
Malam yang cerah, bulan naik sepenggalah. Desir angin bertiup ramah, menyapa sang dara yang sedang berpalun resah.
Zaskia Arifa terpaku. Sekian waktu ia lewati dengan diam membisu. Berbagai pertanyaan hanya seakan membentur dinding batu, lalu membeku.
Keresahan tetap tak terjawab.
Kegalauan, kian erat mendekap. Berkalipun ia menarik napas, kenyamanan rasa tetap tak didapat. Dan tak sepenuhnya mengerti apa yang menjadi sebab.
Semua itu bermula, sejak sepasang matanya melihat Irfan Arafka Wafdan yang baru keluar dari rumahnya dengan langkah bergegas, dan lalu pergi. Sejak itulah, rasa resah yang tak ia mengerti, merajai hati, dan enggan permisi.
Zaskia baru tahu, kalau ternyata abahnya sudah datang dari Darul-Ulum menjelang Maghrib, bersama Syaikhona. Beliau berdua langsung memanggil Arafka ke kediaman kyai Fadholi.
Pembicaraan dengan pemuda tampan itu tidak berlangsung di ruang tamu, tapi di tempat yang lebih pribadi, dan dengan jeda waktu yang cukup lama. Sekitar satu jam kemudian, barulah pemuda itu pergi, setelah sempat mengantar pengasuh besar ke mobil yang akan membawa beliau kembali ke kediaman di Al-Hasyimi pusat.
Zaskia yang melihat semua itu, tak mampu berpikir kalau itu adalah hal yang biasa. Pasti ada sesuatu dari semuanya. Tapi, apa? Zaskia juga tak bisa menebaknya. Dan ia juga tak mampu menepis rasa penasaran yang menguasai perasaan. Hingga timbul niatnya untuk bertanya pada sang ummi, mungkin beliau mengetahui. Tapi, gadis itu merasa tidak enak hati.
Bahkan ia juga sampai ingin bertanya langsung pada abanya, tapi ia tak berani. Dan tak hanya sampai di situ, ia juga terbersit pikiran untuk bertanya langsung pada Arafka sendiri. Tapi, logiskah hal itu? Bahkan seperti tidak etis. Akhirnya gadis itu hanya diam dengan pikirannya sendiri. Dan membuat kemungkinan-kemungkinan dalam pikiran itu.
Dan parahnya, salah satu kemungkinan yang ia buat, kalau kyai Fadholi bersama Syaikhona memanggil Arafka, adalah untuk meminta pemuda tampan tersebut melamar Zaskia. Tapi, Ah. Imbas di perasaannya akibat dari dugaan tersebut, justru adalah ketidaknyamanan, bukan kebahagiaan.
Lalu, ada apa ini? Mengapa aku begitu terganggu karenanya?
Batin Zaskia kian berkecamuk. Bahkan di ujung ketidakberdyaan rasa, air mata gadis itu pun luruh sudah. Buliran bening bak kristal mengkilap, mengalir membasahi wajah cantiknya. Membuat pesona indah tersendiri pada wajah cantik seorang Zaskia Arifa.
Meski sangat ingin memandangi pesona tersebut lebih lama. Namun, rasa tak tega karena melihat Zaskia menangis, itu mengalahi keinginannya. Karena itu, Azmi segera menyapa, dalam jarak beberapa langkah dari tempatnya berdiri saat ini.
"Ning Zaskia."
"Ee Mas Azmi." Zaskia cukup kaget, melihat mahkluk tampan itu telah berdiri tak jauh darinya. Padahal cukup lama Azmi memerhatikan Zaskia dari kejauhan. Kala pemuda tampan itu melintas hendak keluar dari gerbang studio alam Al-Badar.
"Sudah malam, Ning. Sebaiknya kau masuk saja," kata Azmi mengingatkan. Ia tahu betul kalau putri kyai Fadholi itu duduk di sana. Dari sejak Azmi masuk ke kawasan ini sekitar satu setengah jam lalu, hingga saat ini.
"Iya, Mas. Terima kasis," sahut zaskia dengan menundukkan pandangan.
"Banyak berdoa saja, Ning. Karena tak satupun dari doa-doa tulus hamba-Nya yang tak akan Didengarkan," saran Azmi dengan rasa tulus dari dalam hati.
__ADS_1
Zaskia tersentak dengan ucapan itu, ia segera melayangkan tatap pada pemilik suara indah vocalis Al Badar itu. Ditatap demikian, Azmi tersenyum lembut. Zaskia mengangguk singkat dan segera masuk ke dalam wisma. Bagaimana pun apa yang dikatakan oleh Azmi itu memang benar. Tak ada guna tenggelam dalam permainan pikiran yang tak menemukan muara, karena hanya akan terhanyut dalam syakwa sangka, yang patut dipertanyakan kebenarannya. Lebih baik berpasrah, atas segala hal yang berada di luar kemampuan kita. Karena hanya Dia Yang Maha Mengetahui segalanya.
Dan kata pasrah itu pula yang didapat oleh Meidina Shafabdalam sebentuk pesan teks yang dikirimkan oleh Ra Fattan.
Serahkan semuanya pada Allah.
Raih tidurmu dengan nyaman. Percayalah! Allah tak akan pernah lalai menjaga dan melindungimu.
Meidina yang sudah puluhan kali hanya mampu hadap kanan, hadap kiri, karena lelap yang enggan mengunjungi, sejak hampir dua jam yang lalu. Gadis itu segera terlonjak duduk, dan mengulang-ulang membaca pesan di ponselnya tersebut.
"Ra Fattan." Nama itu ia gemakan pelan. Pelan dan hampir tak kedengaran.
Hanya sekedar pesan singkat. Yang diterima dalam sekejap, bisa dibaca dengan cepat, tapi mampu mendongkrak semangat. Semangat Meidina yang mulai diam di tempat, dan enggan beranjak.
Pesan singkat dari Ra Fattan, seakan menjadi tenaga penggerak maha Dahsyat yang menghasilkan daya yang sangat kuat.
Meidina bangkit dari rasa lelahnya, bangkit dari rasa risaunya. Ia putuskan berhenti untuk berperang dengan pikirannya sendiri. Ia putuskan untuk menghadapi segala apa yang akan terjadi di hari ini. Hari terakhir lomba, yang akan menghasilkan pemenangnya nanti. Ia hadapi dan ia jalani dengan pasti. Semua semangat itu didapati, dari dukungan kekasih hati.
Ah. Author nya Jadi merasa iri.
🥀🥀🥀🥀
"Bagaimana kita akan bertemu dengan mbak Meidina kalau kayak gini," keluh Zaskia pada akhirnya. Karena panggung kehormatan itu, dimana akan dibacakan pengumuman pemenang lomba dari sana, masih sangat jauh dari posisi mereka saat ini. Ketiganya--Nabila, Davina dan Zaskia--saling pandang sembari menghela napas.
"Assalamualaikum." Tiba-tiba saja ada orang yang menyapa mereka dengan salam.
"Mas Widad?" Nabila kaget campur senang, menyadari ustadz yang sekaligus calon suaminya itu ada di sana. Sedangkan Davina dan Zaskia hanya bisa saling pandang dan saling senyum.
"Ke arah sana," tunjuk ustadz widad ke satu arah. "Di sana masih ada tempat yang kosong," katanya menjelaskan.
"Kami ingin bertemu dengan Meidina," kata Davina .
"Meidina duduk di kursi deretan peserta. Dan belum bisa ditemui. Tapi dari sana, kalian bisa melihat jelas ke podium," terang ustadz Widad, seraya menatap pada jam tangannya. Ia terlihat sangat terburu-buru, karena memang pemuda itu menjadi salah satu panitia di lomba prestasi ini. Namun masih menyempatkan waktu untuk bicara dengan ketiga gadis ini. Pasti karena salah satu dari mereka ada calon istri, yang sudah dikhitbahnya seminggu yang lalu.
Dan benar saja seperti apa yang dikatakan oleh ustadz Widad, kakau dari tempat yang mereka tempati sekarang, panggung kehormatan berada cukup dekat, dan terlihat sangat jelas.
__ADS_1
Malam ini, setelah isya' di Alhasyimi pusat, digelar acara penutupan lomba prestasi sekaligus pengumuman pemenang. Dan dilanjutkan dengan pembukaan kuliah umum yang akan diadakan esok harinya.
Selanjutnya, setelah beberapa jenak mereka mengikuti jalannya acara.
Madina Shafa, siswi tingkat 3 kulliyatul Muallimin.
Madina Shafa ...
Madina Shafa ...
Suara pengumuman itu membahana di semua penjuru. Di mana, terdapat pengeras suara di masing-masing arah itu. Pengumuman juara umum lomba prestasi yang ternyata diraih oleh Madina Shafa.
Semua dibuat terpana dengan terpilihnya gadis ayu itu sebagai sang juara. Nabila dan kedua rekannya juga saling pandang, lalu sedetik kemudian saling senyum, dan berakhir dengan saling berpelukan. Mereka turut merasakan senang dan bahagia buat Meidina Shafa.
Sedangkan sang empunya nama sendiri, saat namanya disebut sebagi juara, gadis ayu itu diam terpaku, bagai tak mendengar suara hingar bingar apa-apa, kecuali suara pengumuman yang menyebutkan namanya. Tapi, Meidina tetap diam seakan tak percaya. Hingga dua orang rekannya maju ke arahnya dan membimbing gadis itu unuk naik ke panggung kehormatan, guna menerima penghargaan.
Anggun sekali Meidina Shafa berdiri di sana. Di atas panggung kehormatan dan menerima penghargaan langsung dari syaikhona pengasuh besar Al-Hasyimi. Puluhan cahaya kamera terarah pada sang juara. Ratusan sanjungan juga dialamatkan kepada Meidina Shafa. Pun dengan tatap mata kekaguman, hampir semuanya tertuju pada sang pemenang.
Zaskia juga sibuk mengabadikan peristiwa bersejarah itu dengan kamera phone nya. Sedangkan Davina, gadis manis itu tak hentinya mengulum senyum seraya menatap ke arah panggung. Dan di detik berikutnya, netra Davina terlihat berkaca-kaca.
"Ra Fattan, jika ajunan saat ini ada di sini. Menyaksikan Meidina menerima penghargaan dan mendapatkan gelar sebagai juara, ajunan pasti akan sangat merasa senang dan bangga." Davina berkata sangat lirih sambil mengulum senyuman. Dalam hati tiada henti melantunkan syukur atas semua pencapaian yang sudah didapatkan oleh sahabatnya itu malam ini.
"Semoga kalian bahagia," lanjut Davina masih dengan suara yang lirih. Lirih, karena ucapan itu hanya ditujukan untuk dirinya saja. Namun, nyatanya, Nabila mendengar semuanya. Terbukti dengan gadis itu mengucapkan kata amin sambil menepuk pundak Davina.
"Kenapa, Davina? Kenapa sampai menangis?" Nabila menatap lekat wajah Davina yang berurai air mata.
"Aku sangat bahagia untuk Meidina. Dan ini, adalah doa yang tulus dariku untuk sahabatku dan orang yang aku sayangi," sahut Davina sambil mengusap air mata.
"Maksudmu?" tanya Nabila heran.
"Meidina Shafa dan Ra Fattan," sahut Davina.
"Iya, aku paham. Yang kau sebut sahabat itu adalah Meidina Shafa. Dan aku juga turut berbahagia untuknya. Lalu, yang kau sebut 'orang yang kusayang' itu, apa maksudnya itu Ra Fattan?"
"Ee." Davina jadi tercekat. Sepertinya ia baru sadar kalau telah kelepasan ucap, hingga membuatnya jadi tergagap.
__ADS_1
"Mak-maksudku, begini, iya ... Ra Fattan itu sejak kecil kan memang bersamaku sebagai teman main. Di samping kami masih ada hubungan kekerabatan. Jadi yang ku maksud sayang, ya, hanya sebatas itu," terang Davina.
"Oh gitu." Hanya demikian tanggapan dari Nabila sembari menatap lekat wajah manis Davina yang terlihat menghindari tatapannya.