di Alhasyimi. Dan dia berasal dari Jember. Mas Fattan mungkin juga kenal." Arafka memberikan jawaban yang cukup lengkap, yang seharusnya bisa mengobati rasa penasaran Ra Fattan. Tapi, mendengar hal itu, pemuda tampan di depannya itu malah terlihat semakin bertambah penasaran lagi. Ibarat seseorang yang sedang merasa dahaga, setelah diberi minum air, malah semakin kehausan.
Hal itu terlihat dari cara bertanya, dan cara Ra Fattan menatap Rafka. "Benarkah, siapa, Dek?" Dan entah kenapa, perasaannya begitu berdesir, denyut jantungnya menunjukkan aktivitas yang tak biasa. Selayaknya seorang yang akan mendapatkan kejutan cinta. Benarkah?
"Namanya Meidina Shafa," sahut Arafka dengan sangat jelas.
Mendengar nama itu yang disebutkan oleh Arafka sebagai nama tunangannya, Rayyan Ali Fattan, terlihat tak mampu untuk menyembunyikan keterkejutannya. Bahkan dari ekspresi yang terlihat di wajahnya, seakan waktu saat itu berhenti. Sebelum kemudian, Ra Fattan berdiri dari posisi duduknya yang santai. Tatapannya memindai terarah pada Arafka dari atas hingga ke bawah.
Deskripsi tentang seorang Arafka pun tercetak dalam penilaiannya.
Wajah yang tampan, bersih bersinar, tatap mata yang hidup dari sepasang telaga yang bening. Cara berdirinya, cara menyapa, cara bersikapnya yang tenang, cara bertutur yang ramah. Semua itu menampakkan keelokan budi pekerti yang tinggi. Kewibawaan yang tak terbantah, dan keindahan yang tak ternafikan keberadaannya.
Selesai dengan semua kekagetannya, Ra Fattan kembali bersalaman dengan Arafka dengan bahasa tubuh yang lebih sopan dari sebelumnya.
"Jennengan adalah Mas Rafka, putra bungsu syaikhona." Ra Fattan mengucapkan itu dengan kepala menunduk, menunjukkan rasa ta'dziem.
__ADS_1
"Dari mana, Mas Fattan tau hal itu?" Arafka bertanya heran. Karena memang pada waktu itu, yang tahu identitas yang sebenarnya hanya keluarga masyayikh saja. Sedangkan yang lain, tak ada yang tahu kalau Rafka itu sebenarnya adalah putra bungsu syaikhona. Karenanya ia sangat heran, ketika Ra Fattan malah mengenali siapa dia yang sebenarnya.
"Dari kyai Mushtofa Tamimi, tadi siang tanpa sengaja," sahut Rayyan Ali Fattan.